Kontroversi Metode Brainwash Dokter Terawan

 

Matamatanews.com, JAKARTA -Dokter Terawan Agus Putranto, Sp.Rad, dalah Mantan Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Maju. Ia menerapkan metode “Cuci Otak atau Brainwash" kepada pasien stroke. Hal ini merupakan pengembangan dari metode Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk penyembuhan stroke.

Dilansir dari halaman m.kalcare.com, DSA adalah metode pemeriksaan kesehatan dengan menggunakan teknik "Fluoroscopy" yang bertujuan untuk memberikan gambaran dari dalam pembuluh darah, yang erat kaitannya dengan penyakit stroke.

Caranya yaitu dengan memasukkan "Kateter" melalui pembuluh darah yang nantinya akan dilakukan penyemprotan media kontras. Selanjutnya, mesin "X-Ray" akan menangkap gambaran di dalam pembuluh darah.

Dari definisinya, dapat disimpulkan bahwa, DSA adalah tindakan untuk mencari kebenaran dari diagnosis penyakit pada pembuluh darah. Terawan berhasrat memberikan terapi pada pasien dengan kelainan pembuluh darah pada otak. Untuk itu, ia melakukan metode DSA ditambah dengan penyemprotan "Heparin" ke dalam pembuluh darah.

Masih dari halaman m.kalcare.com, Heparin adalah obat "Antikoagulan" atau pengencer darah, maka setelah kateter dimasukkan ke pembuluh darah melalui pangkal paha yang menuju ke otak, pasien akan disemprot Heparin.

Pada awalnya, tindakan ini adalah hasil uji ilmiah untuk meneliti apakah ada efek setelah memasukan Heparin pada pasien "Stroke Iskemik Kronis". Penelitian ini ini ditulis oleh dokter Terawan sebagai disertasi program doktoral pada Universitas Hasanuddin, Makassar.

Memasukan Heparin ke dalam pembuluh darah bertujuan guna mencegah serta mengurangi resiko penggumpalan darah. Setelah itu, pembuluh darah otak akan diberikan alat tambahan untuk menunjang proses Brainwash.

Tindakan Brainwash ini bisa diselesaikan dalam waktu kurang lebih 30-40 menit (jika tidak terjadi komplikasi). Menurut dokter Terawan, metode ini dapat meningkatkan aliran darah dalam otak sebesar 20% dalam kurun waktu 73 hari.

Metode Brainwash memang sudah diterapkan olehnya di RSPAD Gatot Subroto. Namun, banyak rekan seprofesinya menganggap bahwa tindakan itu tidak benar. Menurut mereka, DSA bukanlah merupakan metode penyembuhan, tetapi hanyalah tindakan untuk mendiagnosis penyakit. Bahkan ia sempat dikeluarkan sementara dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) karena dianggap "Melanggar Kode Etik".

Ketika pemberitaan mengenai hukuman yang diberikan kepadanya santer diberitakan, tidak sedikit pula orang-orang yang memberikan dukungan, terutama para pasien yang merasa sudah disembuhkan dengan metode Brainwash ini.

Di balik pro dan kontra mengenai dokter Terawan, penanganan stroke memang tidak boleh diabaikan, sebab jika tidak serius ditangani, stroke dapat membuat pasien mati rasa pada wajah, kelemahan pada satu tangan, hingga kesulitan berbicara. (Javi) 

 

redaksi

No comment

Leave a Response