Inilah Kisah Sukses Operasi Pembebasan Sandera OPM di Mapenduma

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Tidak semua publik mengetahui bahwa pada 8 Januari 1996 telah terjadi penyanderaan terhadap peneliti Tim Ekspedisi Lorentz 95 oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dipimpin Kelly Kwalik di Mapenduma, Papua. Para peneliti tersebut diculik ratusan anggota OPM pimpinan Daniel Yudas Kogoya dari base camp-nya tanpa perlawanan.

Selama 130 hari, OPM menyandera mereka. Komandan OPM Kelly Kwalik berusaha menukar 12 sandera itu dengan kemerdekaan Papua. Karena melibatkan warga negara asing, peristiwa ini jadi sorotan internasional. Selama dalam penyanderaan, para sandera digiring blusukan ke belantara Papua. Mereka tak mendapat cukup makanan, sehingga beberapa orang sakit.

Mabes TNI menggelar satgas untuk membebaskan sandera di Mapenduma. Komandan Jenderal Kopassus Brigjen Prabowo Subianto ditunjuk menjadi komandan. Tim Kopassus yang dikerahkan berasal dari Grup 5 Antiteror. Di antara pasukan TNI lain, mereka mudah dikenali karena berpakaian hitam-hitam.

Selain itu ada pasukan Batalyon Lintas Udara Kostrad 330 dan pasukan penjejak yang terdiri dari putra-putra Irian milik Kodam Cendrawasih. Total pasukan yang dikerahkan mencapai 600 orang. Sesuai permintaan dunia internasional, Prabowo mempersilakan Tim International Committee of the Red Cross (palang merah internasional), melakukan perundingan.

Awalnya Kelly Kwalik menunjukkan itikad baik. Mereka berniat membebaskan beberapa sandera yang sakit, termasuk Martha Klein yang sedang hamil. Namun saat detik-detik pelepasan sandera, tiba-tiba Kelly Kwalik berubah. Dia berpidato dengan keras.

"Saya minta ubi harus dapat ubi, bukan minta ubi dikasih ketela." Artinya jelas, kemerdekaan harga mutlak untuk Kelly. Para sandera dan tim ICRC lemas, mereka sadar perundingan yang berliku ini menempuh jalan buntu.

Amerika menawarkan bantuan ke Kopassus untuk ikut dalam Operasi Pembebasan Sandera Tim Lorentz di Mapenduma, Papua.  Salah satu yang ikut serta dalam Tim Amerika adalah seorang Perwira menengah bernama Letkol Green. Ketika Briefing dengan beberapa Perwira Kopassus, tiba-tiba Letkol Green mengatakan: “Hanya James Bond yang bisa membebaskan sandera-sandera itu”.

Setelah selesai Briefing, salah seorang prajurit melaporkan apa yang dikatakan oleh Letkol Green kepada Prabowo Subianto, dan kemudian Prabowo langsung mendatangi Perwira Delta Force tersebut dan menamparnya hingga tersungkur.

Green hanya terheran-heran, tidak menyangka dia akan ditampar, Prabowo pun membentaknya: “Jika Kamu meremehkan Negara dan pasukan saya, saya bisa langsung menembak kepalamu!”

Prabowo pun menjelaskan kehebatan orang Indonesia: “Kami mengusir penjajah hanya dengan Bambu Runcing, kami adalah bangsa yang besar, jika kamu tidak suka, sekarang juga kamu angkat kaki dari negara saya!”

Maka Brigjen Prabowo langsung menggerakkan pasukan begitu mendengar lampu hijau. Pengintaian lewat udara dilakukan terus menerus. Sebuah pesawat tanpa awak yang bisa mendeteksi panas tubuh ikut digunakan. Bukan perkara mudah melacak jejak sandera di tengah belantara Papua. Tapi TNI terus menekan mereka.

OPM yang terdesak terus bergerak masuk hutan. Dalam keadaan panik, tanggal 15 Mei OPM membunuh dua anggota Tim Lorentz, Navy dan Matheis dibantai dengan kampak. Rupanya mereka berniat membunuh seluruh sandera yang berasal dari Indonesia dan hanya menyandera warga negara asing.

Untungnya sisa tim bisa melarikan diri. Mereka bertemu pasukan Linud 330 Kostrad yang telah mengikuti mereka berhari-hari. Pasukan pimpinan Kapten Agus Rochim tersebut menemukan permen dan pembalut wanita yang tercecer di hutan. Dua benda tersebut menambah keyakinan mereka tak jauh lagi dari sandera.

Tim berkekuatan 25 orang itu bermalam di hutan semalaman. Kapten Agus memanggil bala bantuan. Keesokan pagi, Tim Kopassus datang. Mereka bertugas mengamankan lokasi dan mengevakuasi jenazah Navy dan Matheis.

Setelah 130 hari disandera, para peneliti bisa menghirup napas lega. Mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Prabowo dan pasukannya panen pujian dari internasional. Bukan perkara mudah membebaskan sandera di tengah hutan Papua yang begitu lebat.(cam/geloranusa/berbagai sumber)

 

sam

No comment

Leave a Response