Eksepsi Pengemudi Maut Ditolak Pengadilan

 

Matamatanews.com, TANGERANG – Sidang perkara pelanggar lalu lintas yang berujung maut penyebab tewasnya Rido Afarel, anak ke satu dari lima bersaudara, dilanjutkan dengan agenda pembacaan putusan sela oleh ketua majelis hakim Samsudin,SH.

Pada amar putusannya, Ketua majelis hakim menolak eksekpsi penasehat hukum terdakwa Susanto. Menurut ketua majelis hakim, eksepsi penasehat hukum terdakwa sudah masuk dalam materi perkara, dengan demikian sidang dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan saksi dan memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar dari kejari tiga raksa untuk menghadirkan saksi. Sementara itu sidang ditunda tanggal 4 mei 2017 jam 10 pagi dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Setelah persidangan, Ari Hindartono, orang tua Rido Alfarel (alm) kepada wartawan menerangkan bahwa saat kejadian, korban sedang berhenti diperapatan rambu lalu lintas karena lampu sedang merah dijalan rawa buntu. Kemudian setelah lampu hijau, korban yang berada dibagian depan, bersiap untuk melanjutkan perjalanannya. Baru menjalankan beberapa meter kendaraannya, tiba-tiba dari arah kiri tepatnya dari jalan Ayon dengan kecepatan diperkirakan 70 km/jam, terdakwa Susanto dengan kendaraannya mencoba menerobos rambu, dan akhirnya menabrak sepeda motor vixon milik korban.

Sehingga korban berguling-guling hingga mendekati pos polisi yang jaraknya cukup jauh dari tempat kejadian. Korban tidak berlumuran darah, sehingga tidak mengotori jalan. “Itu keterangan saksi tukang ojek yang sudah sekian puluh tahun mangkal disitu dan akan hadir dipersidangan nanti,” kata Ari Hindartono dengan penuh semangat.

“Bahkan, orang-orang yang berada di tempat kejadian mengatakan, pada saat kejadian, pelaku bukannya menolong anak saya malah sibuk memfoto mobilnya yang rusak dan telepon ke orang lain. Selain itu, terdakwa juga mengatakan dan mengaku bahwa dirinya tidak bersalah,” tambah Ari.

Menurut informasi yang diterima wartawan, saat tahap dua di kejaksaan tiga raksa, terdakwa mengaku tidak bersalah.

“Jangankan uang duka, permintaan maaf saja tidak ada dari  terdakwa. Saya minta keadilan, apalagi terdakwa sejak dari pemeriksaan kepolisian hingga kejaksaan tidak ditahan. Anak saya sudah meninggal, sementara terdakwa enak-enak saja diluar. Saya tidak tahu siapa backing terdakwa, terkesan para penegak hukum tidak ada keberanian memenjarakan terdakwa,” ujar Ari. Dihimbau ,Kejagung, Mahkamah Agung serta  Komisi III DPR RI untuk  memperhatikan perkara ini sehingga kebenaran dan keadilan terungkap. (Tony Gunawan)  

sam

No comment

Leave a Response