Ketika Hukum Dipertaruhkan, Hanya Emosi, Ego dan Senjata Yang Dipamerkan

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Di penghujung tahun 2016 pada akhirnya membuat kita berkacadiri.Keributan,kekerasan,kebrutalan dan kerususuhan tanda paling nyata bahwa masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehatnya saat itu. Dan peristiwa akhir tahun 2016 itu kini  tampaknya terulang kembali, kini yang banyak dipamerkan ialah emosi dan senjata. Yang diagungkan ialah kehendak dan ego menang sendiri bahkan terkadang dengan cara membunuh!

Papua yang damai dan dihuni para manusia tanpa tekhnologi perang, rupanya bisa mencelakai nyawa aparat keamanan. Buktinya  Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Papua Brigjen I Gusti Putu Danny Nugraha Karya tewas ditembak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Kampung  Dambet, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, pada Minggu 24 April 2021 lalu.

Papua memang  daerah damai, tapi bukan berarti penegakan hukum harus dihentikan. Meski situasi Papua dilematis, hukum harus tetap ditegakkan dan pelaku penembakan Kabinda Papua maupun aparat keamanan lainya, baik TNI,Polri maupun warga sipil harus diusut tuntas.

Memang setiap kejadian,sekecil apa pun selalu menyimpan misterinya sendiri yang belum tentu akan pernah bisa kita kuakkan. Apa yang terjadi di Poso dan  Papua pun mungkin sekali tidak benar-benar kita ketahui apa dan bagaimana persis serta penyebabnya.

Memang tidak ada perkara atau masalah yang tidak mengundang keributan. Tetapi  hilangnya nyawa seorang Kabinda Papua di tangan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)  semakin membuktikan bahwa kekerasan, kebrutalan, dan kegaduhan masih bersemayam  di sebagian orang Papua terutama di Kampung atau pun Distrik yang selama ini belum menikmati kesejahteraan atau kucuran rezeki secara layak dari pusat.

Kalau boleh berterus terang, dalam banyak hal, kita semua bangsa Indonesia saat ini sedang dikepung oleh terlalu banyaknya  kejahatan, baik dalam sentuhan sehari-hari di lingkungan kecil pergaulan kita, maupun dalam skala besar kenegaraan.

Kini kita seakan sudah tidak kaget lagi oleh derasnya kriminalitas, hancurnya logika dalam politik dan birokrasi atau mentradisinya korupsi kolektif dan jamaah kolusi. Itu semua membengkak dan kian menumpuk dari hari ke hari,, sehingga kita tenggelam di dalamnya. Dan kini tampaknya kita tenggelam dalam habitat kejahatan dalam jangka waktu yang melampaui ambang kapasitas alamiah manusia dan masyarakat, membuat kita semakin tidak mampu memelihara objektifitas terhadap kadar kejahatan itu.

Sesungguhnya wajah masa depan negeri ini untuk sebagian sungguh ditentukan oleh kemampuan negara mengatasi persoalan besar yang kita hadapi hari ini. Kegagalan mengatasi persoalan hari ini akan membawa persoalan yang jauh lebih besar lagi di masa mendatang. Kini emosi publik semakin tercabik dan diaduk oleh sikap pemerintah dan politisi di DPR. Kini publik seolah dipaksakan dengan berbagai kegaduhan yang menggelikan, kekanak-kanakkan dan berlebihan seakan para petinggi hukum telah KO oleh akal bulus para garong uang negara dan cukong maupun pengusaha hitam.

Kini kita mengakui dijajah mafia korupsi, preman dan politisi busuk, tetapi pikiran dan konstruksi penegakkan hukum masih terpaku pada konstruksi prosedural.  Tidak terbilang sudah kita mempersoalkan buruknya penegakkan hukum dinegeri ini, namun rupanya kemampuan para Mafioso tanah,preman,politisi busuk, para cukong,makelar proyek serta koruptor menyumbat mulut aparatur yang rakus dan mati rasa dengan uang mengakibatkan krisis moralitas semakin berbahaya.

Kita menyadari memang tidak mudah pemerintah menyelesaikan konflik demi konflik atau kasus demi kasus yang ada. Karena memang tidak mudah menemukan formula pendekatan solusinya, akan tetapi komitmen aparat negara untuk membongkar aksi kekerasan,kerusuhan,konflik, korupsi,mafia tanah,atau pun mafia anggaran, terutama kasus gugurnya Kabinda Papua ditanganTentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang kini dinaikkan statusnya menjadi teroris, harus diapresiasi  dengan arif dan bijaksana  tanpa berlebihan.(Redaksi)

“Cita-cita bukanlah takdir, tapi sebuah penunjuk arah. Ia bukan perintah, tapi komitmen. Ia tak menentukan masa depan, melainkan wahana untuk menggerakkan sumber daya dan energi bagi usaha membangun masa depan.” – Peter F. Drucker

 

 

 

 

 

 

 

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response