Letusan Kawah Sileri Dieng Menurut Pengamatan Ahli Geologi Panasbumi

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Gunung Dieng di Jawa Tengah adalah kompleks gunung api dengan aktivitas tersebar pada 16 kawah. Pemantauan yang dilakukan PVMBG pada 2 kawah yang paling aktif yaitu Kawah Sileri dan Kawah Timbang. Pada Kamis (29042021) malam terjadi aktivitas pada Kawah Sileri. 

"Saat ini PVMBG menghimbau wisatawan dan masyarakat tidak mendekati Kawah Sileri," ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum kepada Matamatanews.com.

Sementara Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed Sachrul Iswahyudi,ST.,MT. menjelaskan bahwa Kawah Sileri yang terletak di kawasan volkanik Dieng kembali mengalami letusan tanggal 29 April 2021. Letusan ini menurutnya, melontarkan batuan dan lumpur dan diduga sebagai letusan freatik, dan tidak menimbulkan kerusakan dan korban yang signifikan. Status Kawah Sileri pun saat ini kembali normal.

Sachrul Iswahyudi yang saat ini sedang menempuh studi lanjut  S3 memaparkan bahwa kawasan volkanik Dieng merupakan salah satu yang terpantau baik karena adanya pos pengamatan gunung api di sana. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan bahwa erupsi yang terjadi pada 29042021 tersebut merupakan erupsi freatik. Secara umum letusan freatik sering terjadi tanpa adanya indikasi awal yang cukup. Karena itu seringkali banyak yang tidak siap menghadapi tipe erupsi atau letusan seperti ini.

Ahli Geokimia dan Geologi Panasbumi dari Fakultas Teknik Unsoed ini mengatakan bahwa tidak seperti letusan freatik, letusan gunungapi (magmatik), biasanya ditandai oleh beberapa indikasi awal yang signifikan, terutama mendekati saat-saat erupsi, seperti getaran gempa yang semakin meningkat, komposisi gas-gas volkanik yang semakin tinggi, temperatur yang semakin tinggi pada mata air, dan lain-lain. 

"Magma yang naik dan bergerak biasanya menimbulkan sinyal pada sistem pemantauan. Tapi hal tersebut sering tidak terjadi pada erupsi (letusan) freatik karena memang tidak ada magma yang terlibat selain hanya memanasi air di bawah permukaan," terangnya.

Sachrul menjelaskan bahwa dari fenomena letusan freatik Kawah Sileri atau tempat lain, dapat dikatakan bahwa, letusan (erupsi) gunungapi juga dapat terjadi tanpa adanya magma yang naik ke permukaan. Keberadaan akuifer-akuifer air tanah yang terpanaskan oleh magma pada sistem volkanik juga dapat menyebabkan erupsi sewaktu-waktu. 

"Saat air dalam jumlah besar berubah fase manjadi uap karena pemanasan oleh magma secara bersamaan, lama kelamaan akan bertambah volume dan menimbulkan tekanan pada akuifer dan lapisan batuan penutup. Saat batuan-batuan tersebut tidak bisa lagi menahan tekanan, maka akan terjadi letusan yang akan melontarkan material-material yang ada di sekitarnya barcampur air panas atau lumpur," jelasnya.

Alumni S2 Teknik Geologi ITB Bandung ini mengungkapkan bahwa kawasan gunung api yang memiliki sumber panas (magma) dan pola aliran air tertentu berpotensi menghasilkan erupsi-erupsi hidrotermal atau freatik lain. Ketika air berubah menjadi uap (karena terpanaskan) di bawah permukaan, akan menurunkan tekanan, selanjutnya akan meningkatkan temperatur dan menguapkan air sisa secara tiba-tiba dan pada akhirnya juga akan menimbulkan erupsi juga.

"Ada hikmah dari peristiwa letusan freatik Kawah Sileri bahwa, kawasan volkanik atau gunungapi yang tampaknya tidak aktif dan membahayakan dapat tiba-tiba mengalami letusan tanpa adanya peringatan sebelumnya. Sekalipun letusan freatik pada umumnya kurang signifikan, bencana ini bisa menimbulkan ancaman serius karena ketidaksiapan masyarakat. Dengan demikian, upaya-upaya mitigasi, pemantauan dan penelitian harus terus dilakukan demi mengurangi resiko," pungkasnya. (hen)

redaksi

No comment

Leave a Response