Dr.Ahmad Fawzy Beberkan Panduan Keselamatan Bagi Pendaki Saat Terjadi Letusan

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Beberapa hari yang lalu santer pemberitaan di berbagai media tentang ditemukannya seorang pendaki yang meninggal terjebak letusan Gunung Marapi di perbatasan Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sementara puluhan pendaki lainnya telah dievakuasi oleh tim SAR gabungan.

Dokter Spesialis Bedah Plastik Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Ahmad Fawzy,SpBPRE. membeberkan panduan seputar pertolongan pertama di lokasi yang sulit saat gunung meletus.

Dikatakan, menjelajahi alam terbuka merupakan kesenangan yang memiliki risiko tersendiri, khususnya bagi para pendaki gunung. 

dr.Ahmad Fawzy,SpBPRE yang mendalami bidang bedah luka bakar dan trauma lingkungan dalam paparannya menjelaskan, dia mencoba membagi wawasan tentang persiapan, pencegahan, dan antisipasi potensi bahaya terkait letusan gunung berapi selama pendakian.

1. Persiapan

Tahap awal adalah persiapan pendakian. Sediakan cukup waktu untuk meneliti dan merencanakan rute 

sebelum memulai petualangan. Telitilah secara menyeluruh sejarah geologi kawasan pegunungan yang akan didaki. Waspadai bila rute pendakian masuk zona vulkanik aktif. Di era keterbukaan dan kemudahan akses informasi seperti sekarang, mudah untuk pendaki memanfaatkan informasi yang tepat dari lembaga terkait yang terpercaya, seperti survei geologi dan otoritas setempat, untuk memahami risiko spesifik yang terkait dengan lokasi pendakian yang dipilih.

Masih dalam persiapan pendakian, pendaki dan teman sependakian bisa menyiapkan perlengkapan darurat masing-masing. Saat mendaki di tengah bentangan alam gunung berapi, penting bagi mereka mengingat risiko menghadapi potensi cedera akibat luka bakar dan cedera penghirupan uap/asap panas.

Berikut adalah kelengkapan dan barang yang sebaiknya disiapkan oleh pendaki gunung berapi untuk mengantisipasi dan mengatasi risiko-risiko tersebut: 

a. Ransel

Siapkan ransel yang tahan lama dan nyaman untuk membawa semua barang yang diperlukan.

b. Peralatan P3K dan Obat-obat Pribadi

Usahakan membawa tisu antiseptik atau usapan alkohol untuk membersihkan luka dan mencegah infeksi, kasa steril secukupnya serta perban tak lengket untuk memfiksasi kasa penutup luka.

Selain menyiapkan salep untuk luka bakar, dr.Ahmad Fawzy juga menyarankan selalu membawa madu murni yang banyak manfaat, selain untuk dikonsumsi juga terbukti efektif sebagai obat oles luka. Jangan lupa membawa obat resep apapun yang diperlukan. 

c. Pelindung Hidung

Sangat baik jika pendaki menyiapkan masker respirator N95 atau masker dengan kualitas lebih tinggi seperti saat pandemi Covid-19 yang mampu melindungi dari penghirupan abu vulkanik dan gas vulkanik. Harus disiapkan juga kain biasa untuk menutupi hidung dan mulut jika terjadi hujan abu vulkanik.

d. Pelindung Mata

Pendaki juga sebaiknya menyiapkan kacamata berlensa hitam/gelap dengan pelindung samping pada bingkai sisinya untuk mencegah silau dari pijar sekaligus melindungi mata dari partikel abu vulkanik.

e. Pakaian:

Memilih pakaian yang tepat saat mendaki di kawasan gunung berapi sangat penting untuk meminimalkan risiko cedera akibat luka bakar. Pakaian yang dianjurkan dengan fokus pada jenis bahan yang memberikan perlindungan terhadap luka bakar. Pilih kain yang menyerap kelembapan dan menyerap keringat untuk lapisan dasar pendaki. 

Pendaki dapat memilih berbagai pilihan jenis kain yang bersifat menyerap kelembaban. Jenis kain ini membantu mengatur suhu tubuh, terutama di lingkungan bersuhu tinggi. Bahan yang menyerap kelembapan menjauhkan keringat dari kulit, mengurangi risiko masalah terkait panas. 

Bagaimanapun, hindari bahan katun, meskipun bahan katun terasa nyaman, bahan ini bukanlah pilihan terbaik di kawasan gunung berapi karena kemampuannya 

mempertahankan kelembapan. 

Pakaian basah oleh keringat dapat meningkatkan risiko lebih luas kerusakan jaringan akibat kontak termal. Tidak kalah penting, pilih pakaian yang longgar. Pakaian longgar memberikan sirkulasi udara lebih baik, membantu menjaga tubuh tetap sejuk. Ini juga meminimalkan risiko luka bakar dengan mengurangi kontak langsung dengan kulit.

Kemeja lengan panjang: pilihlah kain yang ringan dan tenunannya rapat seperti nilon atau poliester. Kain ini memberikan perlindungan terhadap pancaran panas dan dapat membantu mencegah luka bakar akibat kontak langsung dari permukaan yang panas.

Bahan tenunan rapat memberikan penghalang terhadap partikel abu vulkanik. Celana panjang, seperti juga kemeja, pilihlah kain yang ringan dan tenunannya rapat seperti nilon atau poliester. Celana panjang melindungi kaki dari abu vulkanik dan potensi kontak dengan permukaan panas. Bahan tenunan rapat lebih efektif mencegah luka bakar.

Pelindung kepala, pilih dan kenakan topi bertepi lebar atau topi yang terbuat dari bahan tahan api seperti wol atau katun. Topi memberikan keteduhan dan melindungi kepala dan wajah dari paparan langsung sinar matahari dan potensi abu vulkanik yang berjatuhan.

Alas kaki, pilih dan pakai sepatu hiking kokoh dengan ujung tertutup yang terbuat dari bahan tahan panas seperti kulit atau campuran sintetis. Sepatu boot tertutup memberikan perlindungan terhadap batuan vulkanik yang tajam dan permukaan yang panas. Bahan tahan panas meminimalkan risiko luka bakar.

Sarung tangan, pilih sarung tangan kulit atau bahan sintetis tahan panas. Sarung tangan melindungi tangan Anda dari batuan vulkanik tajam dan potensi kontak dengan permukaan panas serta akan memberikan lapisan insulasi tambahan terhadap pancaran panas.

Jaket pelapis, persiapkan jenis jaket pelapis dengan lapisan luar tahan api seperti Nomex atau Kevlar. Bahan tahan api menambah lapisan perlindungan ekstra jika terkena api atau suhu tinggi.

Siapkan jas hujan untuk menyesuaikan dengan antiipasi cuaca.

Pertimbangan warna: pilih pakaian berwarna terang dengan pertimbangan memantulkan sinar matahari, bukan menyerap, sehingga membantu tetap sejuk. Warna-warna terang juga memudahkan visualisasi tim bantuan penolong sekiranya pendaki terjebak di dalam situasi gunung meletus.

f. Selimut

Selimut untuk perlindungan terhadap panas ekstrem dan agar tetap hangat jika terjadi paparan.

g. Alat navigasi

Peta, kompas atau perangkat GPS terkalibrasi untuk menavigasi dan mengidentifikasi rute perjalanan dan rute penyelamatan diri dengan cepat.

h. Perangkat komunikasi:

Ponsel terisi penuh dengan nomor kontak darurat, siapkan beberapa powerbank bobot ringan yang terisi penuh. Radio dua arah untuk komunikasi selama pendakian juga dilengkapi dengan beberapa baterai cadangan.

i. Air dan Hidrasi

Pastikan asupan air cukup untuk di lingkungan bersuhu tinggi. Kelak selama perjalanan biasakan untuk isi ulang air di tempat-tempat singgah. Siapkan beberapa sachet garam elektrolit oral, yang bermanfaat bukan hanya pada keadaan diare tapi juga mengoptimalkan tingkat hidrasi.

j. Sumber Cahaya dan Api

Siapkan senter atau lampu darurat kecil sebagai sumber cahaya yang andal untuk bernavigasi dalam kondisi cahaya redup atau saat darurat malam hari. Pemantik api adalah perangkat standar perjalanan melewati malam untuk menyalakan api darurat.

k. Peluit Darurat

Selain api, peluit bermanfaat sebagai tanda bantuan jika terjadi keadaan darurat.

l. Alat Serbaguna

Alat serbaguna seperti pisau Swiss mencakup pisau, gunting, dan fungsi penting lainnya untuk berbagai situasi.

m. Catatan:

Jangan sepelekan sehelai kertas berisi informasi prosedur pertolongan pertama dasar untuk luka bakar dan cedera hirup. Lebih baik lagi jika pendaki menyiapkan informasi geologi dan vulkanologi spesifik di wilayah tersebut dan pemahaman tentang tanda-tanda peringatan.

n. Informasi Kontak Darurat

Informasi kontak darurat ditulis dengan jelas, termasuk nama Anda, kontak darurat, dan informasi medis apa pun yang relevan. Buat beberapa, dan simpan tidak hanya di telepon genggam, tetapi juga di tempat berbeda-beda pada ransel dan pakaian. 

Dengan mempertimbangkan dan mengemas barang-barang ini secara cermat, pendaki dapat meningkatkan kesiapan mereka secara signifikan terhadap potensi cedera akibat luka bakar dan bahaya cedera hirup saat menjelajahi lanskap gunung berapi.

2. Pencegahan dan Antisipasi

Setelah menyiapkan hal-hal esensial untuk pendakian di lingkungan gunung berapi seperti tersebut di atas, sampai menjelang hari pendakian usahakan untuk tetap terinformasi; terus mengikuti perkembangan kondisi cuaca dan peringatan geologi apa pun di 

wilayah tersebut. 

Pelajari peraturan dan pedoman area pendakian, hormati setiap penutupan atau peringatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. Jangan lupa  mengidentifikasi zona aman dan merencanakan rute penyelamatan diri jika terjadi letusan. Tetapkan rencana komunikasi dengan sesama pendaki dan beritahu seseorang yang dapat dipercaya tentang rencana perjalanan Anda.

Saat pendakian, kenali dan waspadai tanda peringatan alam aktivitas gunung berapi, seperti gempa bumi, peningkatan emisi gas, atau aktivitas panas bumi yang tidak biasa. 

Percaya dan ikuti naluri Anda; jika lingkungan terasa tidak aman, pertimbangkan untuk mengubah rute atau mundur dari area tersebut. Jika saat pendakian para pendaki bersamaan dengan terjadi letusan, utamakan keselamatan dengan segera bergerak tegak lurus/berpotongan arah angin untuk meminimalisir paparan abu vulkanik dan gas vulkanik. 

Misalnya Anda merasa atau mengamati gerak dedaunan arah angin dari utara ke selatan, maka bergeraklah ke barat / timur dengan mencocokkan panduan dari peta navigasi. Carilah perlindungan di balik bebatuan besar untuk melindungi diri Anda dari puing-puing yang berjatuhan, debu vulkanik, dan hembusan arus angin panas ekstrem.

3. Pertolongan Dini dan Tepat Pada Luka Bakar

Jika terjadi luka bakar akibat angin vulkanik panas atau partikel debu vulkanik saat mendaki di lingkungan pegunungan dengan lingkungan sekitar berupa alam bebas, pertolongan pertama yang cepat, dan tepat harus diberikan secara cermat.

Hal pertama adalah mengutamakan keselamatan diri dengan mengubah rute ke lokasi aman, segera mencari perlindungan dari panasnya angin vulkanik atau partikelnya. 

Bergeraklah ke area dengan risiko terbakar atau berkontak dengan suhu tinggi ekstrem yang minimal dan jauh dari potensi puing-puing yang berjatuhan. 

Di sinilah pentingnya mengidentifikasi zona aman dan merencanakan rute penyelamatan diri sebelum pendakian. 

Jika selama mobilisasi tetap ada kontak yang menyebabkan luka terbakar, lakukan metode stop-drop-roll. Jika pakaian terbakar, korban harus berhenti, menjatuhkan diri, dan berguling untuk memadamkan api. Korban dibantu melepaskan pakaian yang panas atau asesori-asesori yang meleleh karena panas dengan hati-hati. 

Buka asesori yang sifatnya melingkar seperti cincin, gelang, kalung, karena luka terbakar memiliki ciri adanya bengkak hebat di dalam 2x24 jam pertama, dan bengkak akan menjebak asesori-asesori tersebut menjadi sukar dilepas dan membahayakan daya hidup jaringan. 

Selanjutnya segera dinginkan luka tersebut dengan air sejuk mengalir. Jika Anda kebetulan berada di sumber air seperti sungai kecil, rendam area yang terbakar dalam air sejuk mengalir tersebut selama minimal 10 menit dan idealnya 20 menit jika tidak terburu-buru oleh bahaya vulkanik. Pengaliran air bersuhu sejuk mengurangi suhu jaringan dan meminimalkan kerusakan. Jika Anda jauh dari sumber air, Anda bisa membuat rendaman biasa dari air yang Anda bawa dan rendam selama minimal 10 menit dan idealnya 20 menit.

Saat mencapai kondisi diri aman segera nilai luka bakar. Kaji tingkat keparahan luka bakar menggunakan aturan praktis jika hanya menyebabkan kulit lebih merah atau lebih gelap masih derajat satu yang ke depannya memiliki kans sembuh cepat dan baik. Jika pada kulit terdapat gelembung-gelembung lepuh atau ada kulit tipis compang-camping 

maka luka bakar tersebut derajat dua, dan jika luka bakar sampai mengenai lapisan lebih dalam daripada kulit artinya derajat tiga. 

Setiap luka derajat dua atau tiga membutuhkan pertolongan keahlian medis, apalagi jika luka bakar mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin, atau persendian utama, 

Setelah luka mendingin, lindungi luka dari risiko kontaminasi infeksi dan kontak dengan benda asing. Tidak usah membalur macam-macam, segera tutupi luka dengan kain bersih, jika ada verban steril lebih baik dan kuatkan dengan plaster anti lengket. 

Jika Anda membawa madu murni silakan balurkan madu murni pada luka sebelum ditutup kain bersih atau verban steril kering. Nyamankan nyeri dengan minum obat pereda nyeri yang pendaki bawa. Setelah itu bersegeralah kontak bantuan medis atau pos komando pendakian dan jelaskan koordinat Anda sesuai GPS.. 

Selama mobilisasi Anda harus selalu memakai masker yang Anda siapkan menutupi hidung dan mulut, dan bergerak ke área aman dengan udara lebih bersih.

Pada kejadian darurat menghirup partikel vulkanik panas, di saat mencapai kondisi diri aman pantau laju pernapasan. Jika laju nafas Anda 36 kali atau lebih setiap menit, kemungkinan Anda terkena cedera hirup dan kelak membutuhkan bantuan medis dengan dukungan bantuan pernafasan mekanik (ventilator).

Jaga kondisi hidrasi tubuh dengan minum air dalam posisi duduk yang baik agar efektif tidak tersedak atau batuk yang membuat nafas menjadi lebih payah. Jangan lupa waspada terhadap lingkungan. Waspada risiko jatuh ke jurang, terperangkap lumpur, dan sebagainya. 

Jangan lupa bahwa di lingkungan pegunungan mungkin terdapat satwa liar, berhati-hatilah terhadap potensi bahaya dari hewan yang keluar menampakkan diri akibat aktivitas gunung berapi.

Buat dokumentasi kejadian yang rinci, termasuk waktu pertama kali berkontak, daerah tubuh mana yang pertama terkena, berapa lama mendinginkan luka, berapa volume minum yang sudah dikonsumsi dan informasi relevan lainnya yang mungkin berguna bagi profesional medis yang kelak menolong dan mengelola luka Anda. 

Dampak psikologis dari luka bakar bisa sangat signifikan. Jika bukan Anda yang terkena, tetap tenang dan berikan dukungan emosional yang positif kepada kawan yang terluka. 

Dokter dari Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Unsoed ini menambahkan bahwa mendaki gunung dapat menawarkan pengalaman yang unik dan menakjubkan, namun petualangan tersebut harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian serta kesiapan. 

Dengan tetap mendapat informasi, merencanakan dengan cermat, dan memiliki perlengkapan darurat yang tepat, para pendaki dapat meminimalkan risiko dan memastikan pendakian yang lebih aman. Ingat, keindahan alam paling baik dinikmati jika keselamatan tetap menjadi prioritas utama. (hen)

redaksi

No comment

Leave a Response