KAUnsoed Sukses Gelar Seminar "Perkembangan Terapi Dan Peran Media Massa Di Era Pandemi"

 

Matamatanews.com, PURWOKERO - Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein menjelaskan, bahwa KAUnsoed (Keluarga Alumni Unsoed) sukses menggelar Serial SEMION (Seminar Nasional Online) pada hari Selasa (28/07/2020) lalu dengan tema : Perkembangan Terapi  dan Peran Media Massa di Era Pandemi Covid-19.

Beberapa Pembicara yang tampil diantaranya :

1. apt. Heny Ekowati, M.Sc. Ph.D. (Ahli Virus, Doktoral dari Kanazawa University, Jepang, dan Dosen di Jurusan Farmasi, Fikes, Unsoed), materi : Mengupas Bukti Ilmiah Vaksin dan Deksametason Sebagai Terapi Covid-19.

2. dr. Setiawati, M.Sc. (Dosen Fakultas Kedokteran UNSOED, Kandidate Doktor UGM Yogyakarta & Sandwhich di Universite de Poitiers, France), materi : Ketahanan Keluarga Dalam Mencegah Penyebaran Covid-19.

3. Lilik Darmawan (Mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi Unsoed, Wartawan Media Indonesia, dan Ketua PWI Banyumas), materi : Peran Media Dalam Mengedukasi Masyarakat di Era Pandemi Covid-19.

4. Open speech Astera Primanto Bhakti (Ketum. KAUNSOED dan Dirjen Perimbangan Keuangan, Kemenku RI), Moderator: Dr.Nurul Hidayat (Dosen Informatika Fakultas Teknik UNSOED).Lanjut Einstein,  penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus atau disebut sebagai SARS-CoV-2.

"Pada 10 Februari 2020 WHO memberikan nama resmi untuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona yang baru dengan nama COVID-19. Tujuannya adalah untuk menghindari stigma pada tempat, orang, atau hewan yang berhubungan dengan virus corona. ‘CO’  untuk CORONA, ‘VI’ untuk VIRUS dan ‘D’ untuk DISEASE, " kata Einstein.

Dosen Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Unsoed apt. Heny Ekowati, M.Sc., Ph.D. mengatakan virus corona diidentifikasi pada tahun 1960. Jenis virus  Enveloped-RNA positif. Mempunyai bagian seperti mahkota (Crown, Corona) yaitu bentuk seperti paku / duri di bagian permukaannya.  Pada umumnya ada di  hewan, seperti unta, sapi, kucing, dan kelelawar.

 Menurut Doktoral dari Kanazawa University, Jepang ini,  bahwa infeksi menyebar dari satu orang ke orang lain melalui percikan (droplet) saat batuk atau bersin. 

"Waktu dari paparan virus hingga timbulnya gejala klinis berkisar antara 1–14 hari dengan rata-rata 5 hari. Penderita COVID-19 dapat mengalami demam, batuk kering, dan kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, atau bersin-bersin. Pada penderita yang rentan, penyakit ini dapat berujung pada pneumonia dan kegagalan multiorgan, " jelasnya.

 Pengobatan untuk COVID-19 saat ini menurut Heny belum ada yang spesifik. Ada obat-obat yang pada akhirnya ditarik dari penggunaannya pada pasien, karena efek samping yang sangat besar. Berikut ini adalah ringkasan beberapa terapi yang telah masuk ke fasa uji klinik :

1. Klorokuin dan Hidroksiklorokuin

Kloroquin dan Zinc menunjukkan aktivitas in vitro melawan virus SARS--CoV2. Beberapa uji klinik melaporkan kemungkinan  manfaat klorokuin, obat antimalarial, dalam pengobatan pasien terinfeksinovel coronavirus (SARS-CoV-2) (Colson et al., 2020; Gao et al., 2020). Penggunaan kloroquin dan hidroksikloroquin pada pasien Covid-19 terakhir ditarik oleh FDA (USA) pada 15 Juni 2020 karena efek samping yang berat, di antaranya adalah gangguan ritme jantung.

 2. Plasma Convalescent

Plasma Convalescent adalah plasma yang berasal dari pasien yang sembuh dari COVID-19 yang memiliki antibodi di dalam darahnya. Terapi ini adalah terapi pasif imunoterapi dan berhasil digunakan untuk terapi pada pandemik SARS, MERS dan H1N1. 

Penelitian dan terapi dengan Convalescent plasma transfusion (CPT) telah dilaporkan untuk COVID-19. Sistematik review yang dilaporkan oleh Rajendran et al. (Mei 2020, Journal of Medical Virology) menjelaskan bahwa berdasar pada data klinik yang berasal dari 5 uji klinik independen dari 27 pasien, menunjukkan CPT efektif sebagai pilihan terapi di samping terapi dengan obat antiviral / antimikrobial , dengan tingkat keamanan yang baik, peningkatan gejala klinik serta menurunan kematian. 

"Namun demikian, pada uji klinik ini belum diperoleh dosis optimal dan treatment time point. Oleh karena itu diperlukan uji klinik yang lebih besar untuk mendapatkan data yang lebih baik," terang Heny,PhD.

 3. Vaksin

Salah satu strategi terapi untuk terapi COVID-19, adalah terapi vaksin. Vaksin adalah sediaan biologis yang meningkatkan imunitas pada penyakit tertentu. Vaksin mengandung mikroorganisme penyebab penyakit dan dibuat dengan melemahkan atau mematikan mikroba tersebut. Vaksin menstimulasi sistem imun sehingga mengenali mikroorganisme penginfeksi, menghilangkan dan menyimpannya sebagai memori. Dengan cara ini, sistem imun akan lebih mudah mengenali dan mengeliminasi mikroorganisme jika menginfeksi kedua kalinya.

Ada lebih dari 100 kandidat vaksin untuk COVID-19 yang sedang dikembangkan. Sebagiannya telah masuk pada fase 1 uji klinik (uji keamanan dan imunogenisitas) (Lancet, 27 April 2020). Uji pada hewan (rhesus macaques-jenis monyet) menggunakan inactivated vaccine, menunjukkan hasil yang baik. Keterbatasan: jumlah hewan yang digunakan sangat terbatas. (Science Magazine, vol. 368, issue 6490, 1 Mei 2020). 

Penelitian uji klinik menunjukkan vaksin BCG mempunyai efek immunomodulator yang dapat melindungi tubuh terhadap infeksi pada sistem pernafasan.Oleh karena itu, vaksin BCG dapat dipertimbangkan untuk mengurangi akibat COVID-19 (Lancet, 30 April 2020).  Vaksin DNA (sequencing genome SARS-CoV-2). Beberapa kendala teknis dalam teknologi masih dihadapi. Lebih jauh dari itu diperlukan kerjasama internasional untuk data dan keuangan (NEJM, 30 April 2020).

 4. Remdesivir

Salah satu terapi yang menjanjikan lainnya adalah menggunakan antivirus Remdesivir. Obat ini pada awalnya merupakan obat yang diuji cobakan pada penyakit Ebola. Saat ini hasil penelitian pre klinik Remdesivir terhadap Sars Cov-2 menunjukkan hal yang menjanjikan, dan sedang dilakukan uji klinik di beberapa tempat. Untuk memastikan keandalan hasil penelitian perlu dilakukan aktivitas critical appraisal terhadap artikel maupun laporan penelitian yang ada. Hal ini penting dilakukan terutama pada masa pandemi COVID-19, di mana tuntutan dari masyarakat yang sangat besar dapat mempengaruhi kualitas penelitian yang dilakukan. 

"Critical appraisal juga penting dilakukan untuk menilai sejauh mana hasil penelitian dapat diterapkan di kondisi yang kita inginkan. Sebagai contoh, dengan aktivitas critical appraisal, kita dapat mengevaluasi untuk pasien seperti apakah obat itu bisa digunakan termasuk apakah Remdesivir sesuai digunakan pada setting pengobatan di Indonesia, "kata Heny.

5. Deksametason

Obat lain yang dilaporkan memiliki efek pada COVID-19 adalah deksametason. Laporan awal uji klinik yang dilakukan di Inggris menyebutkan bahwa deksametason, sebuah obat golongan kortikosteroid, mampu mengurangi 30% kematian pasien COVID-19 dengan kondisi parah menggunakan ventilator. Namun dari laporan ini pula diketahui bahwa deksametason tidak mempunyai efek yang baik pada pasien dengan gejala sedang dan ringan.

Kerja deksametason (kortikosteroid sintesis dengan waktu paruh eliminasi panjang) mempunyai efek menekan sistem imun bawaan dengan cara penurunan pelepasan eosinophil dan peningkatan jumlah netrofil. Di samping itu, deksametason juga menekan sistem imun adaptif dengan menurunkan jumlah limfosit T yang bersirkulasi dan  mencegah produksi interleukin-2 oleh sel T. 

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kasus meninggalnya pasien COVID-19 bukan disebabkan oleh virusnya melainkan disebabkan adanya satu fenomena yang disebut sebagai badai sitokin (Cytokines Storm Syndrome). 

"Obat yang dapat digunakan untuk mengatasi badai sitokin salah satunya adalah Kortikosteroid sebagai obat untuk imunosupresan, "kata Collaborative Professor untuk Kanazawa University Jepang ini mengakhiri. (hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response