Mantan Navy Seal Sebut Perang Afghanistan , Amerika Butuh Strategi Baru

 

Matamatanews.com, WASHINGTON – Mantan anggota pasukan elit marinir AS Navy SEAL yang mengklaim telah membunuh Usamah bin Ladin dalam sebuah operasi militer tahun 2011 mengatakan bahwa militer AS perlu sebuah strategi baru di Afghanistan.

Sejak AS membunuh Usamah bin Ladin dalam perburuan panjang selama lebih dari satu dekade, Washington masih harus menghadapi perang yang menjadi perang paling panjang dalam sejarah negara itu.

“Ini merupakan pertanyaan yang sulit,” kata Robert J. O’Neill menjawab pertanyaan introgatif wartawan Herald mengenahi Perang Afghanistan. Pada hari Ahad (19/05) lalu, O’Neill menghadiri sebuah acara para veteran di Malden negara bagian Massachusetts.

Menurutnya, “Tentu saja sangat penting kita mencoba untuk mengalahkan ideologi radikal yang sedang kita hadapi tersebut.”

“Setelah terlibat dalam banyak pertempuran, Rob O’Neill yang kini berusia 43 tahun tidak lagi ingin berperang sebagaimana Rob O’Neill dahulu ketika masih usia 27 tahun,” katanya.

“Ada banyak hal di luar sana (Afghanistan) yang tidak bisa diselesaikan dengan peluru dan bom. Saya berharap semoga ada cara yang lebih baik.”

Sejumlah komentar dan pernyataan O’Neill di event pawai motor para veteran Amerika yang mengalami cacat/cidera itu muncul ke publik menyusul serangan mematikan Taliban di Kabul pekan lalu. Dalam insiden serangan tersebut, pejuang-pejuang Taliban menyerbu perusahaan kontraktor Amerika yang menewaskan 9 pekerja asing dan melukai 20 orang lainnya.

Sejak enam bulan terakhir, pejabat-pejabat dan utusan resmi Washington bertemu dengan sejumlah diplomat Taliban dalam rangka negosiasi damai dan menarik mundur pasukan AS dari Afghanistan. Tetapi serangkaian putaran pertemuan tersebut nampaknya belum berhasil mencapai suatu kesepakatan. Di bulan April lalu, Trump bahkan menyebut perang di Afghanistan sebagai hal yang “tragis” dan “konyol”.

Beberapa kandidat presiden Partai Demokrat juga menyerukan diakhirinya keterlibatan AS dalam konflik di Afghanistan. Lebih lanjut O’Neill menyebut faktor pendidikan sebagai sebuah kunci dalam menerapkan strategi di Afghanistan.

“Tentu saja penting kita mencoba untuk menghantam ideologi tersebut, tetapi ini juga penting untuk mencoba mengedukasi orang,” katanya.

“Kita tidak bisa serta merta memberitahu anak-anak untuk membenci mereka. Penting untuk kita berada di sana, tetapi kita juga perlu mengembangkan mereka (anak-anak) untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia.”

Meskipun operasi militer yang menewaskan Usamah Bin Ladin terjadi pada tahun 2011, dugaan bahwa O’Neill merupakan orang yang secara langsung membunuh Bin Ladin baru diumumkan pada tahun 2014. Sebelum ikut terlibat langsung dalam operasi militer di Abbottabad-Pakistan tersebut, O’Neill berobsesi ingin mengabdi selama 30 tahun di Angkatan Laut.

Namun semuanya berubah setelah ia diklaim berhasil membunuh tokoh penting jihadis, Usamah bin Ladin. Inilah titik balik kehidupan mantan anggota pasukan elit AS yang sudah tidak lagi memiliki semangat tempur justru ketika berada dipuncak capaiannya di dunia militer.

“Lima belas detik setelah saya menembak Usamah bin Ladin, salah satu kawan saya bertanya apakah saya baik-baik saja,” kata O’Neill mengenang peristiwa itu. “Yeah.., kita ngapain sekarang?” tanyanya
retoris.

“Kamu baru saja membunuh Usamah bin Ladin. Hidupmu telah berubah. Sekarang, mari kita lanjut bekerja,” kata temannya. Dan sekarang saat berada di event para veteran itu, O’Neill mengatakan ia ingin membantu orang-orang yang mengalami cacat maupun luka-luka akibat perang, atau mereka yang telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai akibat perang dan juga korban 11/9. (cam/boston herald/kiblat)

 

 

sam

No comment

Leave a Response