Imbang Tuding Benyamin Netanyahu Menyabotase Proses Perdamaian Untuk Mengakhri Perang

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Ketua Lembaga Ekonomi Islam (LEI) Ir.Abdurrahman Imbang Djaja Chairul menuding Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyabotase proses perdamaian hingga aksi genosida  pasukan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza terus berlangsung.

“Sejauh ini saya belum melihat adanya itikad baik dari Israel terutama Benyamin Netanyahu sebagai Perdana Menteri untuk mengakhiri perang di Gaza, padahal desakan maupun tekanan komunitas internasional di forum PBB dan negara-negara OKI sudah  keras sekali, tapi tidak ditanggapi bahkan diacuhkan.Akibatnya, kini  Israel semakin leluasa melakukan pembantaian atau genosida di wilayah Palestina yang terkepung,” kata Imbang kepada Matamatanews.com.

Kata Imbang meski tuntutan gencatan senjata permanen dan penarikan penuh  militer Israel dari Gaza telah diajukan oleh Hamas, namun pada hari Minggu (5/5/2-24) kemarin, tuntutan itu kembali ditolak oleh Benyamin Netanyahu.

“Itu artinya Israel tidak ingin adanya gencatan senjata permanen apalagi penarikan pasukan dari Gaza, sementara  pasukan Israel dengan leluasa melakukan genosida dan pembantaian terhadap warga Palestina , baik yang di Gaza maupun yang melarikan diri sebagai pengungsi di perbatasan Rafah, Mesir,” kata Imbang.

Sebenarnya, lanjut Imbang kesepakatan bisa tercapai bila Israel benar-benar berkomitmen untuk mengakhiri perang dan membuang jauh arogansinya terhadap proposal perdamaian yang diajukan kelompok Hamas.Karena poin utama pertentangan dalam kesepakatan itu adalah permintaan Hamas agar Israel menghentikan perang secara permanen.

“Penolakan proposal perdamaian oleh Benyamin Netanyahu semakin membuktikan bahwa Israel tidak lagi menghargai dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan .Israel merasa digdaya karena mendapat dukungan penuh  dari Amerika Serikat, Inggris maupun Perancis sehingga tidak menggubris usulan negara-negara yang meminta untuk dilakukan penghentian perang secara permanen di Gaza. Saya setuju dengan pernyataan ketua Hamas Ismail Haniyeh yang mengatakan bahwa  Benyamn  Netanyahu menyabotase proses perdamaian untuk mengakhiri perang di Gaza. Yang membuat saya heran, meski Israel terus melakukan genosida dan pembunuhan terhadap warga Palestina, namun sejauh ini belum ada keberanian atau tindakan tegas dari negara-negara Islam di kawasan semenanjung Arab untuk bertindak tegas atau memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.Sungguh memalukan, dan miris melihat sikap negara-negara islam yang tidak bersatu dalam membela Palestina,” pungkas Imbang.(bar)

Imbang accuses Benyamin Netanyahu of sabotaging peace process to end war

Matamatanews.com, JAKARTA - Chairman of the Islamic Economic Institute (LEI) Ir.Abdurrahman Imbang Djaja Chairul accused Israeli Prime Minister Benyamin Netanyahu of sabotaging the peace process until the genocide of Israeli troops against Palestinians in the Gaza Strip continues.

"So far I have not seen any good faith from Israel, especially Benyamin Netanyahu as Prime Minister to end the war in Gaza, even though the insistence and pressure of the international community in the UN forum and the OIC countries have been very loud, but not responded and even ignored.As a result, now Israel is increasingly free to carry out massacres or genocide in the besieged Palestinian territories, "Imbang told Matamatanews.com.

Imbang said that although the demand for a permanent ceasefire and full withdrawal of the Israeli military from Gaza had been submitted by Hamas, but on Sunday (5/5/2-24) yesterday, the demand was again rejected by Benyamin Netanyahu.

"That means Israel does not want a permanent ceasefire let alone the withdrawal of troops from Gaza, while Israeli troops freely commit genocide and massacres against Palestinians, both those in Gaza and those fleeing as refugees at the Rafah border, Egypt," said Imbang.

Actually, continued Imbang, an agreement can be reached if Israel is truly committed to ending the war and discarding its arrogance towards the peace proposal submitted by the Hamas group, because the main point of contention in the agreement is Hamas's demand that Israel stop the war permanently.

"The rejection of the peace proposal by Benyamin Netanyahu further proves that Israel no longer appreciates and respects humanitarian values.Israel feels empowered because it has the full support of the United States, Britain and France so that it ignores the proposals of countries that ask for a permanent cessation of war in Gaza. I agree with Hamas leader Ismail Haniyeh's statement that Benyamin Netanyahu is sabotaging the peace process to end the war in Gaza. What amazes me is that although Israel continues to commit genocide and murder against Palestinians, so far there has been no courage or decisive action from Islamic countries in the Arabian Peninsula to act decisively or break diplomatic relations with Israel.It is shameful and sad to see the attitude of Islamic countries that are not united in defending Palestine," concluded Imbang.(bar)

 

 

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response