Kajian Potensi Tsunami Di Pantai Selatan Jawa Menurut Asmoro Widagdo

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Koordinator Sistem Informasi Unsoed Alief Einstein mengungkapkan, beberapa waktu lalu berbagai media memuat berita akan terjadinya gempa dan tsunami besar di Pantai Selatan Jawa. Apakah kemungkinan gempa dan tsunami besar tersebut akan terjadi?. "Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut kajian dari Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed, Purwokerto Asmoro Widagdo kepada kami," katanya.

Asmoro  Widagdo menjelaskan, untuk ancaman Tsunami memang nyata terhadap bagian selatan Pulau Jawa yang berhubungan langsung dengan zona penunjaman lempeng Samudera Hindia-Australia ke bawah Lempeng Benua Eurasia.  Tsunami dengan ukuran tinggi gelombang lebih kecil telah dan akan sering terjadi di sisi selatan Jawa. Namun apakah tsunami besar pernah terjadi dan akan terjadi di selatan jawa, hal ini perlu riset yang lebih mendalam dan komprehensif melibatkan berbagai disiplin ilmu.

" Kemungkinan terjadinya tsunami besar dapat dijawab dengan riwayat tsunami di Jawa pada masa lampau. Dalam mempelajari fenomena alam kita berprinsip pada hukum geologi dimana kejadian geologi masa kini dapat digunakan sebagai kunci menjelaskan fenomena geologi masa lampau. Demikian juga hasil rekam jejak fenomena geologi tsunami masa lampau dapat kita jadikan kunci untuk menjawab kemungkinan terjadinya bencana serupa di masa datang. 

Daerah Jawa Tengan Selatan antara Cilacap hingga Kebumen merupakan daerah yang ideal untuk penelitian Tsunami masa lampau. Di daerah ini dapat kita jumpai belasan garis pantai purba dan belasan deretan rawa purba di belakang pantai tersebut.  Sehingga rekaman jejak tsunami akan kita jumpai di endapan pantai dan rawa purba ini, " ungkap anggota IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) ini.

Asmoro menerangkan, kami di Geologi Unsoed telah melakukan penelitian kecil dengan melakukan pemboran dangkal untuk mengambil contoh batuan dari endapan rawa purba di daerah timur Cilacap. 

" Hasilnya memang kita temukan adanya fragmen batuan gamping dari laut yang lebih dalam pada daerah rawa purba. Ini menunjukkan adanya tsunami yang membawa fragmen batugamping tersebut. Namun ukuran fragmen yang kami temukan berukuran kerikil saja, sehingga kami duga bukan tsunami besar yang membawa fragmen batugamping tersebut ke daerah rawa di belakang pantai, " kata pria kelahiran Kulon Progo ini.

"Jalur-jalur endapan pantai dan rawa purba yang dijumpai di Cilacap timur hingga Kebumen masih dapat di lihat dengan jelas. Setidaknya hingga endapan pada umur rawa yang berumur 11.500 tahun kami belum menemukan jejak endapan tsunami yang berukuran besar, " tambahnya. 

"Kami berkesimpulan sementara pada saat itu bahwa tsunami yang pernah terjadi di selatan Jawa khususnya Jawa Tengah hanya berukuran kecil-sedang saja. Tsunami besar juga akan merusak deretan pantai purba yang ada, namun belasan jejak pantai purba di daerah Cilacap masih terpreservasi dengan bagus yang sepertinya belum ada arus yang sangat kuat yang menghapuskannya hingga 11.500 tahun yang lalu. Namun demikian penelitian terhadap endapan pantai purba yang lebih tua perlu dilakukan, " kata Dosen Teknik Geologi Indonesia ini.

"Dalam kajian bencana lainnya, yakni pada patahan aktif biasanya digunakan istilah aktif bila pernah bergerak dalam kurun waktu 10.000 tahun terakhir. Patahan ini biasanya sangat dipertimbangkan dalam pembangunan infrastruktur sipil. Fenomena Tsunami yang yang juga terkait dengan aktifnya suatu patahan dapat mengacu pada angka ini.

Dengan kata lain patahan besar di selatan Jawa tidak perlu dikhawatirkan namun perlu kita kenali lebih lanjut. Patahan kecil akan menghasilkan gempa yang lebih kecil akan sering terjadi di selatan Jawa. Hal ini tidak perlu ditakuti secara berlebihan namun perlu disikapi secara positif dengan membangun kesiapan warganya agar mengenali dan siap menghadapi fenomena kebencanaan geologi, " pungkasnya. *(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response