Ditengah Kecaman Umat Islam di Seluruh Dunia, Perancis Bubarkan Badan Amal Muslim Barakacity

 

Matamatanews.com, PARIS—Tampaknya pemerintah Perancis tidak mengindahkan aksi protes dan kecaman umat Islam dari berbagai dunia. Buktinya, hari Rabu (28/10/2020) lalu Paris membubarkan salah satu badan amal Muslim terbesar di negara itu di tengah meningkatnya aksi protes dan kecaman dari berbagai kaum Muslimin, seperti Arab Saudi, Banglades, Yordania, Palestina, Malaysia, hingga Indonesia.

Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin mengkonfirmasi perkembangan tersebut di Twitter, membagikan dekrit rinci yang disepakati selama pertemuan Dewan Menteri.

Dia mengklaim bahwa LSM itu memiliki hubungan dengan "gerakan Islam radikal," dan menuduh mereka "melegitimasi serangan teroris." Namun Organisasi tersebut membantah tuduhan yang dilayangkan Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin.

Dalam cuitannya di Twitter, pendiri yayasan amal Muslim Barakacity, Idriss Sihamedi menyangkal tuduhan yang dialamatkan ke Barakacity dan menyebutnya mereka sebagai tuduhan “kotor” dan bohong”. Sejumlah sumber di Perancis mengatakan bahwa tuduhan itu tidak mendasar dan terkesan mengada-ngada, karena seperti diketahui selama sepuluh tahun terakhir yayasan amal Muslim Barakacity telah berhasil memberikan bantuan kepada 2 juta orang di 26 negara.

Sihamedi dalam cuitannya di Twitter mengaku telaha berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk meminta suaka.

"Saya ingin meminta suaka politik untuk diri saya dan staf saya (di BarakaCity), karena saya tidak aman di Prancis," tweetnya dalam bahasa Turki.

Pada 14 Oktober, polisi menggerebek rumah Sihamedi dan menangkapnya. Lalu keesokan harinya ia dibebaskan.Penggerebekan itu adalah salah satu dari banyak serangan yang terjadi di seluruh Prancis menyusul pengumuman Presiden Emmanuel Macron untuk memerangi "separatisme Islam" di negara itu dalam pidato kontroversial, di mana ia menggambarkan Islam sebagai "agama yang mengalami krisis di seluruh dunia."

Ketegangan semakin meningkat sejak pembunuhan seorang guru sekolah menengah, Samuel Patty, pada 16 Oktober 2020 lalu yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam  kepada murid-muridnya di depan dikelas.

Macron membela kartun itu, dengan mengatakan Prancis "tidak akan melepaskan kartun kami", hingga menimbulkan kemarahan dan kecaman umat Islam di seluruh dunia, seperti Turki, Arab Saudi, Bangladesh, Yordania, Indonesia, Malaysia, Kuwait, dan Palestina.(bar)

redaksi

No comment

Leave a Response