Di Indonesia, Banyak Yang Tak Mengenal National Standard Finance

 

Matamatanews.com, JAKARTA— Pengamat Ekonomi Islam Imbang Djaya memberikan pandangan terkait situasi dan kondiai ekonomi Indonesia saat ini. Menurutnya, saat ini situasi ekonomi, politik, sosial dan keamanan makin memburuk. Berbagai pihak berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluar dari Indonesia. Hal ini tercermin di Bursa Efek Indonesia. 

Berbagai pihak yang mencoba bertahan mencari-cari sumber dana cash yang mereka butuhkan, salah satu yang mereka kejar adalah NATIONAL STANDARD FINANCE (NSF) yang perwakilannya (SWISS KEY TRADING/SKPT) ada di Swiss untuk ASIA PACIFIC REGION. Di Indonesia, SKT mengangkat Eko Suharto, Presiden Direktur PT MONANGINDAH NUGRAHA (MNG), . 

Saat  ini pihak MNG (Eko Suharto) tengah menangani berbagai pihak yang mengajukan pinjaman untuk  proyek-proyek mereka. Bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari Malaysia, Brunei dan Filipina. 

"Prosesnya terus dikerjakan walaupun terganggu oleh pandemi covid-19, "kata Imbang. 

Lanjut Imbang, minimum pinjaman yg disediakan NSF adalah $100 juta dan maksimumnya $500 M. Calon peminjam yang paling besar dan sudah mengajukan Letter of Intent adalah pengusaha migas Filipina, dibawah mereka Brunei dan Malaysia. 

"Para calon peminjam tersebut sudah tahu NSF, jadi mereka tidak perlu diyakinkan atau dijelaskan. Sementara beberapa pihak di Indonesia masih tidak yakin dan tidak tahu mengenai NSF, oleh karena itu dengan sangat terpaksa pertanyaan-pertanyaan mereka tidak ditanggapi karena kesibukan Eko Suharto meningkat tajam belakangan ini,"  jelasnya. 

Bagi mereka yang mau meminjam dana dari NSF menurut Imbang, silahkan pelajari dan yakini dulu kemampuan NSF, Eko Suharto akan menanggapi jika peminjam sudah paham dan yakin semua hal terkait NSF. Perwakilan NSF bukan hanya untuk Indonesia, proses pinjaman NSF dilakukan di New York dengan hukum Amerika. 

"Jadi siapapun yang pinjam ke NSF akan diterapkan hukum Amerika, bagi mereka yang masih ragu  pada NSF sebaiknya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diinginkan langsung ke NSF, jangan ke perwakilannya di Indonesia, "lanjut Imbang. 

"Posisi saat ini adalah para pemilik proyek/usaha yang usahanya terdampak covid-19 butuh dana NSF, sedangkan NSF punya dana yang dibutuhkan, wajar jika perwakilan NSF tidak mau meladeni siapapun yang belum yakin atau belum paham mengenai NSF, "ujarnya. (Javi/Nusa)

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response