Indonesia Bisa berperan Adukan Myanmar ke HAM PBB

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Banyak yang marah dan geram terhadap penerima hadiah Nobel Perdamaian asal Myanmar sekaligus pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi. Petisi daring di charge.org, misalnya, telah menjaring 222 ribu pendukung yang mendesak Panitia Nobel mencabut hadiah bergengsi yang diberikan itu dari Aung san Suu Kyi.

Penindasan dan pembunuhan yang sedang dipertontonkan pemerintah Myanmar terhadap etnis Muslim Rohingya menurut Deputi IV Bidang Ekonomi dan Perbankan Telik Sandi Nusantara (TESRA)  Imbang Jaya, merupakan pelecehan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan hak azasi manusia. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa memainkan peran penting guna menyelesaikan konflik berdarah di Myanmar.

“ Salah satunya bisa mengadukan Myanmar ke dewan hak azasi manusia (HAM) PBB atas tindakan dan perilakunya terhadap etnis muslim Rohingya. Selain itu Indonesia juga bisa menjadi penggerak utama untuk mendesak PBB mencabut hadiah Nobel Perdamaian yang diberikan kepada  Aung San Suu Kyi,” jelas Imbang Jaya dikantornya di bilangan Cibubur, Minggu (3/9/2017).

Meski menurut Yayasan Nobel, pemberian Nobel terhadap seseorang tidak dimungkinkan untuk dicabut atau dibatalkan. Pasal 10 dalam Yayasan Nobel mengenai naik banding menyebut “ Tidak ada banding dapat dilakukan terhadap keputusan badan pemberian Nobel sehubungan dengan pemberian hadiah”.

 “ Tapi sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa memainkan peran pentingnya. Baik di komunitas regional maupun internasional dengan mempertimbangkan untuk mengambil inisiatif memimpin negara-negara di kawasan ASEAN dan komunitas internasional  untuk menyeret pemerintah Myanmar ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat kemanusiaan,” kata Imbang.

Lebih lanjut Imbang mengatakan, sebagai salah satu anggota ASEAN sebenarnya Indonesia memiliki kemampuan untuk menjadi penengah dalam konflik di Myanmar. Dan tindakan pemerintah Myanmar sudah keterlaluan dan tidak lagi menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

“ Sejauh ini baru Presiden Turki  saja yang berteriak lantang, bahkan  akan mengirimkana pasukan khususnya ke Myanmar. Sementara negara-negara lain seakan menutup mata atas tragedi kemanusiaan terhadap muslim Rohingya di Myanmar,” tegas Imbang.

” Sayangnya saya bisa mengatakan bahwa dunia ini buta dan tuli terhadap apa yang sedang terjadi di Myanmar,” kata Erdogan dalam sebuah wawancara di televisi yang disiarkan langsung untuk menandai tiga tahun kepemimpinannya. ”Tidak mendengar dan tidak melihat,” imbuh dia, yang dilansir AFP, pada Selasa (29/8/2017) lalu. (icam)

 

sam

No comment

Leave a Response