Indri Suwarti, Anak Seorang Kuli Truk Peraih Predikat Cumlaude

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menyelenggarakan Sidang Terbuka Senat Wisuda Doktor ke-6, Pascasarjana ke-67, Profesi ke-50, Sarjana ke-135, dan Diploma Tiga ke-114 pada hari Selasa 10 Desember 2019 di Gedung Graha Widyatama mulai pukul 08.00 WIB. 

"Pelaksanaan wisuda adalah prosesi akademik rutin yang dilaksanakan oleh Unsoed. Ada yang menarik di acara wisuda kali ini yakni turut diwisudanya Indri Suwarti anak kuli truk yang mendapatkan IPK 3,94 dengan predikat cumlaude, " ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum.Sementara Indri Suwarti mengisahkan perjalanan hidupnya hingga menempuh bangku kuliah di tengah keterbatasan keluarganya.

"Saya Indri Suwarti, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman. Saya merupakan anak yang dilahirkan dari keluarga yang biasa saja atau dapat dibilang kurang mampu. Ayah saya bekerja sebagai kuli truk dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Saya merupakan salah satu alumni SMK Negeri 3 Purwokerto, " kata Indri.

Indri menambahkan alasan dulu masuk SMK karena dia berpikir setelah lulus dapat langsung bekerja. Dia tidak menyangka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 dikarenakan keterbatasan biaya. 

"Jujur saya ingin sekali melanjutkan kuliah tetapi saya bingung dan saya tidak mau membebani orang tua saya. Saya juga memiliki adik yang harus di sekolahkan sehingga saya tidak meminta orang tua saya untuk menguliahkan saya. Namun, seiring berjalannya waktu saya diberikan dukungan oleh guru-guru saya di SMK agar saya melanjutkan kuliah dengan cara mendaftar bidikmisi, " jelasnya.

Akhirnya, Indri mendaftar SBMPTN sekaligus bidikmisi agar dapat melanjutkan kuliah. Orang tuanya sangat mendukung untuk kuliah, mereka sadar bahwa mereka tidak dapat membiayai sehingga mereka sangat bahagia ketika mendengar Indri akan mendaftar kuliah. 

"Saya menyiapkan segala sesuatu untuk memenuhi persyaratan bidikmisi. Sebelumnya, lulus dari SMK saya sudah bekerja menjadi kasir di salah satu restoran di Purwokerto. Sambil menunggu tes ujian SBMPTN dan pengumuman saya masih bekerja hingga akhirnya saya diterima kuliah. Saya dan orang tua kaget ketika mendapati pengumuman bahwa saya diterima kuliah di Unsoed. Rasanya seperti mimpi saya dapat kuliah, orang tua pun sampai nelangsa dn bersyukur mendengar berita tersebut. Akhirnya, saya keluar dari tempat kerja dan fokus melanjutkan kuliah, " terangnya.

Setelah itu Indri mulai menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa. Dia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dikarenakan dari kecil bercita-cita ingin menjadi guru. Perjalanan kuliah selama empat tahun penuh dengan lika-liku, baik masalah di bangku perkuliahan maupun masalah ekonomi. 

"Dengan keterbatasan ekonomi, orang tua saya berusaha memenuhi kebutuhan saya termasuk uang saku maupun uang untuk membeli buku. Ayah saya rela bekerja sebagai kuli truk di pagi-sore hari dan malam hari bekerja untuk muat buah kelapa demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Ayah saya rela kepanasan dan kehujanan setiap hari duduk di atas truk yang membawa muatan. Terkadang ketika uang bidikmisi belum cair dan saya memerlukan uang untuk kebutuhan kuliah, ayah saya sampai menjual ayam peliharaannya," kata Indri haru. 

Lanjutnya,  terkadang Indri juga bekerja parttime di saat hari libur untuk menambah penghasilan. Dia sering kali diberi uang saku hanya Rp 10.000 perhari. Uang tersebut ia gunakan untuk membeli bensin sehingga ketika di kampus jarang sekali untuk jajan karena uangnya sudah habis. 

"Saya lebih mementingkan bensin dari pada jajan. Saya sadar bahwa saya berasal dari keluarga tidak punya. Keluarga saya sering dihina oleh tetangga dan dibilang saya melanjutkan kuliah karena mengemis-ngemis meminta bantuan. Karena itulah, saya menjadi bersemangat dan selalu berusaha membuktikan kalau saya bisa berprestasi. Saya bercita-cita untuk lulus dengan IPK tertinggi atau dapat dikatakan sebagai lulusan terbaik. Oleh karena itu, saya selalu berusaha agar saya dapat meraih impian tersebut, " urainya.

Tambahnya lagi selama ini dia berusaha rajin belajar dan mengerjakan semua tugas dengan sungguh-sungguh agar hasilnya memuaskan. Terkadang sampai rela tidak tidur semalaman demi mengerjakan tugas yang sempurna.

"Saya tidak mau asal mengerjakan tugas apalagi sampai mengulang mata kuliah. Saya sadar bahwa yang membiayai kuliah saya adalah pemerintah maka saya tidak boleh mengecewakan pemerintah. Saya harus memenuhi kewajiban saya sebagai mahasiswa untuk selalu berprestasi agar dapat membanggakan orang tua, lembaga, dan pemerintah. Saya sangat gigih dalam menjalankan kuliah karena bagi saya kuliah merupakan suatu kesempatan emas bagi saya. Dari semester 1 sampai akhir saya selalu rajin belajar, tidak hanya pada saat ujian saja. Saya selalu mempelajari kembali apa yang telah diajarkan dosen pada hari itu agar saya tidak lupa. Saat ujian saya belajar dengan sungguh-sungguh sampai tidur larut malam. Saya juga merupakan tipe orang yang ketika sedang belajar tidak dapat diganggu maka ketika sedang ujian saya tidak mainan handphone, " terangnya. 

Saat mengikuti kuliah setiap hari Indri sempatkan duduk di bangku depan berhadapan dengan dosen, karena ketika duduk di belakang justru dia tidak dapat konsentrasi. Duduk di depan membuat dirinya menjadi paham akan mata kuliah dan lebih fokus. Dia menambahkan selama empat tahun dia tidak pernah membolos kuliah. Bahkan selalu datang ke kampus tepat waktu, sering menjadi mahasiswa yang hadir pertama di kelas.

"Saat musim hujan datang saya tetap bersemangat untuk kuliah dengan menerjang hujan deras tersebut. Tidak ada dalam kamus saya untuk titip absen apalagi membolos. Di semester akhir saya juga sangat bersemangat mengerjakan skripsi agar nilainya “A”. Saya rajin menunggu dosen dari pagi hingga malam. Saya juga pernah bimbingan skripsi sampai pukul 07.30 malam. Saya tidak patah semangat walaupun banyak revisi. Begitu pula ketika ujian komprehensif, saya mengumpulkan kembali buku-buku dari semester 1 dan mempelajarinya. Saya mipil belajar setiap hari agar tidak terlalu berat saat akan ujian. Itulah yang menjadikan saya lulus dengan IPK bagus, " katanya bangga.

Adapun suka dan duka yang ia alami selama kuliah Indri menceritakan, dia sangat senang dapat melanjutkan pendidikan sesuai dengan impiannya menjadi sarjana dan bisa membanggakan orang tua serta keluarga, memiliki teman baru, dan juga memperoleh ilmu baru. Dukanya adalah ketika dirinya dibully oleh teman karena tidak mau memberikan contekan saat ujian sehingga sering disindir-sindir. 

"Kendala yang saya hadapi selama kuliah adalah ketika laptop saya rusak dan saya tidak punya uang untuk membetulkannya. Sehingga saya harus rental ke warnet atau meminjam ke teman. Saya harus menunggu agar dapat membetulkannya. Kebetulan rumah saya dapat dibilang pelosok, ketika pagi-pagi hujan deras saya harus menerobosnya agar kuliah tidak terlambat. Motor saya juga sering mogok, jadi saya harus mencari tumpangan ke teman atau naik angkutan umum. Itulah sekelumit pengalaman hidup saya semoga menjadi inspirasi, " pungkas Indri penuh semangat.*(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response