Imbang Djaja Setuju Pernyataan Erdogan Bahwa Umat Islam Dibantai di India

 

Matamatanews.com, SAWANGAN, DEPOK—Pengamat dunia Islam Imbang Djaja mengamini dan sepakat terhadap pernyataan  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahwa ,“ India telah menjadi negara di mana pembantaian tersebar luas. Orang-orang Hindu membantai umat Islam,” kata Imbang mengutip pernyataan Erdogan yang dikutip Ahvalnews, pada Jum’at (28/2//2020) kemarin.

Meski pemerintah India membantah tuduhan telah menutup mata terhadap aksi gerombolan masyarakat Hindu radikal yang menyerang umat Islam seperti rumah,toko, dan masjid, namun kata Imbang bentrokan kekerasan yang berujung puluhan jiwa melayang dan ratusan orang luka-luka membuat pemerintah India tercoreng  dimata internasional.

“ Tidak salah bila kemudian Erdogan mengatakan bahwa umat Islam dibantai di India, dan seharusnya pernyataan itu keluar dari para pemimpin negara-negara Islam dalam menyikapi tindakan kekerasan yang berujung pembakaran masjid maupun properti milik muslim di India.

Dan kita harus akui bahwa Turki adalah negara paling kritis dan vokal dalam menyikapi kebijakan India di Kashmir, bahkan dalam pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada bulan November 2019 lalu, Erdogan mengatakan ada sekitar delapan juta orang terkurung blokade di wilayah tersebut,” kata Imbang kepada Matamatanews.com, Sabtu (29/2/2020) yang dihubungi via sambungan selular dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Menurut Imbang, meski pihak kepolisian India telah menangkap 514 orang yang diduga terkait dengan aksi kekerasan mematikan antara umat Hindu dan Muslim yang terjadi di New Delhi, bukan berarti India sudah bebas dari kecaman internasional.Ia menilai aksi penangkapan yang dilakukan pemerintah India terhadap para pelaku tidak memiliki arti apapun.

“ Karena penangkapan tersebut dilakukan ditengah meningkatnya kecaman internasional lantaran India dianggap tidak mampu dan gagal dalam melindungi kelompok minoritas Muslim, bahkan Reuters pada Jum’at (28/2/2020) kemarin menulis bahwa pihak kepolisian masih mencari mayat korban di saluran air dan rumah-rumah yang dibakar. Dan kekerasan itu dimulai karena adanya undang-undang kewarganegaraan yang diperkenalkan oleh pemerintah nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi pada Desember lalu. Dan Undang-undang kewarganegaraan itu hanya memberikan warga negara  kepada enam kelompok agama dari negara tetangga, tetapi tidak untuk umat Islam,” Jelas Imbang.

Meski undang-undang tersebut dikecam banyak pihak dan dianggap diskriminatif  bagi umat Muslim tampaknya India tetap keukeh dengan pendiriannya hingga berujung bentrokan kekerasan,tambah Imbang.

”Belum lagi kebijakan lain yang dilakukan India seperti penarikan otonomi bagi Jammu dan Kashmir yang mayoritas Muslim membuat hidup dan rasa aman serta masa depan dua ratus juta umat Islam di India semakin suram. Kita butuh pemimpin yang berani dan tegas seperti Erdogan, berani  menyeruakan ketidakadilan, bersikap tegas dan peduli terhadap nasib serta hidup sesama muslim bila diperlakukan tidak manusiawi meski dilakukan oleh negara besar sekalipun,” tegas Imbang.(icam)

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response