Kriminalisasi Profesi Ibarat Melawan Arogansi Penguasa Lokal

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Sebuah kenyataan pahit harus jujur kita ungkapkan, bahwa Indonesia telah menjadi ladang empuk bagi pelaku tindak pidana korupsi,pencucian uang dan penyuapan.

Empuk, karena mereka bisa seenaknya mempergunakan akal bulusnya di area perbankan,instansi,departemen,bahkan institusi sekalipun yang disukai untuk dijadikan lahan pat gulipatnya.Suka atau tidak,harus diakui memang tampak ada peningkatan intensitas dalam proses penegakan hukum kasus-kasus korupsi,sebut saja seperti diseretnya sejumlah kepala daerah seperti gubernur,bupati dan anggota DPR-DPRD yang diduga masuk dalam pusaran kongkalikong .

Perburuan terhadap koruptor memang masih berjalan hingga sekarang,begitupun dengan kasus KKN,maupun kejahatan perbankan dan lainnya.Selain perkara korupsi dan KKN , kasus kriminalisasi atas profesi notaris masih menjadi keprihatinan banyak pihak,terutama kalangan pencinta kebenaran dan keadilan.Seperti diketahui jabatan notaris merupakan jabatan terhormat,tidak hanya diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris,namun sebagian tugas negara di bidang keperdataan dilimpahkan kepada Notaris sehingga notaris memiliki peran besar  bagi bangsa dan negara terutama dalam memberikan kepastian hukum.

Kini  dugaan kriminalisasi terhadap profesi notaris kembali terulang setelah notaris Theresia Pontoh yang sempat menghebohkan itu menggelar  unjuk rasa di depan  gedung Mahkamah Agung dan Istana Negara pada 2014 silam.Kasus  dugaan penggelapan terhadap notaris Elfita Achtar,SH, kelahiran Bukittinggi 2 November 1968, Sumatera Barat itu semakin menjadi sorotan banyak pihak.Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat,menuntut Elfita Achtar dengan hukuman 4 tahun penjara dalam kasus dugaan penggelapan empat sertifikat milik PT.Rahman Tamin.

“Menuntut  terdakwa Elfita Achtar dengan hukuman penjara selama 4 tahun dan diwajibkan mengembalikan sertifikat kepada korban,” kata Jaksa Mochamad Sochib pada,Jum’at (16/6/2017) lalu. Dalam pertimbangannnya, Jaksa menyebut,hal yang memberatkan terdakwa ia memberikan keterangan  yang berbelit-belit dan keberpihakan kepada pembeli Edi Yosfie serta menghalang-halangi pejabat dalam melaksanakan tugas.

“Semua tuduhan itu tidak benar, saya selalu kooperatif dalam segala hal, dan saya tidak pernah menghalang-halangi pejabat manapun untuk melaksanakan tugas.Bahkan ketika saya dikabarkan ditahan polisi,saya sendiri tidak tahu kalau tidak dikabari rekan-rekan seprofesi ,dan pemberitaan itu tidak benar. Dalam hal ini,melalui penasehat hukum saya akan melakukan banding  agar kasus ini transparan dan tidak terkesan dipaksakan,” jelas Elfita Achtar,SH kepada Matamatanews.com melalui telepon selular, Senin (26/6/2017).

Ditempat terpisah Kuasa Hukum Elfita Achtar ,Martry Gilang Rosadi,SH dari Raya Law Firm mengatakan bahwa kliennya tidak tepat dibidik dengan hukum acara pidana,karena konten dari kasus tersebut bermuara urusan perdata.”Kami akan melakukan banding dan perlawanan hukum sesuai ketentuan yang  berlaku dan setiap orang memiliki hak untuk melakukan pembelaan,” kata Martry,serius.

Dakwaan atas Elfita dengan sistem pembayaran bertahap seperti yang dituduhkan,tidak memiliki dasar dan terkesan mengada-ngada.Karena,kata Elfita pembayaran bertahap bukan inisiatif dan keinginan pribadinya.”Pembayaran bertahap itu merupakan hasil kesepakatan para pihak,bukan keinginan saya. Dan sebagai notaris  tugas saya hanya mencatat dan menjalankan profesi secara profesional bahkan orang-orang yang terlibat dalam proses transaksi tersebut menyatakan tidak ada masalah dengan pembayaran.Lalu mengapa saya dituduh telah melakukan penggelapan sertifikat tanah?” Kata Elfita,tak mengerti.

Dugaan kriminalisasi terhadap notaris Elfita Achtar,SH memang masih sebatas bisik-bisik, dan itu terjadi akibat kurang transparan dan profesional penanganan awal kasus tersebut ketika ditangani aparat kepolisian setempat.Produk hukum perdata yang seharusnya menjadi acuan dalam kasus Elfita Achtar dan bisa dituntaskan dimeja perundingan rupanya mandek dan beralih rupa menjadi pidana.Akibatnya rumor tak sedap pun berhembus,bahwa kasus tersebut memiliki banyak kepentingan di dalamnya.

“Memang belum sepenuhnya penegakan hukum itu berjalan sesuai keinginan masyarakat luas, tetapi setidaknya pemerintah sudah welcome dan membuka koridor hukum, bahwa siapa pun yang terlibat kasus korupsi dan merugikan negara harus berhadapan dengan hukum. Persoalan masih belum sepenuhnya orang-orang tertentu yang diduga melakukan praktik korupsi ke peradilan itu hanya soal waktu saja. Tapi saya percaya Indonesia sudah maksimal melakukan yang terbaik, untuk penegakan hukum. Dan itu butuh waktu, karena hukum butuh validitas,bukan hujatan.Apalagi bila seseorang yang dikriminalkan merupakan pejabat publik seperti notaris yang dilindungi undang-undang,sudah seharusnya pemerintah dan instansi terkait memprioritaskan untuk menangani perkara tersebut agar tidak menjadi gaduh,” jelas Dr.Reinhard Winston,pengajar salah satu perguruan tinggi di Inggris kepada Matamatanews.com, Senin (26/6/2017).

Perlahan tapi pasti dugaan rekayasa kriminalisasi terhadap notaris Elfita Achtar,semakin menemukan titik terang. Muncul kesan kuat perkara yang ditimpakan kepada Elfita itu dipaksakan.Dari sejumlah sumber  yang ditemui menilai bahwa kasus pidana yang menimpa notaris Elfita Achtar,SH  seharusnya cepat diselesaikan dan diprioritaskan penanganannya agar perkara ini tidak bergulir kesana-kemari.

Bila memang bersalah segara siapkan pembuktian yang kuat termasuk pernyataan dan hasil survey kelayakan dari berbagai instansi terutama yang berhubungan dengan hukum.”Ini menyangkut nasib orang dan profesi lho,kalau bersalah dan dibidik dengan pasal pidana harus dilengkapi dengan pembuktian yang kuat, bukan asumsi dan tangkap dulu,urusan belakangan. Dan bila notaris itu sudah tidak imun lagi dan dilindungi undang-undang ya harus dibuatkan pengukuhannya,jangan main bidik.Karena tersangka pun harus dipenuhi hak-haknya sebagai tersangka,” jelas Raihan Prayitna ,praktisi hukum urusan internasional.

Akankah kasus ini berakhir happy ending seperti yang diinginkan Elfita? Entahlah, yang jelas dia berharap kasusnya tidak dijadikan bulan-bulanan oleh segelintir pihak hanya demi kepentingan sesaat. (samar)

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response