Konstruksi Rumah Sederhana Tahan Gempa

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Sebagai negara berpotensi rawan gempa bumi dan tsunami, kajian gempa bumi dan tsunami di Indonesia perlu didorong dengan tujuan mengurangi atau mencegah jatuhnya korban jiwa maupun kerusakan bangunan dan lingkungan. Di antaranya dengan menyebarluaskan informasi dan menerapkan standar bangunan tahan gempa bumi dan tsunami, terutama untuk bangunan publik dan bangunan vital. Selain itu melakukan audit bangunan yang diikuti dengan upaya memperkuat konstruksi bangunan agar benar-benar tahan terhadap gempa bumi dan tsunami.

Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengatakan bahwa awal tahun 2021 di Indonesia terjadi gempa bumi. Di antaranya gempa di Majene Sulawesi Barat terjadi pada hari Kamis dan Jumat (14-15 Januari),  gempa bumi mengguncang Samudra Hindia sebelah selatan Malang Sabtu (10/04) dan dua gempa yakni di Gunungkidul Yogyakarta dan di Sukabumi pada Selasa (27/04). 

"Gempa Sukabumi dirasakan hingga Bandung, Tanggerang, dan Jakarta. Gempa bumi yang mengguncang berbagai wilayah tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah penduduk. Oleh karena itu, perlu adanya informasi mengenai pembangunan rumah sederhana yang tahan terhadap gempa," kata Einstein.

Sementara Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Unsoed Arnie Widyaningrum,ST.,MT. menjelaskan bahwa Kontruksi Rumah Sederhana Tahan Gempa dilihat dari segi Perencanaan Konstruksi Bangunan nya. Untuk perencanaan tersebut kata Arnie mengacu standar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI.

Menurut anggota Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) ini ada  4 hal yang harus dipenuhi dalam pembuatan rumah sederhana tahan gempa yaitu kualitas bahan bangunan yang baik, keberadaan dan dimensi struktur yang sesuai, seluruh elemen struktur utama harus tersambung dengan baik, serta mutu pekerjaan yang baik.

"Kualitas bahan bangunan yang baik akan sangat menentukan dalam kualitas bangunan dan kemampuan bangunan dalam menahan gempa," katanya.

Arnie yang juga ahli Rekayasa Struktur dari Fakultas Teknik Unsoed memaparkan Kriteria Konstruksi Rumah Sederhana Tahan Gempa :

1. Proses Pembetonan

Sebagai contoh dalam proses pembetonan diperlukan kerikil, pasir, dan semen yang memenuhi syarat untuk mendapatkan kualitas beton yang cukup baik. Komposisi campuran beton yang baik untuk struktur bangunan sederhana terdiri dari campuran 1 ember semen, 2 ember pasir, 3 ember kerikil, dan air secukupnya yang dituangkan sedikit demi sedikit kedalam adukan sampai adukan “pulen”. Campuran ini biasa dikenal dengan campuran 1 : 2 : 3. 

Biasanya untuk melakukan uji workability (kekentalan) beton dilakukan dengan pengujian slump. Namun karena bangunan sederhana biasanya masyarakat tidak melakukan slump test.  Pengujian sederhana yang dapat dilakukan untuk mengetahui adukan beton “pulen” yang cukup memenuhi syarat kekentalan beton adalah dengan menggenggam adukan beton, kemudian dirasa jika adukan tersebut tidak terlalu encer dan juga tidak terlalu kental. 

Ukuran kerikil yang digunakan untuk campuran beton sebaiknya mempunyai diameter maksimum 20 mm dan memiliki banyak sudut agar kerikil bisa saling mengunci ketika beton mengeras. Semen yang digunakan adalah semen berkualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) yang tertulis pada bungkusnya. Pasir yang digunakan adalah pasir yang tidak mengandung banyak lumpur.

2. Plesteran

Seperti halnya dengan beton, dalam pembuatan adukan mortar semen untuk plesteran juga hendaknya memenuhi syarat minimal untuk komposisi campurannya, yaitu 1 ember semen ditambah dengan 4 ember pasir kemudian ditambahkan air secukupnya hingga adukan menjadi tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer (pulen).

3. Batu Pondasi

Untuk pondasi, batu yang digunakan adalah batu yang keras dan tidak mudah pecah. Jenis batu tersebut bisa diperoleh dari batu kali atau batu gunung yang dipecah. Dengan demikian batu tersebut memiliki banyak sudut dan diharapkan dapat saling mengikat dan mengunci ketika spesi adukan mortar untuk pondasi mengeras. Jangan memakai batu yang bulat dan batu yang tidak banyak sudutnya, karena akan mengurangi kekuatan pondasi.

4. Kayu

Pemilihan kayu juga tidak kalah pentingnya dalam pembuatan rumah yang lebih aman. Kayu harus mempunyai kualitas baik (minimal kelas 3) yang memiliki ciri-ciri secara umum berupa keras, kering, berwarna gelap, tidak ada retak, dan lurus.

5. Batu Bata

Batu bata adalah salah satu penentu kekuatan dinding. Gunakan hanya batu bata yang berbentuk persegi, mempunyai  pinggiran lurus dan tajam, tidak terlalu banyak retak, dan tidak pecah jika diinjak dengan beban orang normal atau dijatuhkan dengan ketinggian satu meter. Batu bata yang baik akan mempunyai suara yang berdenting jika dipukulkan satu sama lain.

6. Pondasi

Salah satu komponen struktur bangunan yang utama adalah pondasi, dimana pondasi berfungsi untuk mengurangi dampak goyangan akibat gempa pada bangunan dan meneruskan energi goyangan tersebut ke dalam tanah. Untuk lapisan tanah yang cukup keras dan stabil, maka dapat dibuat pondasi batu kali berbentuk trapesium dengan ukuran minimal lebar atas sebesar 30 cm, lebar bawah minimal 60 cm, dan kedalaman minimal 60 cm. 

Di bawah pondasi batu kali tersebut hendaknya diberi taburan pasir setebal 10 – 20 cm, dan di atas pasir tersebut dilapisi dengan batu kosong sebagai lapisan antara pondasi dengan tanah dasar. Ukuran untuk galian dan urugan pondasi batu kali tersebut adalah selebar kurang lebih 80 cm. 

Di atas sepanjang pondasi batu kali hendaknya diberi balok pengikat atau yang umum disebut dengan sloof yang mempunyai spesifikasi jarak antar tulangan sengkang (begel) maksimal sepanjang sekitar 15 cm, dengan tulangan utama berdiameter 10 mm dan tulangan sengkang berdiameter 8 mm dengan panjang tekukan minimal 5 cm serta  dibengkokkan sekitar 135 derajat. Ukuran penampang sloof minimal adalah lebar sekitar 15 cm dan tinggi sekitar 20 cm dengan ketebalan selimut beton sekitar 1.5 cm.

7. Kolom

Pembuatan kolom untuk bangunan rumah sederhana yang lebih aman dibuat dengan dimensi minimal 15 cm x 15 cm, dan ketentuan penulangan beton untuk kolom sama dengan ketentuan pada sloof.  Jarak antar kolom ideal maksimal 3 m,.

8. Balok Keliling

Agar rumah lebih aman terhadap goyangan, maka di atas tembok bata dipasang balok keliling atau yang biasa disebut dengan ring balok dengan ukuran minimal 12 cm x 15 cm. Ketentuan mengenai ring balok sama dengan ketentuan pada sloof.  Pastikan sambungan antara sloof, kolom, dan ring balok diberi lebihan tulangan (sambungan lewatan) dengan panjang 40 cm dan diberi tekukan pada ujungnya agar kuat. Kemudian pada sloof diberi angkur yang ditanam ke pondasi dengan panjang minimal 40 cm dan diberi tekukan juga pada ujungnya agar lebih kuat.

9. Stuktur Atap

Komponen struktur yang sangat penting lainnya adalah struktur atap. Struktur atap terdiri dari kuda-kuda kayu, gunungan, serta ikatan angin. Kuda-kuda harus dibuat dengan kayu berkualitas baik. Rangka kuda-kuda dapat menggunakan kayu dengan ukuran 8 x12 cm dengan alat penyambung berupa pelat baja tebal 4 mm dan lebar 40 mm, atau papan tebal 20 mm dan lebar 100 mm, serta baut minimal diameter 10 mm. 

Pertemuan antar kayu juga dibuatkan takikan agar struktur rangka lebih kuat. Gording menggunakan kayu dengan ukuran 6 x 12 cm dihubungkan dengan sistem sambungan yang kokoh.  Rangka kuda-kuda harus dikaitkan pada ring balok agar tidak bergeser, stabil, dan lebih kuat ketika terjadi goyangan. 

Gunungan terbuat dari tembok batu bata yang diplester, dan dibingkai dengan balok beton dengan spesifikasi sama dengan ring balok. Untuk meminimalisasi resiko akibat goyangan, maka gunungan juga dapat menggunakan papan atau gypsum karena lebih ringan dibandingkan dengan dinding bata. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response