Gerakan "Dokter Tani", Guna Membangun Ketahanan Pangan Dan Kesehatan Masyarakat

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO - Lebih dari setahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Namun, kondisi ini tak menghalangi akademisi Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto bersama praktisi industri pertanian, bersinergi memadukan ilmu dan inovasi teknologi dalam "Gerakan Dokter Tani", untuk membangun ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat akan terbangun oleh kuatnya ketahanan pangan dan gizi keluarga.

Dosen Fakultas Pertanian Unsoed Dyah Susanti,SP MP memaparkan bahwa program yang diinisiasi Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.M.Zaenuri Syamsu Hidayat,Sp.KF.,M.Si.Med. dan rekan-rekan sesama dokter bersama peneliti dan praktisi bidang pertanian ini meyakini bahwa masyarakat yang sehat tidak hanya cukup bertumpu pada kesehatan fisik yang didukung kecukupan pangan,  gizi, dan pola hidup saja, akan tetapi juga kesehatan mental dan kesejahteraannya. 

"Petani merupakan bagian masyarakat yang menjadi tumpuan utama ketahanan pangan, perlu mendapat perhatian agar terus mampu berperan dengan optimal," kata Dyah Susanti.

Lebih lanjut Dyah Susanti menjelaskan bahwa pemanfaatan inovasi teknologi varietas unggul padi yang dihasilkan Fakultas Pertanian Unsoed, yaitu Inpago Unsoed 1 dan pupuk organik menjadi komponen penting dalam upaya peningkatan produksi padi. 

"Inovasi teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan di wilayah binaan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kembaran yang berada di lingkup kerja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas," ungkap Dyah Susantu saat acara "Farm Field Day dan Diseminasi Ipteks" di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas, Rabu (09/06/2021).

Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, Ir.Jaka Budi Santosa,MM., Koordinator BPP Kecamatan Kembaran, Emy Triyanti, STP, dan Jajaran Penyuluh diantaranya Jumeri, S.P., M. Arifudin, S.P., Siti Badriyah, S.P.M. bersama akademisi kedokteran dan ilmu kesehatan Unsoed yaitu dr M Zaenuri Syamsu Hidayat, Sp.KF., M.Si. Med., dr. Lieza D.S., M.Kes, dr. Wiwiek Fatchurohmah, M.Sc., dan Eri Wahyuningsih, S. Ked., M.Kes.  

Sedangkan pendampingan teknologi varietas unggul dan budidaya melibatkan Dyah Susanti, S.P., M.P., Agus Riyanto, S.P., M.Si (keduanya pemulia padi dan peneliti bidang pertanian), Muh. Munawar, S.P., M.P. (praktisi industri pertanian), Prof. A. YPBC Widyatmoko (peneliti dan praktisi industri pertanian) serta dr. M.M. Hari Suzanna K.N. (praktisi kesehatan dan industri pertanian). 

Peserta kegiatan adalah penyuluh dan ketua kelompok tani desa-desa wilayah binaan BPP Kecamatan Kembaran. 

Berbagai materi disampaikan dan didiskusikan dalam diseminasi Ipteks ini, di antaranya pengenalan padi varietas-varietas unggul baru dan pupuk organik dalam perbaikan kesuburan tanah guna mendukung produksi padi berkelanjutan. Disampaikan juga tentang pencegahan penyakit-penyakit menular melalui tanah untuk memberikan bekal bagi petani dan penyuluh agar tetap sehat dalam menjalankan perannya. 

Menurut Dyah Susanti,SP.,MP. hadirnya Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas Ir.Jaka Budi Santosa,M.M. dalam acara tersebut memberikan penguatan akan pentingnya sinergi dalam membangun pertanian. Kepala Dinas juga memberikan arahan pentingnya pemanfaatan sumber daya desa dan korporasi petani dalam penguatan bidang pertanian, guna meningkatkan kesejahteraan petani.

Dyah Susanti yang juga Peneliti Padi Fakultas Pertanian Unsoed ini menambahkan bahwa penggunaan varietas unggul Inpago Unsoed 1 yang dirakit oleh Prof.Dr.Ir.Suwarto,MS. dan Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,MP.,PhD. ini menyiasati kondisi lahan Desa Pliken yang mengalami keterbatasan air pada musim tanam kedua dan ketiga, serta rendahnya tingkat kesuburan tanah akibat aktivitas industri batu bata yang berlangsung bertahun-tahun. 

Dikatakan Dyah Susanti, hilangnya lapisan top soil menyebabkan daya dukung tanah semakin menurun. 

"Keunggulan Inpago Unsoed 1 yang bersifat amfibik, yaitu unggul di lahan sawah dan berdaya hasil tinggi di lahan kering, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi padi secara berkelanjutan," terangnya.

Kualitas hasil padi Inpago Unsoed 1 yang memiliki rendemen tinggi kata Dyah, nasinya bertekstur pulen dan wangi, mudah diterima pasar. 

"Bekerja sama dengan Teaching Industry Unsoed, hasil padi yang nantinya dipanen dari demplot ini akan diolah dan dipasarkan lebih lanjut sebagai beras premium," imbuhnya.

Pada musim tanam berikutnya lanjut Dyah, akan dikembangkan  produksi padi berkelanjutan memanfaatkan varietas-varietas unggul padi Unsoed yang tidak hanya berproduksi tinggi tetapi juga fungsional.

"Diantaranya varietas unggul padi protein tinggi, Inpago Unsoed Protani, dan Inpari Unsoed P20 Tangguh, keduanya hasil karya tiga pemulia dan peneliti Fakultas Pertanian Unsoed, yaitu Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,MP.,PhD., Agus Riyanto, SP., M.Si dan Dyah Susanti, S.P., M.P. yang baru saja dilepas sebagai varietas unggul baru nasional berdasarkan SK. Menteri Pertanian Republik Indonesia," pungkasnya.

Pemanfaatan inovasi teknologi dalam "Gerakan Dokter Tani" berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan industri ini diharapkan semakin memantapkan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. (Hen)

redaksi

No comment

Leave a Response