Mantan Agen CIA dan Diplomat AS Dipenjara Diluar Negeri

 

Matamatanews.com, AS – Mantan agen CIA, Sabrina De Sousa dihukum atas penculikan Abu Omar pelaku teror perang dimasa pemerintahan Presiden George W. Bush. Pengacara De Sousa mengatakan, “Dengan dideportasi ke Italia, mungkin Sousa tidak harus menjalani hukuman empat tahun lamanya. Mengingat kasus yang menerpa pilot AS, yang diampuni pada tahun 2013 silam oleh Presiden Italia, Giorgio Napolatino. Melihat hubungan dekat antara Italia dengan Amerika Serikat, dan memiliki tujuan yang sama dalam mempromosikan demokrasi dan keamanan,” katanya.

Sousa merupakan satu dari 26 warga AS yang dihukum di absentia oleh pengadilan Italia, dengan tuduhan penculikan atas Abu Omar tahun 2003 silam saat menyusuri jalan di Milan (Italia), yang kemudian diterbangkan ke Mesir untuk di siksa. Namun, Sousa membantah terlibat dalam penculikan itu, setelah menempuh jalur hukum selama dua tahun, pihak pengadilan Portugis menolak permintaannya untuk tinggal ekstradisi.

Sousa yang lahir di India memiliki kewarganegaraan ganda, yakni Portugis dan AS, dirinya ditangkap oleh pihak kepolisian di Lisbon. Sementara itu pengacaranya mengatakan bahwa, saat ini Sousa berada didalam penjara dan diharapkan deportasi Sousa dapat dilaksanakan dalam beberapa hari mendatang.

Penculikan dan penyiksaan merupakan kasus tertinggi dan program ilegal di AS, yang dibuat oleh pemerintahan Bush. Program itu dimulai dengan serangan 11 September di New York. Didalam program ilegal tersebut, banyak pemerintah berkolusi denga AS untuk menculik ratusan orang dan menyiksanya. Program ilegal itu dijalankan di dalam CIA-run “Black sites”, Guantanamo Bay, Mesir dan Suriah.

Dalam wawancara sebelumnya, Sousa sendiri mengakui bahwa penculikan dan penyiksaan adalah program ilegal yang dibuat AS. Dirinya mengatakan hal itu karena merasa ditinggalkan oleh pemerintahnya yang berupaya melindungi orang-orang yang merancang program ilegal tersebut.

"Jelas, kita melanggar hukum dan kita harus membayar kesalahan itu, siapa yang berwenang dan menyetujui program ini," katanya kepada ABC. "Pemerintah AS tidak akan melakukan intervensi, karena mereka tidak ingin aku melibatkan orang lain seperti yang saya coba lakukan untuk melawan tuduhan terhadap saya."

Dimasa pemerintahan Presiden Barack Obama, program ilegal yang syarat dengan kejahatan terhadap manusia dibawah pedoman PBB resmi diakhiri. Namun saat ini Presiden AS, Donald Trump mengisyaratkan untuk manjalankan program tersebut. Dan baru-baru ini, direktur salah satu pusat penyiksaan ilegal ditunjuk sebagai Deputi Direktur CIA. [Did/Telusurtv/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response