Imbang Jaya Tuding Tentara Myanmar Lakukan Genosida Terhadap Muslim Rohingya

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Ketua Lembaga Ekonomi Islam (LEI) Imbang  Jaya  membenarkan bahwa kekerasan dan penindasan yang dilakukan junta militer Myanmar terhadap etnis Muslim Rohingya bukan sekedar kecemburuan ekonomi dan ketidaksukaan atas suku melainkan bermotif politik.

“Apa pun alasan mereka dan mengatakan  penindasan dan kekerasan terhadap Muslim Rohingya tidak bermotif politik dan agama sangat menyesatkan. Sudah jelas kok, bahwa junta militer Myanmar melakukan kekerasan atas minoritas Muslim Rohingya dan itu dilakukan secara sistemik.Bahkan  perserikatan bangsa-bangsa s endiri menyebut sebagai tindakan genosida,” ungkap Imbang Jaya  kepada  Matamatanews.com, Sabtu (15/12/2018) di bilangan Sawangan Bogor, Jawa Barat.

Sementara itu, menanggapi adanya keterlibatan Bikshu Ashin Wirathu yang vokal dan mengkampanyekan  anti-Muslim Rohingya di Myanmar, Imbang mengatakan bahwa  tindakan  bikshu tersebut sudah masuk kategori eksremes. Imbang keberatan dengan pernyatan pemerintah Myanmar maupun sekelompok orang yang menyatakan bahwa kekerasan dan kekejaman tentara Myanmar di Rakhine terhadap etnis Muslim Rohingya  tidak terkait dengan agama.

“Pernyataan tersebut sangat menyesatkan dan seakan mencoba mengalihkan perhatian mata komunitas internasioal atas penderitaan yang dialami muslim Rohingya  di Rakhine, Myanmar . Seluruh mata dunia menyaksikan bagaimana  tentara Myanmar  melakukan kekerasan terhadap etnis  Muslim Rohingya di Rakhine, para wanitanya banyak yang diperkosa , anak-anaknya dibunuh serta rumahnya dibakar,” tegas Imbang, serius.

Imbang  yakin bahwa aksi brutalisme dan kekerasan yang dilakukan tentara Myanmar  dan sikap ekstremis bikshu Ashin Wirathu dilakukan secara sistemik dan terorganisir sehingga ketika dilakukan penyelidikan akan ditemukan benang merah dibalik aksi kekejaman tersebut.

“Dewan perwakilan rakyat Amerika saja menyatakan pembantaian yang dilakukan pasukan Myanmar terhadap Muslim Rohingya merupakan genosida, sehingga sangat tidak logika sekali bila mengatakan bahwa aksi kekerasan dan kekejaman yang dilakukan tentara Myanmar tidak mimiliki agenda terselubung, dan itu kental sekali aroma  rasialisnya terhadap agama terutama  muslim Rohingya,”kata  pengamat dunia Islam dan pegiat bisnis untuk Timur Tengah dan Eropa, Imbang Jaya.

Seperti dilansir CNN, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan Amerika Serikat, Ed Royce menyatakan bahwa  Amerika memiliki kewajiban moral untuk menyebut kejahatan di Myanmar sebagai genosida. “ Amerika Serikat memiliki kewajiban moral untuk menyebutka kejahatan ini sebagai genosida. Kegagalan menyebutkan fakta ini membuat para pelaku terhindar dari tanggung jawab mereka ke pengadilan. Dengan resolusi ini, Dewan Perwakilan telah memenuhi tugasnya,” kata Ed Royce.

Dalam laporan pada 27 Agustus lalu, para penyelidik Amerika Serikat mengatakan militer Myanmar telah melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan terhadap sejumlah etnis Rohingya. “Artinya, Adewan Perwakilan Amerika Serikata saja sudah mengeluarkan pernyartaan yang keras,dan mengatakan bahwa tentara Myanmar telah melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan terhadapetnis Rohingya, masak kita masih mengatakan bahwa itu bukan kejahatan dan tidak ada kaitannya dengan ras atau agama, terlalu dan picik sekali cara berpikirnya,” ucap Imbang mengakhrii. (sam)

 

 

sam

No comment

Leave a Response