Diskusi Online Kafapet Unsoed "Potret Permasalahan Bisnis Ayam Broiler Dan Solusinya"

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Humas Panitia Dies Natalis ke-54 Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ir. Alief Einstein, M.Hum. mengatakan bahwa di tengah Pandemi COVID-19  Keluarga Alumni Fapet (Kafapet) Unsoed menyelenggarakan diskusi online perunggasan dengan tema "Potret Permasalahan Bisnis Ayam Broiler  dan Solusinya". Einstein mengungkapkan kegiatan diadakan pada hari Kamis (30/04/2020) mulai Pukul 15.20-17.45 dengan peserta sebanyak 41 orang, mereka berasal dari alumni Fakultas Peternakan Unsoed di berbagai kota di Jawa, luar Jawa serta luar negeri.

Narasumber menurut Einstein terdiri dari para  Praktisi diantaranya Ir. Bagus Pekik (Feedmill), online dari Sukabumi, Teguh Sudaryanto  (Peternak Ayam Broiler), online dari Cianjur, Ir. Eko Parwanto (Breeding Farm), online dari Bogor dan Roni Fadilah (Feedmill), online dari Bogor. 

Sedangkan para Pakar/Pengamat diantaranya: 

a. Ir. Mulyoto Pangestu, PhD. online dari Melbourne Australia. Mulyoto selain di Monash University, Melbourne Australia juga Dosen Unsoed, dan Pengajar Konsultan FER di UGM Yogyakarta dan Undip Semarang,

b. Dr.Ir.Elly Tugiyanti, MP (Dosen Fakultas Peternakan Unsoed),  online dari Purwokerto. Dr.Ir.Elly Tugiyanti, MP. pernah ke Belanda 2 (dua) kali dalam rangka pendidikan tambahan perunggasan, yakni :

1) Shortcourse Module Applied Poultry Management,

2) Module Poultry Production Technology,

d. Moderator Ir. Bambang Suharno, online dari Jakarta.

Einstein menambahkan pada diskusi perunggasan online tersebut dijelaskan pandangan-pandangan para praktisi dan pengamat/pakar tentang situasi perunggasan dan bagaimana solusi atas masalah yang dihadapi pelaku usaha.

Disamping itu dijelaskan pula beberapa aspek yang muncul di antaranya : penataan di hulu, penataan di  budidaya, peningkatan konsumsi, daya saing ekspor, dan lain-lain.

Ketua Penyelenggara Diskusi Online Perunggasan yang juga Ketua Kafapet Jabodetabeksuci Roni Fadilah mengatakan diskusi internal Kafapet Unsoed diselenggarakan sebagai wujud kepedulian Kafapet Unsoed terhadap masalah perunggasan khususnya broiler, sekaligus untuk memberikan wawasan bagi anggota mengenai permasalahan perunggasan dari perspektif pelaku usaha dan pengamat. 

"Diskusi ini dikemas dalam suasana yang "santai tapi serius", dilatarbelakangi kondisi bisnis ayam broiler selama beberapa tahun terakhir yang dinilai kurang kondusif bagi peternak. Kafapet Unsoed tertarik untuk mengambil beberapa permasalahan yang ada dalam bisnis ayam broiler langsung dari para pelaku di berbagai segmen usaha.

Masing masing nara sumber memaparkan pandangannya terhadap situasi bisnis ayam broiler dan alternatif solusinya, " jelas Roni.

Sementara narasumber Bagus Pekik dan Roni Fadilah mengungkapkan bahwa peternak ayam broiler saat ini banyak mengalami kerugian dengan kondisi harga jual yang masih dibawah Harga Pokok Produksi (HPP). Peryataan ini dipertegas oleh Teguh Sudaryanto bahwa peternak ayam broiler dalam kurun waktu 3 tahun terakhir merugi.

"Permasalahan yang muncul adalah hasil produksi 75% masih dipasarkankan ke pasar tradisional (pasar becek), dan memang masih banyak industri perunggasan skala besar memasarkan hasil produksinya termasuk ke dalam 75% tersebut sehingga peternak rakyat sulit bersaing, " katanya.

"Over supply" produksi yang kerap kali terjadi menurutnya berawal dari peningkatan produksi DOC, sehingga berdampak secara langsung ke penambahan jumlah populasi ayam yang sangat  besar. Peningkatan populasi ayam ini, disatu sisi tanpa diiringi oleh peningkatan penyerapan pasar.

Dalam diskusi ini muncul beberapa masukan dari para peserta, tercatat antara lain dari Eka Budi Sulistyo, Sofin Faiz, Rohmad Susilo, Agus Kadarisman, Farid Dimyati, Basuki Priyatno dan lainnya. Farid Dimyati misalnya, menyoroti adanya data kenaikan harga bahan baku pakan yang berasal dari impor dikarenakan kurs rupiah melemah.

Sementara Eka Budi Sulistyo menyoroti pelaksanaan Permentan tentang kewajiban pelaku usaha membangun RPHU yang produksi 300 ribu ekor per minggu. Sedangkan Basuki menyoroti harga broiler di Palembang yang tercatat sangat rendah hanya 12.000/kg seperti di Pulau Jawa.

Dalam diskusi, tercatat beberapa solusi yang perlu diambil, di antaranya :

1. Masih perlunya Pengaturan supply Day Old Chicken (DOC), ini ada kaitannya dengan masih perlunya pengaturan jumlah impor GPS (bagian hulu),

2. Keakuratan data menjadi sangat penting untuk mengambil satu kebijakan,

3. Regulasi yang dibuat pemerintah sudah cukup bagus tinggal diperbaiki penegakan regulasinya, agar semua patuh,

4. Perlu dipertimbangan adanya regulasi tentang pengaturan segmen pasar. Misalnya, pasar becek untuk Peternak Mandiri/peternak rakyat, sedangkan perusahaan besar orientasinya untuk industri, supermarket, dan ekspor,

5. Di sektor budidaya, sebaiknya ada regulasi tentang pengaturan mengenai budidaya dari mulai hulu sampai hilir. Jadi sangat jelas akan terlihat siapa saja yang boleh melakukan budidaya dan siapa saja yang tidak boleh melakukan budidaya.

6. Perlu dilakukan upaya edukasi (kampanye) secara terus menerus kepada masyarakat bahwa daging ayam sumber protein hewani yang mudah didapat dan harga terjangkau, sehingga pasar dalam negeri terus berkembang,

7. Perlu adanya upanya meningkatkan produktifitas hasil produksi di Peternakan Rakyat untuk menekan HPP, di antaranya up grade dari kandang terbuka menjadi kandang tertutup (closed house),

8. Diskusi paling seru takkala membahas tentang tataniaga pasar. Karena selama ini, peranan "broker" atau sering disebut juga "bakul ayam" sangat memegang peranan dalam tataniaga di ayam broiler. Tata niaga merupakan salah satu faktor penting, karena di Indonesia sendiri biaya distribusi cukup besar sekitar 20%. Angka ini cukup tinggi yang menyebabkan harga sampai konsumen masih relatif mahal. Sektor hilir kita harus meningkatkan pasar ayam beku terutama saat terjadinya over supply. 

Kondisi ini jelas harus adanya penekanan terhadap penerapan aturan RPHU serta yang terpenting adalah mengedukasi masyarakat tentang konsumsi ayam beku. Kondisi ayam beku sendiri tidak menurunkan kadar nutrien pada daging ayam. Selain itu daging ayam yang beku berasal dari ayam pilihan sehingga daging lebih hygienis.

Menurut Pengamat Ir.Mulyoto Pengestu,PhD., kondisi di Australia harga daging ayam relatif stabil dikarenakan masyarakat sudah terbiasa mengkonsumsi daging ayam beku, sehingga tidak terjadi over supply dan bisa menyeimbangkan antara stock dengan demand.

Dalam penutupan dIskusi Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP. memberikan statement, di bisnis perunggasan khususnya ayam broiler hal yang sangat penting adalah bagaimana caranya supaya Peternakan Rakyat bisa terselamatkan dan tetap eksis keberadaannya. 

"Pihak pemerintah, perusahaan besar dan pihak lain yang bergerak di bisnis perunggasan harus peka dan peduli terhadap Peternakan Rakyat, " kata Elly. (hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response