Kenangan Para Alumni Unsoed Bersama Prof.Rubijanto

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Setiap orang mempunyai kisah dan kenangan terhadap masa lalu yang berisi kejadian kejadian yang sudah dilalui yang hingga kini masih membekas di hati. Demikian halnya dengan 2 alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis / FEB Unsoed yakni Rudi Sutanto,SE.MBA.(alumni FEB Unsoed angkatan 1980) dan Suroto,SE. (alumni FEB Unsoed angkatan 1995). Kedua alumni FEB tersebut sempat meluangkan waktu untuk membagikan kenangan hidup yang berkesan bersama Prof.Rubijanto Misman. Seperti diketahui Mantan Rektor Unsoed Prof.Rubijanto Misman meninggal dunia pada Selasa 14 September di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto.  

Saat bincang baincang jarak jauh dengan Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum., 2 alumni FEB Unsoed menceritakan kenangannya bersama Prof.Rubijanto Misman.

1. From Zero to Hero

Di era 1980-1985, Prof.Rubijanto Misman atau akrab dipanggil "mas Rubi” didapuk menjadi manajer Sepak Bola PS Mahasiswa Unsoed karena kecintaanya pada sepakbola Banyumas. Kebetulan Rudi Sutanto,SE.MBA. dipercaya menjadi kiper PSM Unsoed selama 5 tahun.

Dari mulai seleksi Semibama (seleksi minat bakat mahasiswa) era 1980, Rudi Sutanto bersama rekannya Sigit Sapto Rahardjo (Bupati Bantul - Yogjakarta 2015) ketika itu masih "botak klimis". Diantara puluhan mahasiswa baru yang diseleksi, hanya Rudi Sutanto dan Sigit Sapto Rahardjo yang lolos seleksi.

Mas Rubi mempersiapkan PSM Unsoed, kurang dari 1,5 bulan. Dia rela turun bersama pelatih ke lapangan menggembleng para pemain PSM Unsoed. Hampir setiap hari, hingga bisa dikatakan jam terbang mahasiswa lebih banyak di GOR Widodo daripada kuliah.

Semua tipikal dan talenta masing-masing pemain dikenalnya.

"Win, kowe nek nempel aja kasih ruang, ben wae bola’ne lewat, wonge ora !"

"Pri, nek mbalik cepet, latih refleksi’ne aja kesuwen, posisi dengkul’mu salah iku..."

Rudi Sutanto sudah hafal omelan beliau, latihan tiap hari... fisik di pompa habis-habisan !!

Dengan ”percaya diri” PSM Unsoed berangkat ke Porseni Mahasiswa Jawa Tengah di Semarang tahun 1980. 

PSM Unsoed underdog dan selalu di ejek supporter lawan ...gundul gundulii Unsoed !!! (Rudi Sutanto dan Sigit memang gundul klimis). Mereka bungkam,  di hari pertama  tim favorit sekelas Satyawacana dari Salatiga,  terjungkal di tangan PSM Unsoed. 

Hampir seminggu berkompetisi dan baru terhenti setelah di semifinal melawan Undip, digulingkan dengan susah payah.  Dalam perpanjangan waktu, PSM Unsoed tumbang melalui adu penalti. 2 tendangan berhasil di blok, tapi keberuntungan belum berada di PSM Unsoed. Akhir kompetisi Unsoed merebut  juara III sedangkan PSM Undip meraih Juara I. Di tahun yang sama PSM Undip menjuarai Liga mahasiswa Indonesia.

UI dan ITB pun pernah merasakan keganasan PSM Unsoed di Piala Rusmin Nuryadin. Pada awalnya PSM Unsoed tidak dikenal, tapi akhirnya disegani. Hanya saja PSM Unsoed kandas di Final melawan PSM Undip. 

Di tangan dingin mas Rubi, PSM Unsoed hampir 3 tahun memegang juara Liga Banyumas. Mas Rubi nggak terlalu peduli dengan prestise, pemain aja lembek, lawan kayaa ngapa hadapi !! ..... Hampir di setiap kompetisi lokal seperti di Cilacap, Banyumas, Ajibarang, Purwokerto dan Kebumen pasti ada PSM Unsoed.

"Glowehan’e mas Rubi (sambil ketawa) pemain PSM Unsoed , luwih terkenal timbang Rektor’e”

Saat itu mas Rubi menjabat sebagai Dekan Fakultas Biologi, dekan pertama yang berasal dari Alumni Unsoed. Mas Rubi adalah sosok muda dan enerjik, rela bersama pemainnya tidur di hamparan kasur apek di Balai Prajurit Semarang yang kumuh.

Perhatiannya sangat luar biasa. Rudi Sutanto dijuluki beliau sebagai petruk (mungkin karena posturnya tinggi dan rada kurus). 

"Rud  moso ora bisa nguntal telor mentah stamin !! (itu mas Rubi yang mengajarkan).

Tahun 1985 Rudi Sutanto pernah dimarahi mas Rubi.

Wis digarap durung skripsi’mu ?. Ojo gawe isin, mahasiswa kok ora rampung-rampung !!"

Mas Rubi sangat faham menempatkan diri kapan jadi teman, kapan jadi pendidik.

Selamat jalan Prof.Rubijanto Misman, pemimpin kharismatik, motivator ulung, dan sosok yang dicintai.

2. Prof.Rubijanto Misman Bapak Semua Orang

Pendiri dan Penasehat KOPKUN Suroto pernah mengatakan: "tidak sanggup lagi untuk meneruskan kuliah Prof!". Begitu kata singkat itu terlontar lirih dari mulut Suroto tertuju  pada pria dengan perawakan tegap dan berwibawa saat duduk di depan Suroto, waktu itu. Pria itu adalah Prof. Drs. Rubijanto Misman, Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto tahun 2004. Pria itu hanya menatap tajam ke arah Suroto, seketika itu ruang kerjanya  menjadi hening dan membuat tubuh lunglai ini semakin tak karuan. 

Sebetulnya Suroto berharap Prof.Rubi bertanya soal alasannya ingin keluar dan berhenti kuliah. Sungguh mengagetkan karena tiba-tiba keluar kata-kata yang sangat tegas dan terus dia ingat sampai hari ini.

"Mas Roto, rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Maju terus pantang mundur!!!. Anda harus lanjutkan kuliah". 

Prof.Rubi mengatakan bahwa dia yang tanggungjawab sampai Suroto lulus. Masalah itu pasti ada!. Hanya perlu cara untuk menyelesaikannya. 

Suroto benar-benar kaget. Tiba-tiba dadanya yang tadinya kosong melompong kini menjadi penuh. Suroto tak bertanya lagi. Mata Suroto langsung menitikkan air mata haru. Padahal tadinya kalau ditanya alasan kenapa mau berhenti kuliah, Suroto akan ungkapkan segudang persoalan itu. 

Selain karena kuliahnya yang terancam drop out (DO) juga karena persoalan keluarga yang dia beban.. Suroto keluar dari ruang rektor dengan bersemangat. Tak ada lagi kata-kata keluhan yang sudah dia rancang untuk disampaikan pada orang nomor satu di kampus almamater itu. 

Tapi hari Selasa (14/09/2021) Suroto benar-benar lunglai. Sedih sekali rasanya begitu mendengar kabar langsung dari putra Prof.Rubi yakni Mas Mommy Wahono bahwa baru saja jam 14.30 WIB Selasa tanggal 14 September 2021, Profesor Rubijanto Misman, orang tua, teman, guru besar kami meninggalkan kita semua. Hanya berselang sebentar setelah masuk rumah sakit di Purwokerto. 

Suroto langsung telepon kakaknya, Arsad Dalimunthe yang juga sangat dekat dengan  beliau. 

"Mas Arsad, tolong urus semua dengan baik-baik ya mas. Orang tua kita semua". kata Suroto seolah tak sanggup lagi rasanya untuk ungkapkan kata-kata lain. 

Suroto yang juga Manajer Boersa Kampus ini menjelaskan bahwa sehari yang lalu Prof.Rubi berkomunikasi dengannya via Whatshaap. Kebetulan Suroto dan Prof.Rubi sedang membahas soal artikel yang dia tulis di KOMPAS sebagai bagian dari perjuangan dan  pembicaraan soal meninggalnya sahabat Prof.Rubi, Babah Ho Yen yang dikatakan sebagai sahabat yang unik dan menyenangkan, betapapun ada orang yang tidak suka padanya. 

Ketua Koperasi Trisakti Suroto menjelaskan, sebetulnya bukan hanya hubungan antara murid dan guru biasa dengan Prof.Rubijanto. Kadang beliau menjadi teman bercanda, dan menjadi pengganti orang tua ketika mereka  tinggal jauh di Merauke saat kuliah dulu. Prof.Rubi dan Suroto sangat intens berkomunikasi. 

Satu waktu, Suroto ditelepon oleh Prof.Rubi malam hari. Katanya beliau baru saja ditelpon oleh mantan Menteri Koperasi dan UKM, almarhum Drs. Subijakto Tjakrawardaya, yang juga sahabat kecil Prof.Rubi di Cilacap, Jawa Tengah. Subijakto kebetulan jadi Wali Amanah Unsoed. 

Prof.Rubi katakan kalau Pak Biyakto, sempat menceritakan soal pribadi Suroto dan sempat jengkel karena Suroto pernah mengkritik isi buku Pak Biyakto waktu launching di kampus Universitas Trilogi. Waktu itu Suroto bersama Prof Dawam Rahardjo dan Mas Yudi Latief jadi narasumber bedah buku. 

Suroto pernah mengatakan, "Buku Pak Biyakto ini bagus, adalah merupakan kumpulan kebijakan bagaimana koperasi dibangun dan gagal sebagai organisasi mandiri di tanah air selama masa Orde Baru, jadi ini referensi penting bagi kita"..... 

Prof Rubi menjawab, " Lha saya mau katakan apa mas, bilanglah kalau saya ini kan memang pembina segala macam rupa anak-nakal, salah satunya ya Mas Suroto itu...jadi ya lanjutken mas!!!"....Prof.Rubi dan Suroto akhirnya hanya tertawa terkekeh. 

Menurut Suroto, sebetulnya dia dan teman-teman anak transmigran seluruh Indonesia bisa kuliah dan kemudian menjadi manusia mandiri. Prof Rubi adalah inisiator dan ketua Yayasan Kepedulian Pendidikan Anak Transmigran (YKPAT) yang kebetulan membangun program agar anak-anak transmigran di seluruh Indonesia bisa kuliah di Unsoed. 

Alumni YKPAT sudah ratusan jumlahnya, bahkan sudah hampir seribu sejak tahun 1994 program ini dirintis. Kampus Unsoed menjadi satu satunya kampus yang membuat program khusus ini. Alasannya, karena anak-anak transmigran banyak yang berpotensi namun tidak memiliki kemampuan untuk membiayai kuliah. Jadi Suroto dan lainnya dibiayai oleh Yayasan dengan bantuan dari Kementerian Transmigrasi pada masa menteri Pak Siswono Yudho Husodo, yang juga sahabat Prof.Rubi sebagai mantan aktifis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan anggota Barisan Pembela Soekarno. 

Ketua AKSES Suroto mengatakan bahwa betapa cintanya pada Soekarno sampai whatshaap terakhir Prof.Rubi kepadanya membahas soal tulisan di media KOMPAS yang menyitir kata Bung Karno. "Bung Karno bilang Kebo Nusu Gudel, kalau anak-anaknya tulisannya masuk di koran nasional, bapaknya cukup di koran lokal...ha ha haa...",demikian selorohnya

Suroto mengatakan bahwa Prof Rubi, sebagai orang tua yang membina ratusan mahasiswa transmigran  adalah pribadi yang sangat kebapakkan. 

Ketika Suroto sakit misalnya, beliau ditelpon temannya Mahasiswa asal Timor Leste jam 2 malam, tapi beliau tetap mau terima. Bukan hanya menerima telepon tapi bergegas naik mobil untuk jemput Suroto ke rumah sakit dan dimasukkan ke ruang VIP. Dokternya pun bahkan bertanya apakah ini putra beliau. Prof Rubi menjawab dengan tegas, iya. Ini anak saya semua dari seluruh penjuru tanah air. 

Itu gambaran sekelumit perhatian dari apa yang mereka rasakan. Prof.Rubi juga mengenal Suroto yang gemar membaca. Ketika itu, tiba-tiba Prof.Rubi datang ke kost/asrama Suroto sambil menenteng majalah Prisma dan Majalah Intisari yang kebetulan sudah tidak dibaca lagi.

Suroso yang juga Ketua LEPPEK (Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Koperasi) ini menambahkan bahwa Prof Rubi bukan hanya milik Unsoed, beliau alumni Unsoed pertama yang jadi rektor Unsoed dan sangat terkenal di masyarakat terutama di Banyumas. Ketokohannya di bidang politik, sosial, dan budaya juga sangat disegani. Aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan dari sejak mahasiswa sampai akhir hayatnya. 

Prof.Rubi adalah alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), juga pernah menjadi Sekjen Persatuan Cendekiawan Pembela Pancasila (PCPP), dan jabatan kemasyarakatan lainya. Sejak mahasiswa Prof.Rubi juga mendukung Suroto untuk kembangkan koperasi. 

Prof.Rubi sangat mendukung ide-ide yang bisa dibilang setengah gila, saat Suroto memimpin koperasi mahasiswa dia menyuruh membuka keanggotaan koperasi mahasiswa untuk masyarakat umum. Prof.Rubi juga mendukung didirikannya koperasi KBUMP dan menjadi pembina dari Koperasi KOPKUN yang sekarang kadernya menjadi tokoh tokoh koperasi di tanah air. 

Selamat jalan Prof...kami semua akan merindukanmu dan akan selalu menjaga apa yang telah anda wariskan pada kami, terutama nilai nilai keegaliteran dan keberanian...Selamat jalan Putra Terbaik Soedirman!. Rawe rawe rantas malang-malang putung," kata Suroto. (hen)

redaksi

No comment

Leave a Response