Imbas Sengketa Teluk, Kuwait Perketat Visa Bagi Warga Lebanon

 

Matamatanews.com, KUWAIT CITY—Sumber keamanan di Emirat pada hari Rabu (10/11/2021) kemarin mengatakan akan memberlakukan pembatasan visa bagi warga Lebanon.Pembatasan tersebut imbas dari pertikaian diplomatik antara Beirut dan negara-negara Teluk.

"Keputusan lisan telah diambil untuk lebih ketat dalam memberikan visa turis dan bisnis kepada warga Lebanon," kata sumber itu kepada AFP seperti dikutip BOL News, Pakistan, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Sumber itu menegaskan sejauh ini keputusan resmi belum dikeluarkan dan visa bagi pengunjung dari Lebanon masih berjalan seperti biasanya.

Seperti diketahui, negara tetangga, Arab Saudi , dan Kuwait telah menarik duta besarnya dari Beirut setelah menteri informasi Lebanon mengecam intervensi militer yang dipimpin Riyadh dalam konflik Yaman hingga memicu pertikaian dengan sejumlah negara Teluk.

Kuwait yang selama  ini menjadi  rumah bagi 50 ribu warga Lebanon, dan diplomat berpangkat tinggi di Emirat juga telah meminta kuasa usaha Beirut untuk meninggalkan  negara itu.

Duta besar Lebanon untuk Arab Saudi dan Bahrain pada hari Rabu bertemu dengan Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati di Beirut untuk membahas dampak krisis pada komunitas ekspatriat negara itu.

Mereka menyatakan "ketakutan akan dampak yang memburuk pada hubungan bilateral antara Lebanon dan negara-negara Teluk dan kepentingan warga Lebanon yang tinggal di negara-negara ini," menurut sebuah pernyataan dari kantor perdana menteri.

Lebih dari 300.000 orang Lebanon tinggal di negara-negara Teluk Arab, menyediakan jalur kehidupan utama bagi ekonomi Lebanon yang goyah, menurut think tank Pasar Tenaga Kerja Teluk dan Migrasi.

Perselisihan diplomatik terbaru telah berubah menjadi pertikaian atas gerakan Syiah Lebanon yang kuat, Hizbullah, yang didukung oleh Iran, saingan regional dari kekuatan Sunni Arab Saudi.

Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan dominasi Hizbullah atas politik Lebanon membuat "berurusan dengan Lebanon tidak ada gunanya bagi kerajaan".

Menurut media lokal, Kuwait, yang memiliki komunitas Syi’ah yang cukup besar, saat ini menahan 16 warganya sendiri yang dicurigai membantu membiayai Hizbullah.

Pada 2015, Kuwait mengatakan telah membongkar sel yang dituduh berkolusi dengan Iran dan Hizbullah.

Arab Saudi juga mengumumkan larangan impor Lebanon.

Menurut kamar dagang Lebanon, kerajaan Arab Saudi adalah pasar ekspor terbesar ketiga Lebanon, menyumbang enam persen dari ekspor negara itu pada tahun 2020 hingga mencapai $ 217 juta,(cam)

redaksi

No comment

Leave a Response