Jebakan Utang Bank Dunia Misi Jatuhkan Indonesia?

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Sebenarnya The World Bank atau Bank Dunia didirikan bertujuan untuk melakukan stabilisasi kurs mata uang negara-negara anggotanya,perluasan perdagangan, dan penghapusan hambatan-hambatan pada sistem ekonomi pasar bebas. Indonesia diterima masuk sebagai anggota Bank Dunia pada tahun 1953. Namun,karena  tidak membawa banyak manfaat, Presiden Soekarno mencabut keanggotaan pada 1966.

Ketika rezim Orde Lama ditumbangkan oleh Orde baru, Indonesia kembali masuk menjadi bagian Bank Dunia yang mendapat kucuran pinjaman dalam jumlah sangat besar.faktanya,pinjaman ini bukanlah bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan untuk membantu kemajuan Indonesia, tetapi memiliki agenda jangka panjang para kapitalis untuk menguasai sistem ekonomi Indonesia dengan cara yang terlihat ‘anggun’ dan legal.

Secara garis besar tujuan pengucuran utang dari lembaga keuangan multilateral untuk Indonesia pada saat itu ialah untuk ‘menjebak’ Indonesia dalam lingkaran utang atau debt trap dengan misi :

1.Indonesia bisa lepas dari pengaruh komunisme Moskow dan Peking, 2.Menjajah kembali Indonesia secara ekonomi dan pilitik,3.menguasai sumber-sumber daya alam Indonesia melalui korporasi  (badan usaha yang sah dijalankan satu perusahaan besar) globalnya,4.membangkrutkan ekonomi negara yang kaya sumber daya alam,5.Terlibatnya Indonesia pada ketergantungan Bank Dunia (termasuk IMF), pertanda era masuknya penguasaan asing yang menggerogoti kekayaan alam.

Profesor Joseph Stiglitz, mantan Ketua Ekonomi World Bank dan mantan Ketua Penasehat Bill Clinton, mengakui secara terbuka ‘’ 4 Langkah Strategi World Bank memperbudak negara demi keuntungan bankir,yaitu :

1.Privatisasi. Pemimpina nasional akan ditawarkan 10 persen komisi untuk menjual aset-aset nasional. Uang akan disimpan dengan aman di rekening marea di Swiss. Dengan privatisasi jua, hak-hak negara akan dikebiri oleh peran swasta. Kita ingat bagaimana Bank Indonesia lelah berteriak kepada para bank-bank swasta Indonesia  yang telah dikuasai asing. Tujuannya agar mereka menurunkan suku bunganya pada krisis ekonomi tahun 2008 kemarin. Industri riil yang banyak memperkerjakan tenaga kerja, terpaksa melakukan PHK besar-besaram karena suku bunga bank yang sangat mencekik dan mengakibatkan modal kerja terhenti total.

2.Liberalisasi Pasar Modal. Stiglitz menyebutnya siklus uang panas atau hot money.Dana dari luar negeri harus dibiarkan bebas masuk untuk berspekulasi di real  estate dan mata uang. Setiap saat,uang panas ini dapat ditarik keluar dari pasar uang yang saudah dileberalisasi dengan cantik oleh sistem ekonomi stua negara yang telah diracuni oleh agenda neoliberal.Uang-uang panas seperti inilah yang dipandang oleh banyak ekonom kritis sebagai bom waktu yang akan meledak kapan saja menjadi krisis ekonomi yang dapat meluluhlantakkan sistem sosial ekonomi suatu negara hanya dalam satu malam.

Jika krisis terjadi,, negara bersangkutan akan meminta bantuan IMF dalam bentuk utang-utang baru. Maka,selamanya sebuah  negara tidak akan lepas dari jebakan utang seumur hidupnya.belum lagi praktik obral aset negara dengan alasan kita butuh uang negara . Ini akan menguntungkan korporasi luar negeri karena aset-aset negara tersebut bisa dibeli dengan harga amat murah.

3.Penentuan harga pasar. Subsidi kepada rakyat menjadi barang haram. Meskipun jelas-jelas melanggar konstitusi dasar. Namun,hampir setiap penggantian pemimpin baru di negeri ini selalu memperturutkan ambisi kapitalis. Harga makanan , air, minyak dan gas dinaikkan yang hingga mengakibatkan keresahan sosial yang berujung pada kerusuhan.

4.Perdagangan bebas. Ini adalah tahap di mana korporasi internasional akan memasuki pasar Asia, Amerika Latin, dan Afrika dengan menukar utang menjadi kemudhan kebijakan dalam bentuk penghapusan hambatan-hambatan perdagangan di negara melarat yang kaya sumber alam dan kaya populasi manusia sebagai pasar potensial untuk produk-produk kapitalis.. Pada saat yang sama,produk-produk mereka dilindungi dengan kebijakan tarif masuk yang tinggi,pembatasan kuata rendah, dan persyaratan yang memberatkan untuk produk-produk dari dunia ketiga.

Mantan Menko Perekonomian era Gusdur,DR.Rizal Ramli, juga mengungkapkan ,” Lembaga –lembaga keuangan internasional,seperti bank Dunia,IMF,ADB, dan sebagainya dalam memberikan pinjaman ,biasanya memesan dan menuntut. Undang-Undang ataupun  peraturan pemerintah negara yang menerima pinjaman. Tidak hanya dalam bidang ekonomo, tetapi juga di bidang sosial. Misalanya, pinjaman sebesar 300 juta dolar Amerika Serikat dari ADB yang ditukar dengan Undang-Undang Privatisasi BUMN, sejalan dengan kebijakan neoliberal. Undang-Undang Migas ditukar dengan pinjaman 400 juta dolar Amerika  Serikat dari Bank Dunia.”

John Perkins,,mantan konsultan tekhnik di negara-negara miskin yang dibiayai Bank Dunia dan IMF membongkar habis-habisan konspirasi yang dilakukannya lewat buku best seller “Economic Hitmen”. Ia mengakui tugasnya adalah bagaimana menyalurkan utang yang luar biasa besar kepada negara-negara yang ia tahu tidak akan mungkin sanggup membayar utang pokok dan bunganya dalam waktu yang ditentukan. Pada saat yang sama, ia harus berusaha ‘membangkrutkan’ negara-negara itu hingga terjebak dalam ketergantungan luar biasa kepada para pemilik modal.

Secara politis, negara-negara yang sudah sekarat ini (termasuk Indonesia ) ketika itu, akan mudah dikendalikan suaranya untuk perizinan pangkalan militer barat, dukungan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untukmengambil kebijakan-kebijakan yang kontroversial, dan akses kepada ladang-ladang minyak dan pertambangan mineral yang luar biasa besar. Terlalu...! (samar/berbagai sumber/konspirasi dunia)

 

sam

No comment

Leave a Response