FBI Rilis Bukti Kuat Intervensi Rusia Di Pemilu AS

 

Matamatanews.com, WASHINGTON DC Federasi Bureau of Investigation (FBI) merilis laporan terkait dugaan intervensi Rusia dalam pemilu Amerika Serikat (AS) pada November lalu. Biro Investigasi Federal ini mengaku kantongi bukti sampel kode komputer berbahaya yang digunakan dalam peretasan besar-besaran oleh Rusia.

Badan intelijen Rusia, FSB mengirimkan tautan surat elektronik (surel) berbahaya pada pertengahan 2015 lalu kepada lebih dari, 1.000 penerima termasuk pemerintah AS dan Komite Nasional Partai Demokrat (DNC) menjadi salah satu penerima tautan surel berbahaya tersebut. Hal ini berdasarkan laporan setebal 13 halaman yang dirilis FBI, Kamis (29/12/2016) kemarin.

“Para hacker memperoleh akses masuk untuk mencuri sejumlah informasi sensitive termasuk surel internal yang mengarah kepada pencurian informasi dari sejumlah pejabat senior partai,” ungkap FBI.   

Seperti dilansir Reuters, laporan ini menguatkan temuan sebelumnya yang dilakukan perusahaan siber swasta CrowdStrike terkait sistem internal DNC yang sempat diretas. Hal ini juga menjadi dasar penyelidikan lembaga intelijen AS.

“Sebagian besar informasi yang dirilis dalam laporan tersebut bukan hal baru. FBI sulit menjelaskan keseluruhan hasil peyelidikan karena menjaga kerahasiaan sumber intelijen,” ujar narasumber yang tidak disebut namanya.

Laporan FBI yang dirilis tersebut merupakan analisis teknis dan rinci pertama terkait kasus peretasan DNC. Namun, dalam laporan itu tidak menyebutkan nama entitas peretas apalagi menegaskan kembali bahwa Rusia benar-benar terlibat dalam pemilu AS.

Sementara, CIA dan Kemeterian Keamanan Nasional sebelumnya telah membenarkan upaya Moskow mengintervensi pemilu AS untuk memenangkan Donald Trump. Bersamaan dengan rilisnya laporan FBI, Presiden Barack Obama memutuskan untuk menerapkan sejumlah sanksi diplomatis serta ekonomi terhadap Rusia, termasuk dengan mendeportasi 35 diplomat Rusia dari AS.

Tuduhan serta sanksi tersebut menandakan ketegangan baru antara kedua negara setelah masa Perang Dingin berlangsung. Sementara, sampai saat ini Rusia tetap konsisten menyangkal segala tudingan terkait keterlibatan dalam pemilu AS. (Adith/Berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response