Efektifkah Program "Jateng Di Rumah Saja ?"

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluarkan program Gerakan "Jateng di Rumah Saja" sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah. Program ini menghimbau kepada masyarakat untuk menunda seluruh kegiatan pada Sabtu dan Minggu (6-7/2/2021) diantaranya meniadakan acara hari bebas kendaraan bermotor serta menutup tempat yang bisa menimbulkan kerumunan seperti toko, mal, pasar, destinasi wisata, dan pusat rekreasi.

Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein menyebutkan beberapa tempat yang menyediakan sarana kesehatan, transportasi, keuangan, perbankan, perhotelan, pelayan dasar, dan kebutuhan pokok masyarakat tetap beroperasi seperti biasa dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Sementara Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo,MPH. memaparkan, sejak Presiden menyatakan bahwa hasil evaluasi PPKM jilid pertama tidak efektif, maka segera ditindaklanjuti oleh beberapa pimpinan daerah untuk memperbaiki pelaksanaan PPKM di wilayah masing-masing. Salah satunya Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan kebijakan “Jateng di rumah saja” selama 2 hari yaitu tangal 6 - 7 Februari 2021. Surat Edaran terkait hal itu pun sudah keluar. 

dr.Yudhi Wibowo,MPH. mengapresiasi respon cepat Gubernur Jateng, program tersebut dimungkinkan mampu menurunkan mobilitas penduduk terutama pada akhir pekan (weekend). 

Berdasarkan data Mobility Trend dari Apple per 1 Februari 2021 kata dr.Yudhi, terlihat penurunan mobilitas penduduk di Indonesia yaitu -21% (driving) dan -38% (walking), akan tetapi saat akhir minggu cenderung meningkat kembali menjadi +6% sampai dengan +10% (driving) dibandingkan base line. Sementara berdasarkan community mobility trend dari Google per 29 Januari 2021, didapatkan bahwa di Jateng telah terjadi penurunan mobilitas penduduk di sektor retail and recreation, grocery and pharmacy, parks, transit stations, workplaces antara -16% sampai dengan -40% di bawah base line. Akan tetapi mobilitas penduduk di tempat tinggal/perumahan/pemukiman masih cukup tinggi yaitu +12% di atas base line. 

"Bedasarkan data mobility trend dari Apple maupun Google, tampak bahwa sebenarnya mobilitas penduduk sejak diterapkan PPKM cenderung menurun, akan tetapi meningkat kembali saat akhir minggu dan masih terjadi mobilitas di daerah tempat tinggal. “Jateng di rumah saja” diharapkan akan mampu menekan mobilitas penduduk pada akhir minggu di daerah tempat tinggal/pemukiman," kata dr.Yudhi.

Catatan lain dari ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) Fakultas Kedokteran Unsoed ini adalah sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarajat (PPKM), penambahan jumlah kasus baru di atas 10.000 kasus per hari dan positivity rate di atas 15% per hari di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan mobilitas penduduk secara nasional masih belum mampu menekan laju penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19. Hal ini dapat dikarenakan bahwa transmisi penyakit sudah bersifat transmisi di masyarakat dengan ditunjukkan tingginya transmisi lokal dan klaster keluarga. 

"Dengan program “Jateng di rumah saja”, harapannya setiap keluarga akan benar-benar berada di rumah, sehingga mobilitas di lingkup lokal juga menurun. Jangan sampai selama program ini diterapkan,  justru antar keluarga saling berkunjung. Hal perlu diingat bahwa klaster keluarga di Jateng mencapai 70%," terangnya.

dr.Yudhi menjelaskan hal-lain yang perlu mendapat perhatian adalah terkait lama penerapan program “Jateng di rumah saja” yang hanya 2 hari. Padahal masa inkubasi virus ini antara 1-14 hari dan rerata 5 hari, serta masa infeksius ditengarai 2 hari sebelum timbul gejala sampai dengan 5-7 hari setelah timbul gejala (onset), yang lebih sulit lagi banyak kasus tanpa gejala (OTG) yang berpotensi menjadi super spreader. Oleh karena itu pembatasan atau penguncian yang efektif minimal dilaksanakan selama 2 minggu. Faktor lainnya yang sangat penting adalah terkait faktor risiko individual yaitu tingkat kepatuhan terhadap prokes 5M. 

Dikatakannya, beberapa sektor yang bersifat esensial dikecualikan dari program “Jateng di rumah saja”, hal ini tidak masalah, sepanjang mereka ini menerapkan prokes secara ketat. Namun task force seharusnya melakukan pengecekan apakah mereka benar-benar melakukan aktivitas yang memang esensial dan menertibkan secara konsisten dan tegas  bagi pelanggar PPKM di lapangan.  

"Sepanjang kepatuhan terhadap prokes rendah, implementasi program ini tidak konsisten dan tegas, apalagi hanya 2 hari, maka program “Jateng di rumah saja” tetap belum efektif untuk menekan laju penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 khususnya di Jawa Tengah," pungkasnya. (Hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response