Edukasi Dan Sosialisasi 3T, 5M Di Wilayah Kecamatan Sumbang

 

Matamatanews.com, BANYUMAS - Penerapan 3T (Tracing, Testing, Treatment) sama pentingnya dengan penerapan perilaku 3M yang sekarang menjadi 5M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas). Keduanya adalah upaya untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Hanya saja, penerapan praktik 3T perlu ditingkatkan pemahamannya di masyarakat, mengingat mereka lebih mengenal 3M.

Terkait hal tersebut Dandim 0701/Banyumas Letkol Inf Candra, S.E., M.I.Pol., mengatakan bahwa 5M banyak membicarakan tentang peran sebagai individu. Sementara 3T berbicara tentang bagaimana memberikan motifikasi atau pemberitahuan kepada orang di sekitar kita untuk waspada. 

"Jadi, memang ada satu proses yang tidak hanya melibatkan individu tapi juga orang banyak. Dalam Sosialisasi dan edukasi ada optimisme masyarakat terhadap 3T (Tracing, Testing, Treatment) yang dilaksanakan Satgas Covid-19," ungkap Dandim usai membuka rapat persiapan pembukaan TMMD Sengkuyung I TA 2021. Kamis (25/2/2021).

Seperti halnya dilakukan Babinsa Kebanggan Koramil 05/Sumbang  Peltu Untung Sudiyono bersama Bhabinkamtibmas  memberikan edukasi, sosialisasi  kepada masyarakat terkait  3T: pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment).

Dandim mengungkapkan, pemeriksaan dini menjadi penting agar mendapatkan perawatan dengan cepat. Tak hanya itu, dengan mengetahui lebih cepat, bisa menghindari potensi penularan ke orang lain.

Pelacakan kata Dandim, dilakukan pada kontak-kontak terdekat pasien positif COVID-19. Setelah diidentifikasi oleh petugas kesehatan, kontak erat pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan lebih lanjut. 

“Seandainya ketika dilacak si kontak erat menunjukkan gejala, maka perlu dilakukan tes, kembali ke praktik pertama (testing). Kemudian, perawatan akan dilakukan apabila seseorang positif COVID-19. Jika ditemukan tidak ada gejala, maka orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas yang sudah ditunjuk pemerintah. Sebaliknya, jika orang tersebut menunjukkan gejala, maka para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah memeriksakan diri (testing). Setiap orang harus mengambil peranan untuk memutus rantai dengan berpartisipasi kooperatif menerapkan 5M dan 3T," ujarnya.

Sementara itu, Dandim juga mengemukakan masih adanya  masyarakat yang tidak paham mengenai 3T. Sebaliknya ada juga  masyarakat  mengaku paham terhadap 5M. 

"Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 5M dan 3T adalah dua hal yang terpisah padahal kenyataannya justru kedua hal tersebut diakuinya merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan COVID-19," kata Dandim.

Dandim yang dikenal dekat dengan masyarakat ini, mengemukakan salah satu faktor yang menghambat kampanye 3T adalah ketakutan atas stigma masyarakat.  Untuk itu pemerintah perlu menghimbau agar mereka tidak mengucilkan pasien positif COVID-19, namun memberikan dukungan dan keprihatinan agar stigma negatif di mata publik bisa menghilang.

Menurut Dandim ada beberapa strategi yang dilaksanakan pemerintah untuk memperkuat upaya perubahan perilaku di masyarakat yakni, kampanye 5M. Sedangkan 3T kata Dandim, melakukan deteksi awal penyebaran COVID-19 dengan testing dan tracing yang tepat sasaran, sementara untuk treatment pemerintah memperkuat manajemen perawatan pada pasien COVID-19.

"Meskipun vaksin COVID-19  sudah ditemukan, sudah  didistribusikan dan sudah dimulai untuk tahapan vaksinasi, perilaku 3M dan 3T harus tetap dijalankan serta kebiasan terhadap 5M dan 3T harus tetap dijalankan sampai pemerintah benar-benar memberikan informasi bahwa COVID-19 sudah tidak ada," katanya berharap. (Jack,kabul)

 

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response