Diam-Diam Amerika Cari Dukungan Hadapi Korut

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Diam-diam Amerika Serikat tengah menggalang dukungan komunitas internasional dalam menghadapi ancaman nuklir Korea Utara (Korut). Meski Amerika Serikat telah memberikan sejumlah sanksi dan meminta Cina untuk menjatuhak embargo minyak, namun tekanan itu tidak berpengaruh bagi Korea Utara.

Ketegangan kian meningkat di Semenanjung Korea setelah AS memperingatkan rezim Kim Jong-un akan 'hancur total' jika ngotot membangun persenjataan rudal nuklir jarak jauh yang dinilai memprovokasi respons militer. Namun, upaya pemimpin 'Negeri Paman Sam' itu untuk mengisolasi Kim, melumpuhkan ekonominya, dan memaksanya menegosiasikan pelucutan senjata sendiri gagal mencegah uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mencapai AS.

Washington mendesak tindakan keras dalam sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, Kamis (30/11). Presiden Trump mengeluhkan langkah tetangga dan sekutu utama Pyongyang, Tiongkok, yang gagal meyakinkan Kim untuk mundur dari ambisinya.
"Utusan Tiongkok, yang baru saja kembali dari Korea Utara, tampaknya tidak memberikan dampak pada sikap Little Rocket Man (Kim)," kata Trump, dalam sebuah komentar di Twitter, menggunakan istilah favoritnya untuk diktator Korut. "Sulit dipercaya rakyatnya dan militer bertahan dengan kondisi-kondisi yang buruk seperti itu," imbuhnya.

Denuklirisasi
Juru bicara Trump, Sarah Sanders, kemudian menjelaskan bahwa Gedung Putih tidak mengejar perubahan rezim di Korut, tetapi difokuskan pada 'denuklirisasi' Semenanjung Korea. Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengatakan Washington akan melakukan upaya 'tidak henti-hentinya' di bidang diplomatik, termasuk di hadapan Dewan Keamanan PBB, untuk membuat Pyongyang berlutut. "Diplomat-diplomat kita akan berbicara dari posisi yang kuat karena kita mengantongi pilihan militer," tegasnya. Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson yang bertemu pada Kamis (30/11) dengan rekan sejabatnya dari Jerman, Sigmar Gabriel, lebih berhati-hati dalam menanggapi Beijing.

Akan tetapi, dia menekankan pentingnya tindakan yang lebih keras lagi untuk mengurangi pasokan bahan bakar Korut. "Saya pikir Tiongkok berbuat banyak. Kami pikir mereka bisa berbuat lebih banyak dengan minyak dan kami benar-benar meminta mereka untuk menahan lebih banyak minyak, tidak memotongnya sepenuhnya," kata dia--sebuah langkah yang bisa menjadi pukulan yang melumpuhkan bagi ekonomi Pyongyang. Seruan Tillerson datang setelah Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengeluarkan peringatan keras untuk Dewan Keamanan PBB.

"Diktator Korea Utara mengambil pilihan kemarin yang membawa dunia makin dekat ke perang," ujarnya. "Jika perang terjadi, rezim Korea Utara akan hancur sepenuhnya." Namun, seruannya agar negara-negara 'memutuskan semua hubungan dengan Korut' ditolak Moskow. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Rusia melihat usulan tersebut 'secara negatif'. "Kami telah berulang kali menyatakan bahwa tekanan sanksi telah kehabisan tenaga," kata Lavrov kepada wartawan di Minsk. Korut mengatakan senjata baru mereka--rudal Hwasong-15--bisa mendarat di mana saja di Amerika Serikat. Prancis mengatakan Eropa juga berada dalam jangkauan. (bar/MI/AFP)

 

sam

No comment

Leave a Response