Dosen Unsoed Terpilih Sebagai Periset Pemula se Australia Dan Selandia Baru

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Awal tahun 2000 Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Kiky Srirejeki,M.Sc. memulai kuliah S3 nya di University of Western Australia (UWA). Belum genap kuliah satu semester, Kiky bersama dua mahasiswa program doktor (PhD) dari perguruan tinggi lainnya, terpilih sebagai periset pemula se Australia dan Selandia Baru.

Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengungkapkan, Kiky sangat beruntung bisa mengikuti seremoni sekaligus merepresentasi mahasiswa Indonesia saat penerimaan mahasiswa baru Program Doktor Akuntansi (S3) School of Business di University of Western Australia (UWA).

Sementara Kiky Srirejeki mengungkapkan, dia merasa bersyukur berada di tengah-tengah ratusan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Dengan keanekaragaman budaya, bahasa, warna kulit menjadi pengalaman tersendiri baginya.

"Saya merasa beruntung dan bersyukur dosen pembimbing di University of Western Australia (UWA), Program Akuntansi School of Business mewakili generasi tua dan muda. Dari dosen muda, saya belajar pentingnya punya ambisi, jejaring yang luas, dan pikiran yang terbuka. Oleh karenanya selalu ditantang untuk mencoba hal-hal baru, "katanya.

Dia menambahkan, walau belum genap satu semester, dosen mudanya mendukung ia mengikuti kompetisi presentasi di ajang besar semacam AFAANZ. 

"Coba saja, kamu akan medapatkan pengalaman bagus, paling tidak kamu akan dapat masukan dari panelis," kata Kiky menirukan ucapan dosennya.

Bermodalkan dukungannya, Kiky segera mengirimkan lamaran. Dua minggu sebelum acara, dia mendapat email dari panitia bahwa dirinya mewakili University of Western Australia bersama dua mahasiswa program doktor (PhD) dari perguruan tinggi lainnya terpilih sebagai periset pemula se Australia dan Selandia Baru. 

"Terus terang saya kaget tidak menyangka, senang, juga terharu bisa terpilih. Saya baca berkali-kali email itu serasa tak percaya, "katanya.

Sedangkan dosen pembimbing senior Kiky memperoleh pengalaman yang luar biasa. Menurutnya, dia menunjukan kemampuan akademik yang luar biasa, setiap kali berbincang dengannya, dia merasa lebih tenang. 

"Beliau tidak membebani saya dengan perkataan yang sulit dipahami. Kalimat-kalimatnya sangat positif dan sikapnya sangat empatik. Darinya saya belajar bahwa menjadi pintar (brilliant) bukanlah tujuan. Bahwa semakin banyak ilmu, "bijaksana"  menjadi tolok ukurnya. Bijaksana untuk berbagi ilmu, menghargai orang lain, menghormati perbedaan, mendukung kemajuan orang lain, dan bijaksana menyadari bahwa belajar adalah proses yang tidak berakhir, " ungkapnya.

Kiky menambahkan, dirinya tidak tahu apa yang akan hadapinya di waktu mendatang. 

"Banyak senior bilang jangan berharap segala sesuatu itu berjalan dengan lancar. Sejujurnya saya tidak mau berpikiran buruk, tapi juga sesuai dengan kenyataan. Saya berharap, kalaupun masa sulit itu datang, saya bisa lihat "postingan" ini dan kembali bersyukur dan sadar bahwa selalu ada yang bisa dipelajari dari apa dan siapapun," kata Kiky mengakhiri. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response