Keksi : Orang Tua Menjadi Role Model Pendidikan Anak Di Masa Pandemi

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Jumlah kasus positif Cobid-19 secara global terus meningkat, situasi ini bersamaan dengan tahun ajaran baru 2020/2021 yang dimulai hari Senin (13/07/2020).

Pembatasan interaksi fisik yakni antara guru dan siswa dengan sistem "bekerja dari rumah", sejauh ini dipandang sebagai metode paling efektif demi mencegah penyebaran wabah Covid-19. Di tengah pandemi, sebagian besar sekolah melaksanakan sistem bekerja dari rumah (Work From Home / WFH) yakni meniadakan belajar tatap muka langsung, diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menggunakan jaringan internet. 

"Walau tak sedikit sekolah yang tak mampu menerapkan PJJ dengan baik, hal ini diakibatkan kurangnya akses internet dan  adanya kesenjangan siswanya, ada yang lancar menjalani PJJ, sementara yang lain  mengalami kesulitan, "ungkap Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Dosen Ilmu Ilmu Kesehatan (FIKes) Unsoed Ns.Keksi Girindra Swasti,M.Kep. mengatakan, belakangan ini banyak orang tua dibuat galau oleh wacana diberlakukan new normal pada ranah pendidikan. Sebagian orang tua lega karena anaknya akan kembali bersekolah, artinya tugas mereka mendidik anak di rumah akan berkurang. Namun, tidak sedikit orang tua yang khawatir dengan penerapan kebijakan tersebut. 

" Kekhawatiran itu cukup beralasan karena penambahan kasus baru masih sangat tinggi dengan kisaran 600-700 kasus per hari. Sehingga, akan sangat berisiko membiarkan anak-anak masuk sekolah, dikhawatirkan membuat kluster baru bagi penyebaran virus Corona, " kata Keksi. 

Kondisi ini membuat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan survei pada orang tua siswa dan tenaga pendidik untuk mengukur kesiapan diterapkannya kebijakan tersebut. 

" Pada akhir bulan Mei 2020 pemerintah secara resmi mengumumkan penundaan masuk sekolah untuk semua jenjang pendidikan. Kementerian Pendidikan pun hingga saat ini belum dapat memberikan kepastian kapan akan mengaktifkan kegiatan sekolah kembali, "jelas Keksi.

Lebih lanjut Kepala Laboratorium Keperawatan Jiwa FIKes Unsoed ini memaparkan bahwa tindakan yang dapat dilakukan adalah merancang beberapa alternatif untuk mensiasati kondisi pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir. 

" Sejatinya, kapan pun anak-anak akan kembali ke sekolah, proses pendidikan  harus terus berlangsung, yang membedakan adalah tempat mereka belajar dan dengan siapa mereka belajar. Belajar tidak dapat dipandang sebagai proses meningkatkan pemahaman kognitif dan intelektual semata, namun juga mencakup penanaman sikap dan nilai-nilai moral, "papar Keksi.

Keksi menambahkan, kondisi pandemi saat ini, anak-anak dihadapkan pada permasalahan nyata bahwa mereka tidak dapat bersekolah dan harus belajar di rumah. Lantas apa fenomena yang muncul dengan anjuran tersebut?. Keksi menjelaskan, pada awalnya anak-anak menyambut gembira kegiatan belajar di rumah, karena mereka bersama orang tua dan memiliki waktu bermain lebih lama. Namun, tidak banyak anak yang patuh mengikuti anjuran untuk berada di rumah, belajar dan bermain di dalam rumah, serta mengerjakan tugas sekolah secara tertib. 

" Sebagian besar anak merasa jenuh, terlebih dengan waktu belajar yang terus diperpanjang.  Perasaan jenuh membuat anak tergoda untuk bermain ke luar rumah. Kejenuhan pada anak dipicu oleh kurangnya kesiapan dan kemampuan orang tua untuk memfasilitasi anak belajar dan beraktivitas di dalam rumah. Tidak jarang orang tua menjadi marah dengan ulah anak yang membuat anak semakin tidak betah berada di dalam rumah, "kata Keksi.

Oleh karenanya menurut Keksi dalam menerapkan sistem pembelajaran di rumah harus dipersiapkan bukan hanya mengubah pembelajaran tatap muka menjadi daring/online, akan tetapi mempersiapkan orang tua menjadi tenaga pendidik di rumah. Perlu ditanamkan dalam pemikiran orang tua bahwa capaian belajar di rumah bukan sekedar ketuntasan mengerjakan tugas dari sekolah. Namun, lebih pada membangun karakter anak melalui pembiasaan. 

"Gunakan kesempatan yang ada untuk menjalin kedekatan lebih dengan anak sehingga dapat membangun ikatan kasih sayang atau bonding attachment antara anak dan orang, yang sebelumnya tersita dengan aktivitas yang cukup padat. Berikan perhatian pada anak dengan mendampinginya belajar, bermain bersama, atau hanya sekedar bercanda dan ngobrol hal-hal ringan. Melibatkan anak dalam melakukan pekerjaan rumah bersama juga memberikan pelajaran besar bagi anak. Melalui aktivitas tersebut  anak dilatih keterampilan motorik dan rasa tanggung jawab, " terangnya.

Selain itu tambahnya, jangan lupa memberikan pujian setiap kebaikan yang dilakukan oleh anak. Pujian yang diberikan orang tua akan membuat anak merasa senang karena dihargai sekaligus memotivasi anak untuk mengulangi perilakunya. Jika ini dilakukan secara konsisten maka akan menjadi sebuah kebiasaan positif. 

Dengan demikian anak akan melewati masa belajar di rumah sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan dalam hidupnya, dan terbangun figure orang tua sebagai sosok yang bernilai bagi anak. Selain itu, moment belajar di rumah juga dapat dijadikan kesempatan untuk menanamkan kedisiplinan pada anak. Perlu diketahui bahwa usia anak-anak adalah usia emas tumbuh kembang. Baik dan tidaknya yang dilakukan anak akan sangat dipengaruhi oleh contoh peran atau role model orang disekitarnya. 

" Orang tua lah role model utama bagi anak. Orang tua memegang kendali penuh terhadap apa yang dilakukan anak. Disaat anak dituntut untuk berada dirumah, orang tualah yang membuat aturan apa yang sebaiknya dilakukan anak. Jika orang tua mampu mencontohkan untuk tertib menjalani himbauan yang diberikan maka anakpun akan meniru yang dikerjakan orang tuanya. 

Begitu pula sebaliknya, jika orang tua tidak menunjukkan sikap disiplin atau menerapkan secara tidak konsisten maka anak pun belajar untuk mencari peluang melakukan pelanggaran disiplin. Awalnya pelanggaran kecil lama kelamaan menjadi pelanggaran yang dianggap biasa. Awalnya bermain di luar hanya sebentar namun lama kelamaan bermain tanpa batas, hingga akhirnya orang tua kehilangan kendali untuk mengontrol perilaku anak, "jelas Keksi.

Keksi menyarankan, gunakan kesempatan berharga ini untuk membangun karakter anak-anak kita melalui proses pembelajaran di rumah, sehingga anak kita kelak menjadi generasi yang tangguh karena telah mampu melewati ujian kehidupan yang sesungguhnya. 

"Sebagaimana diungkapkan oleh tokoh pendidikan, bahwa keberhasilan pendidikan bukan terletak dari seberapa bagus nilai yang diperoleh namun seberapa mampu ia mengatasi suatu permasalahan, " pungkas Keksi.(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response