Hari Museum Indonesia 12 Oktober, "Museum Kita Di Masa Pandemi"

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Pandemi Covid-19 berdampak pada museum-museum yang ada di berbagai negara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perlu dibahas menyeluruh paradigma baru dalam dunia permuseuman untuk kemajuan dunia museum di Indonesia. Hal tersebut  diungkapkan Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum. usai bincang-bincang jarak jauh dengan Kepala Museum Nasional Indonesia (2017-2020) Drs.Siswanto,MA.

Drs.Siswanto, MA. yang juga Alumni Fakultas Biologi Unsoed ini menjelaskan bahwa mengapa dirinya menyebut “Museum kita”.

"Ya betul demikian bahwa museum itu sejatinya untuk kita. Bukan untuk  si Anu, untuk si Itu, untuk kelompok Anu, untuk kelompok Itu, dan seterusnya, tetapi “untuk kita”. Sejak dideklarasikan atau dinamakan menjadi sebuah museum, maka sebenarnya diperuntukkan bagi publik," kata Siswanto. 

Walaupun bendanya pada pemilik museum lanjut Siswanto, tetapi hak yang perlu dibagikan kepada kita yaitu informasinya. Karena museum itu sebagai gudangnya informasi, dan ibarat memori yang menyimpan seluruh aspek hidup dan kehidupan di muka bumi. 

Museum melestarikan dan menyimpan koleksi sebagai bukti-bukti tentang keanekaragaman alam dan sumber dayanya, tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa alamnya, sejarah peradaban bangsa, sejarah tokoh, sejarah perjuangan atau kejayaan maupun sejarah kelam suatu bangsa, sejarah kebudayaan, sampai teknologi dan lainnya.

Pamong Budaya Ahli Utama Bidang Permuseuman Kemendikbudristek (2021-sekarang) ini mengatakan bahwa pada peringatan hari Museum Indonesia tanggal 12 Oktober pada dua tahun terakhir (tahun 2020-2021) kali ini tercatat dalam situasi kelabu terutama bagi para pengelolaan museum. 

Pandemi Covid-19 kata Siswanto, membatasi kunjungan publik dan interaksi lain di dalam museum. 

"Seperti kita tahu bahwa dampak ini terjadi pada museum-museum di seluruh dunia. Hampir semua fungsi dan kegiatan museum lumpuh terutama yang berbentuk kerumunan orang. Kecuali fungsi atau kegiatan yang bersifat esensial pelestarian (pengamanan, konservasi, dan perawatan koleksi) tetap berjalan seperti biasanya bahkan semakin ditingkatkan dengan protokol kesehatan," jelasnya. 

Menurut Alumni S2 Magister Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta, kondisi dan situasi ini bagi museum yang dikelola dengan pendanaan stabil (misal museum-museum pemerintah) eksistensinya tidak ada masalah yang signifikan, namun terdapat beberapa museum yang diberitakan terpaksa tidak beroperasi atau menyatakan tutup dengan jangka waktu tidak ditentukan. 

"Bisa kita pahami bagaimana dampak pada museum-museum yang biaya operasionalnya mengandalkan sumber pemasukan dari kunjungan wisatawan, sponsor, yayasan, dan pemasukan dari aktivitas bisnis lainnya. Tak lebih seperti yang kita saksikan, bahwa dalam kondisi normal saja banyak museum sepi pengunjung, sepi minat walaupun pengelola berusaha sedemikian susah payah dalam upaya menarik pengunjung. Tentu saja  masa pandemi yang melarang kerumunan adanya pengunjung ke museum sangat berdampak terhadap sesaknya gerak nafas museum," ucapnya.  

Di lain pihak lanjut Siswanto, keadaan museum pada masa pandemi ini tampaknya disikapi beragam oleh insan-insan pengelolanya, terutama dalam hal fungsi mengkomunikasikan dan edukasi kepada publik. Ada yang bersikap bahwa pandemi bukan dianggap halangan tetapi justru sebagai tantangan, di mana  mereka yang kreatif dan inovatif untuk menyikapi keadaan. Tetapi tampak ada yang bersikap pasrah, tidak tahu harus berbuat apa yang penting koleksinya dan pegawainya aman sambil menunggu pulihnya keadaan. 

Sikap yang terakhir ini wajar saja, hampir semua institusi terkaget-kaget oleh wabah pandemi, dan karena tidak pernah terbayang apa pun sebelumnya. Dalam kondisi ini dapat dikatakan bahwa kondisi semua museum sebetulnya hanya bertahan agar bendera museum tetap berkibar (eksis di masyarakat). Munculnya ide kreativitas dan inovasi-inovasi itulah adalah upaya spontan agar bagaimana caranya untuk bertahan bisa melayani sejauh yang bisa dilakukan. 

Di sisi lain, Drs.Siswanto, MA. mengatakan daftar kegiatan yang telah direncanakan oleh pengelola bagaimanapun caranya harus dilaksanakan terutama bila berasal dari anggaran pemerintah. Oleh karena itu, kreativitas dan strategi dimaksudkan sebatas bagaimana cara pelaksanaannya sehingga anggaran dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Bagaimana para pengelola museum mengisi dengan mengubah strategi kegiatannya tanpa menimbulkan kerumunan? Dan bagaimana fungsi sosialisasi informasi dan edukasi kultural tetap berjalan?. 

Tertantang betul utamanya museum-museum yang rutin menjadi kunjungan rombongan sekolah-sekolah sebagai bagian kegiatan belajar mereka. Maka terpiculah bentuk layanan jarak jauh melalui cara virtual atau digital. Dan benar saja kalau kita perhatikan hampir semua bentuk kreativitas mengarah pada bentuk-bentuk produk digital seperti;  virtual tour museum, pemanduan virtual, pameran daring, ada lomba cerdas cermat museum daring, dan webinar yang membahas berbagai topik tentang permuseuman.

Lebih lanjut Siswanto menjelaskan bahwa mengarahkan pengunjung berinteraksi ke museum secara virtual sebenarnya dibutuhkan sumber daya yang belum tentu murah dan mudah, namun dipastikan berbeda dari biasanya. 

"Bisa berbeda karena persiapan sumber daya manusianya, persiapan objek koleksi beserta narasinya, sarana dan prasarana produksi, dan yang penting berkaitan dengan kecukupan dana. Hasil produksi digital/virtual tersebut saat pasca pandemi berpotensi untuk dilanjutkan operasionalnya dengan sistem hibrid, yaitu dapat interaksi langsung (luring) dan secara daring melalui gawai," terangnya.

Dijelaskan, apabila produk-produk digital yang dihasilkan selama ini dikelola dan dikembangkan secara profesional pada pasca pandemi nanti, maka museum tersebut sebenarnya mampu menuju museum elektronik (E-Museum). 

"Sedikit perlu diketahui bahwa konsep E-museum sebenarnya sebagai gagasan usang yang dihasilkan pada pertemuan internasional “Third International Conference of Museology & Annual Conference of AVICOM” di Kota Mytelene, Yunani Juni tahun 2006 yang lalu.  Konsep ini memang ideal dan relevan untuk dikembangkan pada museum masa depan pada era digital, namun kekurangannya adalah agak rumit dan perlu biaya mahal sehingga gagasan tersebut belum banyak yang mengaplikasikannya. Kelebihan tentu ada yaitu informasi akan lebih luas dijangkau masyarakat, kapan saja ada kesempatan dan dimana saja berada dapat mengakses informasi. Dalam jangka panjang akan lebih murah biaya operasionalnya," imbuh Siswanto.

Ketika ditanya kapan terwujudnya  E-Museum di Indonesia, Siswanto menjelaskan bahwa hal ini suatu tantangan, dan pengalaman bahwa pandemi ini menjadi pertimbangan bahwa E-museum di Indonesia sebaiknya diterapkan secara fleksibel dan hibrid. 

"Kombinasi antara  daring (individual) dan luring (interaksi) sambil berwisata  akan menambah kualitas wawasan si pengunjung. Memaksa adanya interaksi ini sangat beralasan karena budaya masyarakat Indonesia yang terbuka dan gemar bersilaturahmi (berkumpul), dan rasanya tidak “nendang” kalau hanya pintar dan paham museum tapi cuma di rumah," jelasnya.

Lalu, bagaimana dengan fungsi museum sebagai tempat rekreasi?. Siswanto menjelaskan bahwa perlu kesabaran karena menunggu pemulihan keadaan. 

"Memang sajian koleksi museum lewat daring (virtual) ada kelebihannya, yaitu mendapat informasi subjek yang mendalam, praktis, ekonomis,  dapat kita ulang-ulang, serta diperlukan kapan saja. Namun dari sisi “cita rasa/taste” nya berbeda bila kita bisa berkunjung langsung berinteraksi dengan objek dan lingkungannya. Disinilah unsur “rekreasi” sebenarnya bahwa ke museum itu ada yang didapatkan dan ada yang dirasakan. Oleh karena itu, alangkah lengkapnya saat memperoleh pembekalan lewat daring lalu dapat dilanjutkan dengan kunjungan luring ke museum, semoga saja pandemi segera berakhir," harapnya. 

"Demikian, sedikit informasi kondisi “Museum Kita” di masa pandemi ini dan silakan beri masukan kepada kami bagaimana museum kita ke depan.Salam “Museum di hatiku”," pungkas Siswanto. (hen)

redaksi

No comment

Leave a Response