Dieng Kembali Membeku

 

Matamatanews.com, BANJARNEGARA- Suhu udara di dataran tinggi Dieng kembali turun. Hari ini, Jumat (31/7/2020) tepat pada Hari Raya Idul Adha 1441 H, suhu udara turun hingga minus 4 derajat celsius.Kepala UPT Dieng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara Sri Utami mengatakan, fenomena alam embun es kembali terjadi di Dieng, terutama di sekitar komplek Candi Arjuna.

"Hari ini embun es kembali terjadi di Dieng. Pagi ini suhu udara yang diukur dengan menggunakan thermometer di kompleks Candi Arjuna mencapai minus 4 derajat celsius," terangnya.

Ia juga menyampaikan, embun es ini sudah meluas hingga ke lahan kentang warga. Sehingga dimungkinkan, tanaman kentang yang sudah terkena embun es ini akan layu dan mati.

"Embun es atau bun upas ini sudah meluas sampai ke lahan kentang warga. Padahal, embun es ini menjadi ancaman bagi petani karena bisa menyebabkan tanaman layu dan mati," jelasnya.

 Fenomena embun upas atau embun es sudah menjadi hal lazim saat musim kemarau. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang, fenomena embun es tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh faktor kelembaban udara yang tinggi di dataran tinggi Dieng.

“Saat musim kemarau, dataran tinggi Dieng memiliki kelembaban udara yang sangat tinggi, berbeda dari daerah lain di Jateng. Tingginya kelembaban udara tersebut akibat kompleksitas pegunungan dan tutupan oleh lahan. Di sinilah embun es terbentuk,” ujar Kepala BMKG Ahmad Yani Semarang, Achadi Subarkah Raharjo, dalam keterangan resminya.

Selain kelembaban udara yang tinggi, embun es juga terbentuk akibat suhu udara yang sangat rendah. Dataran tinggi dieng yang berada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Saat musim kemarau suhu udaranya tersebut bisa mencapai 0 deajat Celcius atau lebih rendah lagi.

“Rendahnya suhu tersebut di permukaan itu juga sesekali diikuti dengan kelembaban udara yang tinggi. Kelembaban relatif adalah rasio jumlah uap air di udara dibandingkan dengan uap air maksimal yang mampu ditahan udara pada suhu tersebut. Kelembaban relatif tidak memberi tahu seberapa banyak uap air sebenarnya yang ada di udara tetapi menunjukkan seberapa dekat udara menjadi jenuh,” jelasnya.

"Pola kelembaban udara harian di Dieng dapat menjadi jenuh (terkondensasi) menjelang pagi hari, uap air di udara berubah menjadi titik-titik air. Pada saat yang bersamaan suhu udara harian juga menuju pada titik minimal mencapai 0 derajat Celcius, atau bahkan minus.

Akibat suhu tersebut lingkungan menjadi sangat dingin, titik-titik air yang telah terbentuk kemudian berubah menjadi kristal es atau embun upas. Embun upas akan bertahan ketika suhunya masih berada pada kisaran titik beku, seiring matahari mulai terbit, embun upas perlahan mencair dan sebagian menjadi uap air lagi", pungkasnya.

Hadirnya embun upas membuat suhu udara di Dieng menjadi ekstrem, akan tetapi fenomena ini mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Dieng. Tidak dipungkiri, banyak wisatawan yang penasaran dengan fenomena embun es ini. Akhir pekan ini banyak homestay yang sudah full dipesan, apalagi tanggal 1 Agustus besok obyek wisata Dieng resmi dibuka untuk umum. (Javi /berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response