Ditangan Jokowi Ekonomi Indonesia Alami Kemunduran

 

Matamatanews.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah, nyatanya sama sekali belum berdampak pada masyarakat. Padahal, amanat konstitusi, pertumbuhan ekonomi itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan. Hal ini terungkap dari kajian yang dilakukan oleh, Institute for Development of Economics and Finance pada tengah tahun mengenai perekonomian Indonesia. Hasilnya cukup mengagetkan, di mana perekonomian berjalan stagnan di pemerintahan Jokowi-JK.

Indikasi stagnannya perekonomian yakni nilai ekspor yang tak kunjung naik, justru mengalami penurunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS), memaparkan nilai ekspor di bulan Juni 2017 hanya USD 11,64 miliar, nilai tersebut turun dibanding Mei 2017. Dikaji secara year to year pun, ekspor Juni 2017 mengalami penurunan 11,82 persen dibanding Juni 2016.

Jum’at (21/7/2017), Direktur Indef, Enny Sri Hartati saat ditemui di Jakarta menyampaikan, “Kita kemarin melakukan kajian tengah tahun, menampilkan indikator perkembangan ekonomi. Indikatornya salah satunya ekspor itu,” ucapnya.

Indikasi lainnya yang memberikan bukti bahwa stagnannya perekonomian di Indonesia yakni daya beli masyarakat yang menurun. Bank Indonesia (BI) mengakui daya beli masyarakat menurun, hingga berdampak pada angka penjualan industri ritel yang mengalami pelemahan hingga Juni 2017.

“Indikator pemerintah soal infrastruktur dan komitmen deregulasi 15 paket kebijakan, itu semua kan bagus. Tentu hasilnya diharapkan masyarakat. Persoalannya bagaimana mungkin indikator makro tadi bagus, komitmen bagus tetapi hasilnya berbanding terbalik.” Imbuh Enny.

Lebih miris lagi adalah angka kemiskinan di Tanah Air terus meningkat. Dari data BPS mencatat bahwa, jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2017 di Indonesia mencapai 27,77 juta orang, atau dengan presentase 10,64 persen. Nilai ini bertambah sekitar 6.900 orang dibandingkan dengan bulan September 2016 yang hanya 27,76 orang atau sekitar 10,70 persen.

“Tingkat kemiskinan jumlahnya secara absolute meningkat, walaupun persentase menurun. Ini kan ada anomali, anggaran kemiskinan ratusan triliun tapi kok stagnan,” tutupnya. [Did/Mdk/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response