Cina Semakin Terpojok Oleh Manuver Amerika dan Jepang

 

Matamatanews.com-JAKARTA—Cina tampaknya geram dengan manuver Amerika Serikat dalam isu sengketa Laut Cina Selatan.  Negeri kungfu panda itu juga menolak tekanan Amerika Serikat untuk mengurangi aktivitasnya di wilayah perairan yang menjadi rebutan dengan sejumlah negara tersebut. “ Negara-negara di luar Laut Cina Selatan harus memainkan peran konstruktif, bukan sebaliknya,” papar Panglima Angkatan Angkatan Laut Laksamana Sun  Jianguo dihadapan pertemuan puncak Konferensi  Tingkat Tinggi Keamanan Asia ke-15 di Singapura, Minggu (5/5/2016) lalu.

Pernyataan Sun,terkait ucapan Menteri Pertahanan Amerika Ash Carter sehari sebelumnya. Dalam pernyataannya Carter memperingatkan Cina untuk segera menghentikan reklamasi di sejumlah pulau di Laut Cina Selatan. “Bila berlanjut, Cina dapat terisolasi dari pergaulan internasional,” jelas Carter,serius.

Harus diakui, di bawah pimpinan Presiden Barack Obama, Amerika Serikat  begitu intens perhatiannya terhadap  kawasan Asia-Pasifik, termasuk dalam isu Laut Cina Selatan. Bahkan dalam sejumlah kesempatan, Amerika Serikat kerap memposisikan diri saling berhadapan dengan Cina yang dianggap tengah membangun kekuatan ekonomi politik dan militer di wilayah tersebut.
Konferensi Keamanan Asia Pasifik ke-15  atau Shangri-La Dialogue berlangsung dari 4 hingga 6 Juni 2016 lalu.

Konferensi keamana terbesar di Asia ini dihadiri 612 delegasi keamanan,militer, dan pemerintah dari negara-negara ASEAN,Eropa, Amerika Serikat, serta sejumlah negara lain di Asia, termasuk Cina. Konferensi yang digelar oleh International Institute for Startegic Studies ini membahas berbagai isu keamanan. Tapi seperti tahun lalu, isu Laut Cina Selatan kembali menjadi topik yang mendominasi pembicaraan. Dalam sengketa itu, Cina saling klaim dengan Filipina, Vietnam,Brunei,Malaysia, dan Taiwan.

Cina juga berebut panggung dengan Amerika Serikat dalam isu Cina Laut Selatan. Dalam setahun terakhir, dua kekuatan global itu kerap saling tuding. Cina dituduh memiliterisasi Laut Cina Selatan kawasan yang menjadi jalur perdagangan senilai US$ 4,5 triliun. Sebaliknya,Amerika meningkatkan patroli dan latihan militer di sekitar kawasan tersebut. Pada 24 Mei lalu, di sela lawatan ke Hanoi, Obama menyatakan Washington mendukung klaim teritorial Vietnam melawan Beijing di Laut Cina Selatan. Amerika yang telah mencabut embargo senjata terhadap Vietnam, berjanji memberikn akses persenjataan yang lebih besar.

“Di Laut Cina Selatan,Amerika Serikat tidak mengklaim kawasan.Tapi,kami akan mendukung rekan kami dalam menegakkan prinsip-prinsip utama,seperti kebebasan navigasi,” kata Obama dalam pidato di Hanoi. Posisi Cina kini semakin terpojok saat negara-negara G-7 ikut berkomentar . Dalam pertemuan di Ise-Shima,Jepang,akhir Mei lalu, para pemimpin negara anggota G-7,Kanada,Perancis,Jerman,Italia,Jepang Inggris, dan Amerika Serikat mengecam.

“Kami prihatin atas situasi di Laut Cina Selatan dan Timur, dan menekankan pentingnya manajemen sengketa,” demikian bunyi deklarasi bersama G-7. Menanggapi manuver Amerika Serikat di Vietnam  dan Jepang, Cina meradang. “Cina menentang setiap negara yang menunggangi isi Laut Cina Selatan untuk keuntungan pribadi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chungying. (Voa/Xinhua/The Guardian/ Reuters/ The Street Times/Koran Tempo/Samar)

 

sam

No comment

Leave a Response