Demi Reformasi Ekonomi, Mesir Naikkan Harga Rokok

 

Matamatanews.com, KAIRO—Setelah mengalami penundaan, akhirnya Mesir jadi juga menaikkan harga rokok setelah perekonomiannya sempat  terhuyung-huyung lantaran adanya pemberontakan pada tahun 2011 lalu. Sejak Kamis ( 12/7/2018) harga rokok di Mesir resmi mengalami kenaikkan , dan pengumuman tersebut dikeluarkan oleh ketua produsen rokok terkemuka Mesir dalam sebuah wawancara di televisi pada Rabu malam.

Ketua Eastern Tobacco Company, Mohamed Haroun, mengatakan bahwa perusahaannya akan membebankan kenaikan berkisar 1,5 sampai 3 pound Mesir, atau sekitar 8 sampai 17 sen per bungkus rokok.Kenaikkan tersebut akan digunakan untuk membantu sistem layanan kesehatan baru dengan lebih dari 3 miliar pound Mesir  setiap tahunnya atau berkisar US$ 168 juta.

Menurut Haroun,setiap tahunnya penduduk Mesir sedikitnya mengkonsumi rokok sekisar  83 miliar, dan kenaikkan telah terjadi lima  kali antara tahun 2014 dan 2017. Dan belum lama ini di Mesir telah terjadi gelombang  kenaikan harga bahan bakar secara masif seperti, air minum, listrik, serta  saluran  telepon seluler dan tagihan telepon bulanan rumah. Harga penerbitan paspor dan izin mengemudi juga turut mengalami kenaikkan tajam.

Meski kenaikkan harga tersebut menurut pemerintah Mesir merupakan bagian dari reformasi ekonomi, namun dampak tersebut membuat kalangan  masyarakat menengah dan tidak mampu  semakin menderita dan menjerit. Reformasi yang dilakukan pemerintah Mesir, dianggap sejumlah kalangan pengusaha  terjadi sejak pemerintahan Mesir dipegang Presiden Abdel Fattah El-Sisi pada 2014, dan hasilnya sangat buruk.

Lonjakan harga dan pemotongan subsidi telah mempercepat pelepasan mata uang nasional pada tahun 2016 silam sebagai bagian dari langkah untuk memenuhi syarat pinjaman bailout tiga tahun berkisar US$ 12 miliar dari Dana Moneter Internasional guna mendukung program reformasi pemerintah Mesir.

Adapun langkah penghematan yang dilakukan Mesir, diantaranya pajak pertambahan nilai,bahkan belum lama ini El-Sisi mengatakan bahwa reformasi  telah menempatkan Mesir pada “jalur yang benar’  dan mendesak hingga butuh kesabaran. Di bagian lain, Perdana Menteri Mustafa Madbouly dalam pidatonya di parlemen mengatakan, bahwa dalam waktu dua tahun orang-orang harus mendapat manfaat dari program reformasi yang dijalankan tersebut. (manda)

sam

No comment

Leave a Response