Inilah Penyimpangan Faham Nikah Mut’ah

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Hingga kini masih banyak yang berpendapat bahwa nikah Mut’ah diperbolehkan dan tidak menabrak rambu-rambu dalam Islam, apalagi  menurut Syi’ah nikah Mut’ah di bolehkan bahkan akan mendapat pahala besar. Ulama Syi’ah menyatakan bahwa nikah mut’ah atau lazim  disebut kawin kontrak tidak perlu dipedulikan apakah si wanita punya suami atau tidak. Dengan pelacur pun  menurut Syi’ah nikah mut’ah diperbolehkan.

Nuri Al-Thabarsi,ulama Syi’ah menjelaskan bahwa dalam nikah mut’ah diperbolehkan dengan wanita bersuami asal ia mengaku tidak punya suami. Hal senada juga dilontarkan seorang ulama besar Syi’ah,Al-Khumaini, ia menjelaskan bahwa melakukan anal seks dengan istri diperbolehkan. Menurut Khumaini,nikah Mut’ah dengan bayi yang masih menyusui pun diperbolehkan.

Dalam publikasi Syi’ah ditulis, “Nikah mut’ah  disyaratkan dalam Al-Qur’an dan sunnah. Semua ulama apa pun mazhabnya sepakat bahwa nikah Mut’ah pernah dihalalkan pada zaman Nabi SAW. Mereka berikhtilaf tentang pelarangan nikah Mut’ah. Syi’ah berpegang kepada yang disepakati dan meninggalkan yang dipertentangkan.” Disebutkan juga, bahwa yang pertama kali melarangnya ialah Khalifah Umar bin Al-Khattab dengan perkataannya yang terkenal,” Ada dua hal yang dibolehkan pada zaman Nabi namun dengan ini saya larang pada hari ini dan saya akan menghukum siapapun yang melakukannya, nikah Mut’ah dan Mut’ah haji.”

Majelis Ualam Indonesia (MUI) telah memfatwakan keharaman kawin Mut’ah yang ditandatangani 23 Jumadil Akhir 1418 H/25 Oktober 1997 M. Menurut MUI, penghalalan nikah Mut’ah bertentangan dengan semangat dan esensi pernikahan seperti yang dijelaskan dalam firman Allah ta’ala,” dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela” ( Al-Mu’minun :5-6).

Ayat itu menjelaskan bahwa hubungan kelamin hanya dibenarkan kepada wanita yang berfungisi sebagai isteri atau jariah. Sedangkan wanita yang dinikahi dengan cara Mut’ah tidak berfungsi sebagai isteri atau sebagai jariah. Karena akad Mut’ah bukan akad nikah, dengan alasan :

1.tidak saling mewarisi

2.iddah mut’ah tidak seperti iddah nikah daim

3.dengan akad nikah menjadi berkuranglah hak seseorang dalam hubungan dengan kebolehan beristeri empat (ta’addud), dalam mutah tidak  seperti itu

4.dengan Mut’ah,seorang laki-laki tidak dianggap menjadi mushon karena wanita yang dinikahi dengan cara Mut’ah tidak menjadikannya isteri sebagai ataupuhn jariah. Karena itu, orang yang melakukan mut’ah termasuk  dalam firma Allah ta’ala, “ Barangsiapa mencari selain daripada itu, maka mereka itulah orang yang melampaui batas” (Al-Mu’minun : 7 ).

Seluruh ulama empat mazhab telah bersepakat bahwa nikah Mut’ah telah diharamkan. Dalam Fathu Al-Bari diriwayatkan  sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa Nabi Muhammad SAW melarang nikah Mut’ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar. Imam Muslim dalam shahih-nya meriwayatkan dari Sabrah bin  Ma’bad Al-Juhani ra dan Salamah bin Akwa ra ,keharaman Mut’ah yang sebelumnya halal  atau menjadi Mansukh.

Syaikhul Azhar,Mahmud Syaltut, yang diklaim oleh kaum Syi’ah memfatwakan boleh mengamalkan mazhab Syi’ah Jafariyah Imamiyah, telah menfatwakan haram nikah mut’ah. Ia menulis,” Al-Qur’an telah mengaitkan denganm hubungan pernikahan hukum-hukum seperti saling mewarisi, hubungan nasab anak,nafkah, talaq,iddah,ila’,zihar,li’an,keharaman menikah dengan wanita yang kelima dan lain-lain. Tidak satupun dari hukum tersebut berlaku dalam kawin mut’ah.”

Tentang pelarang Umar, ia mengatakan,” Pelarangan Umar dan ancaman sanksi kepada pelaku nikah Mut’ah dihadapan para sahabat dan persetujuan mereka atas kebijakan Umar itu tidak lain adalah pengamalan hadits-hadits nabis yang sahih dan untuk mencabut pikiran kebolehannya yang terlintas di sebagian benak umat Islam. Nabi SAW dulu menjadikan kondisi orang yang baru masuk Islam dalam waktu darurat sebagai alasan untuk memberi rukhsah, dan setelah penghayatan Islam telah kuat beliau kembali mengharamkannya untuk selamanya seperti yang dikehendaki Allah .” Di akhir fatwanya,Syek Syaltut menegaskan,”Sungguh syariat yang membolehkan seorang wanita dapat dikawini oleh sebelas orang laki-laki dalam satu tahun, dan membolehkan laki-laki mengawini setiap hari wanita yang ia sukai, dengan tidak menanggung sedikitpun beban perkawinan...syariat semacam itu tidak mungkin bersumber dari Allah Rabbul Alamin, dan bukan pula syariat yang bercirikan ihshan dan iffah.” (Samar/waspadai penyimpangan Syi’ah di Indonesia)

 

 

sam

No comment

Leave a Response