IPO Start Up, Information Gap dan Keterbukaan Informasi Publik

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Awal 2020 pandemi Covid-19 mulai merebak. Ini artinya satu setengah tahun pandemi Covid-19 telah menemani kehidupan manusia. Di tengah pandemi, investor tetap melirik start up di Indonesia. Start up adalah perusahaan baru yang sedang dikembangkan atau belum lama beroperasi atau biasa disebut perusahaan rintisan. Beberapa pemain start up di Indonesia di antaranya Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan lain-lain. 

Saat ini, perusahaan start up/rintisan yang menawarkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi perdebatan sendiri bagi kalangan investor maupun pengamat. IPO (Initial Public Offering) adalah perusahaan yang pertama kali menjual saham perdananya di bursa saham kepada publik. Perusahaan teknologi di Indonesia yang akan melakukan penawaran saham perdana (IPO) antara lain Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. 

Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengungkapkan, jika dana publik dapat diraih perusahaan teknologi, dia berharap ada pengembangan usaha dan membuka lapangan kerja baru.

Sementara Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Rudi Sutanto,SE.MBA memaparkan bahwa "Bursa" kita memasuki era baru dengan beberapa perusahaan start up (listing) dengan kapitalisasi mencengangkan, dari sisi pelaku pasar (investor) memiliki tren baru yang menantang.

Start Up dengan strategi "growth hacking" (peretasan pertumbuhan, dalam arti positif) merupakan kegiatan yang fokus di dalam bidang pemasaran melalui pertumbuhan perusahaan. 

Model bisnis pada "perusahaan konservatif", membentuk jaringan selama bertahun-tahun , mulai dari rantai pasokan, distribusi, pemasaran hingga menjangkau konsumen akhir. Tetapi "Unicorn" (kategori start up dengan kapitalisasi mencapai US$ 1 miliar atau Rp 14,4 triliun), melangkahinya dalam sekejap.

Start up memiliki mesin virtual, learning machine, costumer profiling, payment gateway, dan berbagai aplikasi lainnya, yang berdiri di atas  infrastruktur cloud services yang berbasis internet,  mempermudah layanan dan akses. 

Bagaimana tidak, "It’s accessible from any devices", apabila dibayangkan perusahaan memiliki file dinamis, dengan akses perangkat tak terbatas termasuk laptop, tablet, PC, smartphone. Artinya, karyawan dapat bekerja darimana saja, customer bisa mengakses 24 jam dan  perusahaan tidak perlu memiliki server sendiri (on premise) , tidak perlu kantor yang luas.

Tim Start Up yang terdiri dari pemasar, pemograman-enjiner, dan manajer produk, bekerja  secara terintegrasi, dengan keterampilan lintas disiplin (digital). Berkemampuan untuk menguji ide-ide, fokus meningkatkan pelayanan (customer satisfaction) , mereplikasi , memodifikasi dan menskalakan, uji simulasi, sebelum di lakukan investasi riil.

Tidak hanya model bisnis yang berbeda, cara melakukan "valuasi" juga berbeda.Virtualisasi menciptakan basis pelanggan, dapat digambarkan melalui Gross Merchandise Volume (GMV).

GMV pada perusahaan ritel e-commerce berarti : harga jual rata-rata per barang yang dibebankan kepada pelanggan, dikalikan dengan jumlah barang yang terjual. Misalnya, jika menjual 10 buku seharga Rp1.000,- GMV: adalah Rp10.000. Ini juga dianggap sebagai "pendapatan kotor", startup hanya intermediary.

"Start up" harus mampu memberikan "informasi yang terintegrasi (officially)" secara jelas: 

Berapa potensi ritel -marketplace, besarnya GMV, posisi mobile GMV (prosentasenya terhadap GMV), berapa buyer yang terdaftar dan active buyers, serta berapa rata-rata transaksi per buyer. Penjelasan cost acquisition customer (c.a.c), targetnya: berapa besar alokasi modal kerja (penggunaan dana IPO)  untuk customer acquisition, dan seterusnya.

GMV berbeda dengan "penjualan bersih", karena GMV tidak memasukkan biaya pengembalian produk.

Yang sangat materiil adalah biaya pamasaran program antara lain cash burn: biaya akuisisi customer , mitra penjual, voucher, cash back, channel pembayaran, iklan termasuk konten. Anggarannya luar biasa, yang harus disiram terus, ibarat tanpa fresh money, maka growth hacking menjadi layu, customer bisa berpindah.

Perusahaan E-Commerce saat ini sedang memasuki tahap IPO. Di tahun 2018 melakukan “tambahan modal baru“ senilai +/- Rp4,1 triliun,  sudah tergerus “cash burn” dan kondisi masih rugi. Dengan pengakuan memiliki pelanggan 104 juta orang, berencana meraup dana IPO sebesar +/- Rp 21 triliun , kapitalisasinya diperkirakan mencapai +/- "Rp 85 triliun". Bagaimana valuasi nya, termasuk perkiraan potensi ke depan ?.

Informasi tentang Start up masih simpang siur, dan sulit untuk “divalidasi”. Kondisi ini dapat menciptakan “ketidak pastian valuasi”. Padahal “fair value” dapat dihitung, mencerminkan indikasi masa depan, menyusun model bisnis yang relevan, tetapi informasinya belum lengkap. Laporan keuangan Audit tidak cukup (it’s in the past).

Kondisi ini dapat menciptakan polemik publik:

● Start up beda cara valuasinya,

● Fundamentalis berpendapat: perusahaan masih Rugi, "mana Informasi untuk menghitung valuasi masa depan?".

Artinya : terjadi  “information gap “banyak yang belum diungkapkan (secara officially)”, padahal saham  "merupakan satuan nilai yang mencerminkan komponen finansial yang berfokus pada kepemilikan suatu perusahaan, dan investor memegang risiko”.

Dengan berbagai pertimbangan, maka keputusan investasi “harus memiliki pedoman  yang bijaksana”. (Hen)

redaksi

No comment

Leave a Response