Edukasi Kebersihan Lingkungan Melalui Pengurangan Tempat Sampah Ala Jepang

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Dosen Prodi S1 Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya/FIB, Unsoed Dian Bayu Firmansyah,S.Pd.,M.Pd. saat mengunjungi mahasiswa program OSIP (Overseas Students Internship Program / Program Magang Mahasiswa Luar Negeri) di Jepang, mengungkapkan bahwa Jepang terkenal sebagai negara dengan tingkat kebersihan yang sangat baik. 

Dalam kunjungan ke Jepang kali ini, Bayu  menemukan bahwa jumlah tempat sampah yang berada ruang publik seperti stasiun, taman kota dan lain-lain sangat minim, bahkan nyaris tidak terlihat. 

Idealnya, sebuah lingkungan yang bersih salah satunya didukung dengan jumlah tempat sampah yang banyak jumlahnya. Tetapi, di Jepang hal ini tidak berlaku. 

"Lebih anehnya lagi, dengan jumlah tempat sampah yang nyaris tidak ada tersebut, ternyata lingkungan di Jepang tetap bersih dan bebas dari sampah yang berserakan. Sebuah pemandangan yang cukup “aneh” dan mengagumkan," kata Bayu 

Bayu yang pernah bekerja di salah satu perusahaan vendor otomotif, di kota Hamamatsu, prefektur Jepang ini merasakan perbedaan besar mengenai kehadiran tempat sampah tersebut, jika dibandingkan antara saat ini dengan saat dia tinggal di Jepang beberapa tahun silam. 

Pada periode sebelumnya, dengan mudah Bayu menemukan tempat sampah di ruang-ruang publik untuk membuang sampah sesuai  peruntukannya, yaitu sampah yang dapat dibakar (moeru gomi) dan sampah yang tidak dapat dibakar (moenai gomi). 

Namun, sekitar tahun 2019an ketika Bayu datang mengikuti pelatihan Hiroshima Overseas Teacher Training yang diselenggarakan oleh prefektur Hiroshima, dia pun mulai menyadari dan merasakan adanya perubahan tentang ketersediaan tempat sampah di fasilitas umum yang ada di Jepang tersebut.

Dalam paparannya, Bayu menjelaskan bahwa pada kunjungan tahun 2024 ini dia mencoba mencari tahu mengenai hal tersebut dan menemukan fakta bahwa ternyata memang ada gerakan pengurangan tempat sampah di ruang publik yang ada di sana.

Lalu, Apa sebenarnya yang mendasari pengurangan tempat sampah tersebut?. 

Ada beberapa alasan yang ia rangkum dari berbagai sumber berita di Jepang. Alasan pertama yaitu untuk menghindari agar tempat sampah di tempat umum tidak dimanfaatkan oleh oknum tertentu. Hal ini karena aturan pemilahan sampah di Jepang yang cukup rumit dan detail, sehingga tempat sampah di ruang publik dikuatirkan akan menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga yang belum dipilah-pilah sesuai dengan peruntukannya. 

Alasan selanjutnya tentu saja untuk penghematan biaya perawatan dan lain-lain. Karena tempat sampah di ruang publik memerlukan pengawasan dan pemeliharaan yang berkesinambungan, sehingga memerlukan biaya untuk personel kebersihan. 

"Dua alasan tersebut banyak ditemukan di beberapa sumber berita. Meskipun begitu ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa pengurangan tempat sampah ada kaitannya dengan antisipasi dari otoritas Jepang terhadap kejahatan terorisme. Hal ini didasari fakta bahwa pernah terjadi tindakan terorisme yang dikenal dengan Sarin Jiken atau kejahatan Sarin yang terjadi di stasiun bawah tanah Tokyo pada tahun 1995," ungkap Anggota Asosiasi Studi Jepang Indonesia (ASJI) ini.

Kebijakan pengurangan tempat sampah ini tentu saja ada pro dan kontranya, terutama bagi wisatawan asing yang baru pertama kali datang ke Jepang. Mereka akan kebingungan ketika ingin membuang sampah dari makanan atau minuman yang dibeli. Padahal dari pengamatan dan pengalaman pribadi Bayu sendiri, jika memang tidak menemukan tempat sampah di ruang publik, maka sampah tersebut harus dibawa oleh yang bersangkutan sampai menemukan tempat sampah atau dibawa pulang untuk dibuang di tempat sampah yang ada di rumah. 

Kesadaran untuk tidak membuang sampah ketika tidak menemukan tempat sampah di ruang publik ini yang menjadikan stasiun, taman, maupun jalan di tengah kota yang ada di sana tetap terjaga kebersihannya. Sehingga pengurangan tempat sampah ini menjadi salah satu media edukasi yang efektif bagi para turis mancanegara, untuk menjaga dan memperlakukan sampah yang dihasilkannya sendiri, agar jangan mengotori atau membebani orang lain. 

Meskipun begitu lanjut Bayu, tempat sampah masih dapat ditemui di ruang publik, terutama untuk membuang sampah berupa botol maupun kaleng minuman yang dijual lewat jidoohanbaiki atau vending machine, umumnya di sana sudah dilengkapi dengan tempat pembuangan khusus. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response