dr.Yudhi Wibowo: "Testing Dan Tracing Covid-19 Sangat Penting"

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Masa pandemi Covid-19 tak hanya menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi, tetapi juga merupakan momen yang tepat bagi semua orang untuk dapat berperilaku hidup sehat. Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein mengungkapkan, Covid-19 sebenarnya penyakit yang bisa dicegah, melalui penerapan disiplin 3M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.

Sementara Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo,MPH. menjelaskan mengapa data testing untuk covid-19 sangat penting? Menurutnya, tidak ada seorang pun atau pemerintah baik di tingkat kabupaten, provinsi bahkan negara mana pun yang tahu berapa jumlah orang yang sesungguhnya telah terinfeksi Virus SARS-CoV-2 (Virus penyebab Covid-19) di dunia ini. 

"Untuk mengetahui apakah seseorang tersebut telah terinfeksi atau tidak, maka perlu diperiksa/test swab-PCR. Jika seseorang dinyatakan hasil swab-PCR positif, maka yang bersangkutan dinyatakan dan dihitung sebagai kasus terkonfirmasi positif Covid-19 (confirmed case). Dengan demikian, jumlah kasus terkonfirmasi bergantung dengan seberapa banyak testing yang dilakukan oleh pemerintah.Tanpa testing maka tidak ada data," ungkapnya.

Testing menurut dr.Yudhi adalah jendela bagi para ahli untuk mengetahui sebuah pandemi dan untuk mengetahui bagaimana pola penyebarannya serta untuk menentukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid-19. Tanpa data siapa yang sebenarnya terinfeksi SARS-CoV-2 ini, maka para ahli tidak bisa memahami pandemi, pola penyebaran, cara pencegahan, dan penanggulangannya. Untuk menafsirkan data apa pun tentang kasus terkonfirmasi, maka para ahli membutuhkan informasi tentang berapa banyak orang yang telah diperiksa. 

Dikatakannya, angka positif (positivity rate) adalah salah satu ukuran penting untuk mengetahui tentang pandemi Covid-19. Positivity Rate (PR) merupakan salah satu ukuran untuk menghitung tingkat hasil positif dari pemeriksaan PCR dibandingkan seluruh jumlah orang yang diperiksa swab, bukan jumlah specimen. 

"PR ini memberi kita dua wawasan utama: pertama sebagai ukuran seberapa memadai pemerintah/negara melakukan testing; dan kedua untuk membantu memahami penyebaran virus, terkait dengan data kasus terkonfirmasi. Tingkat positif adalah ukuran yang baik untuk mengetahui seberapa memadai negara-negara melakukan testing karena ini menunjukkan tingkat testing relatif terhadap ukuran wabah," ujarnya.

 Untuk dapat memantau dan mengontrol penyebaran virus dengan baik lanjut dr.Yudhi, negara-negara dengan wabah yang lebih luas perlu melakukan lebih banyak testing. PR dihitung harian atau mingguan. Menurut WHO, standart PR adalah <5% selama minimal 2 minggu berturut-turut menunjukkan bahwa pandemi terkendali, tentunya dengan tetap memperhatikan indikator lainnya. 

 PR ini sangat dipengaruhi oleh jumlah testing dan tracing. WHO telah menentukan standart untuk testing adalah 1/1.000 penduduk per minggu dan atau penelusuran kontak erat adalah 1 kasus berbanding 10-30 orang yang diperiksa. Oleh karena itu, jika jumlah testing dan tracing belum memenuhi standart WHO, maka PR belum bisa menjadi dasar pengambilan keputusan, karena nilai PR tersebut palsu. Demikian juga ukuran indikator lainnya seperti angka reproduksi efektif (Rt) dan angka kasus kematian (CFR) serta angka kesembuhan dipengaruhi oleh jumlah testing dan tracing.

Berikut berbagai kendala dalam upaya peningkatan kapasitas testing dan tracing menurut Tim Ahli Satgas Covid-19 Pemkab Banyumas ini :

1. Kendala Testing

Kendala yang dihadapi dalam upaya memenuhi jumlah testing adalah 1). ketersediaan sarana dan prasarana laboratorium dan 2). adanya keterlambatan hasil pemeriksaan swab-PCR tersebut. 

"Hal ini sangat mempengaruhi upaya pencegahan penyebaran covid-19. Oleh karena itu bagi siapa pun yang memenuhi kriteria kontak erat dan sedang menunggu pengambilan swab dan atau sedang menunggu hasil pemeriksaan swab-PCR, sebaiknya melakukan karantina terlebih dahulu sampai dengan ada kepastian hasil pemeriksaan swab-PCR, "papar dr.Yudhi.

2. Kendala Tracing

Kendala dalam pelaksanaan tracing menurut dr.Yudhi adalah adanya keterbatasan SDM (petugas surveilans) sekaligus petugas pengambil swab (swaber) dan adanya penolakan dari masyarakat. Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka bagi siapa pun yang menolak dilakukan swab, maka dapat dikategorikan melanggar peraturan peundang-undangan yang berlaku dan dapat dikenakan sangsi.

"Sebagai kesimpulan, karena testing dan tracing merupakan bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid-19, maka sangat urgen jika kapasitas testing dan tracing harus disesuaikan menurut standar WHO yaitu testing 1/1.000 penduduk per minggu dan tracing 1 : 10-30 orang," pungkas dr.Yudhi. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response