Jamasan Ageng Pusaka Simbol Penghormatan Dinasti Gagak

 

Matamatanews.com, PURWOREJO –Trah Gagak adakan jamasan pusaka di Rumah Pasepen Gagak Handoko bilik peristirahatan Adipati terakhir Kadipaten Loano Dusun Turusan (08/09/2019) pagi hari.Turut menyaksikan prosesi diantaranya Kepala Desa Loano Sutanto, Kepala Desa Trirejo Dwi Darmawan, Anggota DPRD Purworejo Ir. Luhur Pambudi, Juru Kunci Makam Gagak Handoko / Pemangku Adat R. Sutriyanto, serta Direktur PDAM Tirta Perwitasari Ir. Hermawan Wahyu Utama.

‌‌Seperti diketahui Gagak Handoko merupakan Adipati Loano terakhir yang wafat tahun 1836 dan merupakan senopati/prajurit Pangeran Diponegoro. Pada masa perang Diponegoro, berbagai tempat di daerah perbukitan Menoreh dijadikan ajang pertempuran. Semula perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap kolonial Belanda terbatas hanya di sekitar Tegalrejo Yogyakarta. Perang ini dimulai tanggal 20 Juli 1825. Pada babak pertama perlawanan pasukan DIponegoro berada di sekitar Yogya dan sekitarnya terutama Delanggu, Klaten, Kartosuro yang berlangsung antara tahun 1825-1826. Pertempuran akhirnya melebar ke wilayah barat yaitu disekitar Magelang khususnya di wilayah Menoreh pada tanggal 1 Januari 1827, sehingga sejak 1827 kawasan Menoreh menjadi daerah perlawanan pasukan Diponegoro. Perlawanan  para pengikut semakin meluas sampai Purworejo dan Kebumen.

“Jadi, budaya ini harus kita kembangkan dan dijaga selalu, sebagai riilnya prosesi penjamasan pusaka ini, namun sebenarnya ada makna filosofi yang mendalam. Pusaka itu sebagai ekspresi warisan orang tua kita, kita sebagai penerus, kita sebagi anak cucu harus bisa meneladani dan meneruskan perjuangan, cita-cita harapan dari leluhur kita, termasuk dari trah Gagak, " ujar Direktur PDAM Perwitasari dalam sambutannya.

Hermawan menambahkan, penjamasan pusaka ini juga sebagai wujud ekspresi dari generasi penerus, sebagai tanda bakti, tanda kita memperhatikan nenek moyang kita karena tidak ada yang memperhatikan selain kita. Budaya kita akan terjaga kalau kita yang jaga, kalau kita melupakan akan hilang, seleksi alam akan berjalan. 

"Mari kita dukung bersama, kita jaga sampai akhir jaman sebagai wujud penghormatan kepada leluhur kita. Bung Karno pernah berkata, Jasmerah (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah), kita ada karena beliau - beliau pendahulu kita, hari ini kita seperti ini karena semua perjuangan dari leluhur kita. Marilah kita jaga, kita teladani, dan teruskan, " katanya.

Salah seorang keturunan Gagak Handoko, Erwan menyatakan Gagak Handoko adalah Adipati terakhir Loano, beliau merupakan penguasa Loano dari garis keturunan bangsawan Kadipaten Loano. 

"Acara jamasan ini, setiap tahun diadakan. Apabila menjelang acara grebeg eventnya agak besar, sebab grebeg merupakan acara merti desa Loano bekas Kadipaten Loano yang kita selenggarakan tiap 3 tahun sekali.  Acara jamasan ini untuk mengawali grebeg Desa Loano karena esoknya pusaka pusaka ini akan dijemput dari Pasepen melalui ritual pagar desa, kemudian disemayamkan di pendopo selama kurang lebih 2 atau 3 hari. Tepat hari minggu akan diarak mengikuti prosesi grebeg Loano, setelah itu dikembalikan lagi di Pasepen, " jelasnya.

Erwan menambahkan penjamas pusaka dilakukan oleh para keturunan Gagak Handoko. Kegiatan ini telah ada sejak dulu, kala itu hanya jamasan biasa, namun sejak ada inovasi desa guna mengembangkan potensi desa, mulai saat kita konsentrasikan disini.

"Ini warisan budaya Loano, kali ini eventnya agak besar,  kalau dulu ya jamasan biasa paling hanya potong tumpeng megono. Sejak dulu ritual ini ada, diisi acara caos dahar. Caos dahar adalah makanan kesukaan para Adipati Loano. Setelah itu ada dahar lorotan berupa makanan yang disedekahkan.  Secara budaya segala sesuatu itu harus disertai dengan karya nyata, bekerja, sedekah," pungkasnya. (Nusa)

 

redaksi

No comment

Leave a Response