Kian Hari Perdagangan Satwa Dilindungi Semakin Mengkhawatirkan

 

Matamatanews.com, JAKARTA – Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kasus perdagangan satwa lindungi di Indonesia mengalami peningkatan. Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Noor Rochmad mengatakan bahwa jumlah perkara kasus perdagangan satwa liar yang ditangani kejagung bertambah dua kali lipat yakni 12 kasus pada tahun 2014 menjadi 25 kasus pada tahun 2016.

Peningkatan ini terjadi karena kurangnya efek jera, meskipun aparat penegak hukum semakin gencar menindak perdagangan tersebut, namun hukuman yang dijatuhkan relatif ringan. Noor menjelaskan bahwa Undang-Undang tentang pencucian uang dapat diterapkan bila uang hasil kejahatan tersebut di tempatkan melalui rekening ataupun disamarkan untuk pembelian aset lain.

Kejagung melakukan kerjasama dengan LSM perlindungan satwa Wildlife Conservation Society dalam upaya melakukan peningkatan kapasitas jaksa. Kerjasama yang dilakukan berupa pelatihan bagi jaksa, dukungan informasi dan bantuan saksi ahli untuk mendukung pembuktian di pengadilan.

Program ini sendiri didanai oleh Bureau International Narcotics and Law Enforcement Affairs (INL) dari pemerintah Amerika Serikat.

Country director Noviar Andayani dari Wildlife Conservation Society (WCS) mengatakan selama ini jarang sekali para pelaku diberikan hukuman yang maksimal. Menurut Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem para pelaku dijerat dengan hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Menurut laporan WCS pada tahun 2015, nilai perdangan satwa ilegal di Indonesia mencapai sekitar US$ 1 miliar per tahun. Noviar menambahkan bahwa dari semua satwa yang diperdagangkan, hewan trenggiling menjadi satwa yang paling banyak diperdagangkan. Konsentrasi perdagangan trenggiling berasal dari wilayah Sumatera dan dikirim ke Cina melalui Malaysia dan Vietnam. (Atep/BBC/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response