Diskusi 'Hari Laut Sedunia', Menyoroti Tentang Pencemaran Laut

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Hari Laut Sedunia 2021 atau World Ocean Day diperingati tiap tanggal 8 Juni, untuk mengingatkan kita pentingnya lautan bagi kehidupan manusia. Hari Laut Sedunia 2021mengusung tema “The Ocean: Life and Livelihoods” , sekaligus deklarasi untuk mewujudkan Sustainable Development Goal 14, “Conserve and sustainable use the oceans, seas and marine resources ”, pada 2030. 

Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,MHum mengungkapkan, dalam rangka peringatan Hari Laut Sedunia, BEM Unsoed dan BEM FPIK Unsoed menggelar diskusi dalam format "podcast" dengan narasumber ahli Pengendalian Pencemaran Perairan dari FPIK Unsoed Dr.Nuning Vita Hidayati,SPi,MSi,PhD., membahas tentang Pencemaran Laut. Selasa (08/06/2021).

Menurut penuturan Dr.Nuning Vita Hidayati, biota laut terus terancam populasinya oleh pencemaran sampah laut, terutama plastik. 

"Kondisi faktual perairan kita saat ini, sungguh memprihatinkan. Harus ada perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah, untuk menghentikan pencemaran laut," kata dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman dalam diskusi yang di tayangkan melalui Instagram dan Youtube ini.

“Saat ini, sampah menjadi masalah besar di berbagai negara, termasuk Indonesia.  Jumlah penduduk Indonesia yang besar dan tingkat pertumbuhan yang tinggi mengakibatkan  volume sampah meningkat dengan cepat.  Selain itu, pola konsumsi masyarakat juga memberikan kontribusi dalam menimbulkan jenis sampah yang semakin bervariasi,” kata Nuning.

Peraih dua gelar doktor dari Aix-Marseille Université (AMU) Perancis dan dari FPIK Undip ini menambahkan, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa timbunan sampah di Indonesia mencapai 67,8 juta ton pada 2020. Dari volume sampah tersebut, dua penyumbang sampah terbesar adalah sisa makanan dan plastik. 

Menurut Dr.Nuning yang juga Ketua Divisi Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Lingkungan - Pusat Studi Biosains Maritim di LPPM Unsoed, bahwa dampak negatif terhadap lingkungan, ekonomi, keselamatan, dan kesehatan telah diidentifikasi sebagai akibat yang ditimbulkan dari keberadaan sampah plastik. 

"Di lingkungan pesisir dan laut, sampah ini terakumulasi, karena  memiliki laju dekomposisi yang sangat rendah. Sampah laut juga  berbahaya bagi organisme akuatik, karena seringkali disalahartikan sebagai makanan dan menyebabkan komplikasi kesehatan atau bahkan kematian bagi burung laut, penyu, cetacea, dan  ikan," ungkapnya.

“Saya sangat berharap mahasiswa sebagai 'agent of change' dan sekaligus bisa berperan sebagai influencer untuk turut serta aktif mendukung penanggulangan sampah laut dengan melakukan riset, yang merupakan salah satu dari lima strategi dalam rencana aksi nasional untuk mewujudkan target 70% pengurangan sampah laut pada tahun 2025,” pungkas Nuning.

Sementara Anggota BEM Unsoed, Fakhrul Azmi mengatakan, mahasiswa tentunya bisa ikut terlibat dalam hal penanganan pencemaran sampah yang ada perairan laut Indonesia. 

“Mari mulai dari diri sendiri untuk membangun keperdulian terhadap pencemaran ini. Karena sampai saat ini Indonesia berada pada peringkat kedua dalam hal penyumbang sampah plastik di dunia,” ajaknya.

Ia berharap dari diskusi ini mahasiswa mendapatkan  pemahaman baru tentang pentingnya peduli sampah dan pencemaran. (Hen)

redaksi

No comment

Leave a Response