El Nino Diduga Picu Meningkatnya Wabah Kolera di Afrika Timur

 

Matamatanews.com, AFRIKA TIMUR – El Nino merupakan fenomena iklim global yang terjadi pada saat-saat yang tidak teratur, kurang lebih setiap dua hingga tujuh tahun.

Menurut peneliti, dengan memiliki kemampuan untuk memprediksi tibanya fenomena El Nino, kesiagaan untuk meningkatankan kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan. Hal ini berkaitan, antara fenomena cuaca tersebut dengan jumlah kasus klorea di Afrika bagian timur.

Ketika terjadi El Nino, suhu permukaan samudra pasifik timur di lepas pantai Amerika Serikat menjadi lebih hangat dari biasanya. Pada musim gugur pun suhu permukaan laut di Pasifik bagian barat menjadi hangat, walaupun sedikit lebih rendah. Kondisi ini mengarah pada kejadian terkait cuaca seperti banjir dan kekeringan, dimana sebuah kondisi strategis berkembangnya wabah kolera.

Sekitar 177 juta orang tinggal di daerah-daerah dimana wabah kolera meningkat selama terjadinya fenomena El Nino. Namun, bukti dampak kesehatan yang ditimbulkan El Nino di Afrika terbatas.

Menurut studi yang dirilis dalam Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional menemukan peningkatan insiden kolera di negara-negara Afrika Timur.

“ Fenomena ini dapat menyebabkan banjir yang menyebabkan kontaminasi sumber air minum di daerah-daerah dimana orang membuang hajatnya di daerah terbuka,”  ungkap seorang epidemiologis, Sean Moore, Pemimpin studi tersebut.

“ Fenomena ini juga dapat menyebabkan melubernya sistem pembuangan air kotor di daerah-daerah perkotaan yang sekali lagi menyebabkan terkontaminasinya sumber air minum,” tambahnya.

Ia juga menyatakan sekitar 150 ribu kasus kolera setiap tahunnya, kebanyakan terjadi di daerah sub-Sahara Afrika. Namun, selama terjadinya fenomena El Nino, para peneliti menemukan peningkatan insiden menjadi 50 ribu kasus kolera di Afrika bagian timur, meskipun jumlah kasus secara keseluruhan di benua itu tidak berubah untuk beragam alasan yang belum dipahami sepenuhnya.

Pergeseran jumlah kasus kolera diukur selama terjadinya fenomena El Nino pada tahun 2000 dan 2014. Di Afrika bagian selatan kasus kolera mencapai 30 ribu kasus lebih sedikit selama tahun-tahun El Nino dibandingkan pada tahun-tahun selain El Nino, demikian hasil temuan para peneliti.

Ilmuwan juga melihat sedikit peningkatan jumlah kasus kolera di daerah-daerah yang dilanda kekeringan yang disebabkan oleh fenomena El Nino. Tanpa ada perawatan, kasus kematian akibat kolera dapat meningkat sebesar 50 persen.

Jika rentang fenomena cuaca dapat diprediksi enam hingga dua belas bulan dimuka, menurut Sean Moore para pejabat kesehatan masyarakat dapat mempersiapkan meledaknya wabah, yang cenderung timbul lebih cepat dari biasanya.

“ Sebuah peringatan dini dapat, meskipun tidak dapat mencegah mewabahnya penyakit, paling tidak dapat menekan angka kematian yang cenderung timbul di bagian awal timbulnya wabah,” imbuhnya.

Pihaknya juga mengatakan resiko kematian akibat kolera dapat berkurang satu persen dengan terapi rehidrasi melalui mulut. Ia juga mengatakan sekarang sudah tersedia vaksin kolera dengan harga terjangkau yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit. (Adith/Berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response