Indonesia Desak Illegal Fishing, Termasuk Kejahatan Transnasional

Menilai pentingnya penetapan status Kejahatan Transnasional, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti berharap kelak antar negara tidak saja saling berbagi informasi, tetapi juga penyelidikan bersama.

Matamatanews.com, WASHINGTON, DC —  Akhir pekan kemarin, Dalam konferensi maritim "Our Ocean" yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri Amerika, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta negara-negara lain mengkategorikan penangkapan ikan secara ilegal sebagai kejahatan transnasional terorganisir.

Menurut Susi, penetapan ini dapat membuka jalan untuk saling berbagi informasi dan penyelidikan bersama. “Saya pikir sudah saatnya bersuara, karena jika dilihat bagaimana cara mereka beroperasi dalam penangkapan ikan secara ilegal atau IUUF (penangkapan ikan yang ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diregulasi), mereka sudah melibatkan perusahaan transnasional, jadi bukan hanya satu negara,” ujarnya.

Susi juga menambahkan “Satu kapal itu bisa 5-10 kali ganti bendera negara dan ganti nama negara, demi kelancaran administrasi dan kepemilikan. Kru atau ABK juga bisa multinasional, mereka yang di Indonesia memperbudak orang2 Myanmar, sementara yang WNI dipekerjakan di luar negeri. Yang saya kira lebih parah karena suhu dan cara kerja yang berbeda. Kita juga tahu adanya keterlibatan penyelundupan narkoba, senjata api dan lain-lain."

Meski belum memberikan tanggapan resmi tentang desakan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti. Wakil dari negara yang hadir pada saat itu menyadari sudah saatnya menghentikan illegal fishing ini.

Susi menilai penetapan ini sangat penting, selain berbagi informasi, namun juga bisa melakukan penyelidikan bersama, berbagi alat bukti dan kerjasama menggunakan teknologi canggih seperti “Global Fishing Watch”. Penggunaan teknologi ini disampaikan oleh bintang film dan aktivis lingkungan hidup Leonardo DiCaprio dalam forum tersebut. “Global Fishing Watch” adalah piranti gratis yang membuat setiap orang yang memiliki koneksi internet bisa melacak aktivitas kapal penangkap ikan di laut.

Google Earth Outreach adalah salah satu bagian Google, yang menggunakan infrastruktur perusahaan itu bagi isu-isu lingkungan hidup. Sementara SkyTruth adalah LSM yang membagi gambar-gambar satelit dan data penginderaan jarak jauh, untuk pertahanan sumber-sumber daya alam. Kedua teknologi ini mendapat sumbangan dana dari yayasan yang didirikan oleh DiCaprio. Namun menurut Susi, belum semua kapal memiliki alat pemantau kapal (vessel monitoring system/VMS). “Harus ditemukan cara lain untuk bisa mendeteksi aktivitas kapal, terutama kapal-kapal nakal yang menangkap ikan secara ilegal," ujarnya. [DH/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response