Israel Tutup Laut di Jalur Gaza Bikin Nelayan Palestina Semakin Menderita

 

Matamatanews.com, GAZA—Sejak hari Senin (26/4/2021) lalu, pemerintah Israel menutup laut dan melarang para nelayan Palestina untuk menangkap ikan.Penutupan dan pelarangan itu bukan saja merugikan para nelayan, tetapi juga membuat mereka semakin menderita.

“Karena akibat penutupan dan pelarangan menangkap ikan di laut tersebut, nasib nelayan Palestina akan semakin menderita dan terancam kehilangan pekerjaan di laut bebas tanpa kepastian,” jelas  warga sekitar di Jalur Gaza kepada wartawan Matamatanews.com yang ada Palestina.

Seperti dilansir Kantor Berita Palestina, WAFA, penutupan dan pelarangan itu merupakan langkah hukuman kolektif terhadap dua juta penduduk Jalur Gaza atas penembakan proyektil dari Gaza ke Israel dalam beberapa hari terakhir.

Dampak dari pelarangan dan penutupan oleh Israel, sebanyak 60 ribu orang di Gaza yang biasa mencari nafkah dari memancing dan menjala, kini kehilangan pekerjaan. Akibat tindakan otoriter Israel tersebut, bisa dipastikan empat ribu nelayan dan seribu lima ratus pekerja lainnya yang biasa bekerja dilaut termasuk pengrajin, sopir,pedagang,penjual ikan serta penjual jaring maupun tiga sampai empat pabrik es yang beroperasi untuk nelayan dan masyarakat akan kehilangan mata pencarian akibat penutupan dan pelarangan tersebut,kata Ketua Komite Serikat nelayan di Gaza, Zakaria Bakr seperti dikutip WAFA.

Bakr mengatakan penutupan laut bertepatan dengan musim penangkapan ikan, dan penutupan atau pengurangan wilayah penangkapan biasanya dilakukan setiap awal musim.Penutupan itu berdampak buruk bagi para nelayan, terutama keluarganya.

Bakr mengatakan Israel sengaja menargetkan sektor penangkapan ikan dengan membatasi wilayah penangkapan, menyerang nelayan dan perahunya saat di laut, dan mencegah impor semua alat tangkap.

“Otoritas pendudukan terus menutup laut dan mengencangkan cengkeramannya kepada nelayan, dan terkadang menutupnya saat kita berada di laut,”kata Munthe Abu Amira,30, seorang nelayan Palestina di Gaza seraya menambahkan bahwa lokasi penangkapan ikan yang diizinkan tidak mencukupi.

Mahmoud daifi, 30, dari kamp pengungsi al-Shati yang menghidupi keluargannya 11 orang mengatakan, bahwa menangkap ikan adalah satu-satunya profesi yang digelutinya, ia bisa tinggal dan makan dari bekerja sebagai nelayan,tetapi karena adanya pelarangan penutupan,kini kondisi hdupnya menjadi semakin sulit.

"Saya bertanggung jawab atas anggota keluarga saya setelah ayah saya, Khalil, tewas dalam serangan Israel tahun 2008, dan saya telah berlatih memancing selama 13 tahun karena tidak ada pekerjaan lain yang tersedia di Jalur Gaza," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dua hari yang lalu ketika sedang bekerja sebuah kapal angkatan laut Israel mendekatinya, lalu mengancamnya untuk kembali dan mulai menembaki lalu memaksanya untuk bergegas kembali dan meninggalkan jaring ikan di laut.

"Saya dan sekelompok nelayan keluar setiap hari dari pukul enam sore sampai pukul enam pagi keesokan harinya. Pada tengah malam kapal Israel datang dan mulai mengejar kami. Tidak ada yang tersisa di laut. Kami membiarkan jala ikan masuk air dan lari, "kata Daifi.

Ia mengatakan bahwa kekuatan pendudukan Israel sejatinya tidak ingin melihat ada nelayan Palestina di laut, jika terlihat berada di wilayah penangkapan ikan yang diizinkan, merka datang dan meneriakinya melalui pengeras suara lalu menembak ke arahnya, dan memerintahkan untuk meninggalkan laut.Artinya nelayan Palestina tidak bisa untuk melanjutkan pekerjaannya.

Daifi menekankan bahwa nelayan membutuhkan alat tangkap dan tidak semuanya tersedia di Gaza. “Saya mengimbau semua orang untuk menyediakan alat ini untuk kami karena tanpa mereka kami tidak dapat bekerja,” katanya.(cam/wafa/berbagai sumber)

 

 

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response