Biksu Radikal anti Muslim Myanmar Ditetapkan Sebagai Tersangka

 

Matamatanews.com, RANGOON—Ashin Wirathu, biksu radikal Myanmar kelahiran Kyaukse 10 Juli 1968 yang  kerap memantik kebencian terhadap minoritas muslim Rohingya akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian Myanmar. Kepolisian menetapkan sang biksu sebagai tersangka bukan terkait dengan ujaran kebencian maupun hasutan, melainkan karena  dianggap telah mengancam hegemoni militer Myanmar.

Surat perintah penangkapan Wirathu seperti diungkapkan juru bicara kepolisian telah dikeluarkan pada Selasa (28/5/2019) lalu oleh pengadilan distrik di pusat kota Yangoon, namun Thu Soe tidak merinci lebih jauh isi perintah penangkapan tersebut.Di bagian lain juru bicara polisi di pusat kota Mandalay mengaku belum menerima surat penangkapan dari pengadilan untuk sang biksu,dan seperti diketahui Mandalay merupakan markas Wirathu.

Selama ini Ashin Wirathu dikenal sebagai seorang pemimpin spiritual dari gerakan anti-Muslim di Myanmar, dan ia juga dikenal sebagai pemberi inspirasi terhadap penindasan Muslim malalui berbagai pidatonya di depan publik, meski pun dirinya mengklaim sebagai seorang biksu yang cinta damai dan tidak pernah menganjurkan kekerasan.

Sepak terjangnya sebagai orang yang mengklaim cinta damai  pada akhirnya luntur,bahkan Ashin Wirathu lambat laun dikenal sebagai orang yang sering mengumbar kebencian terhadap minoritas Muslim Rohingya dan ia membenarkan operasi militer di Rakhine hingga menyebabkan ratusan ribu Muslim maupun warga lokal tercerabut nyawanya.Dalam unjukrasa yang digelar belum lama ini, Wirathu menuding pemerintah Myanmar korupsi dan mengkritiknya karena mencoba mengubah konstitusi yang akan memangkas kewenangan militer.

"Tuduhan hasutan ini merupakan perundungan baginya," ujar Thu Saitta, sekutu Wirathu, kepada kantor berita Reuters. "Kami tidak akan mengatakan apa yang akan kami lakukan jika dia ditangkap, tetapi kami tidak akan tinggal diam

Wirathu adalah yang paling menonjol di antara para bhikkhu nasionalis yang bobot politiknya meningkat di Myanmar sejak transisi dari pemerintahan militer mulai tahun 2011. Pada 2013 dia menggelar road show keliling Myanmar dan mengkampanyekan betapa warga muslim gemar memerkosa perempuan atau melecehkan agama Buddha.

"Muslim seperti ikan mas Afrika. Mereka berproduksi dalam waktu cepat dan mencintai kekerasan. Dan mereka menyantap anak sendiri. Meski mereka di sini minoritas, kami menderita di bawah beban yang mereka bawa ke sini," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan GlobalPost saat itu.

Jawatan  agama tertinggi Myanmar melarang Wirathu berkhotbah selama setahun hingga awal tahun lalu, dengan alasan khotbahnya mengandung penyebaran kebencian. Dia sering menjadikan kaum muslim Rohingya sebagai target, di mana lebih dari 700.000 di antaranya telah melarikan diri dari penumpasan tentara di negara bagian Rakhine pada tahun 2017, yang oleh para penyelidik PBB disebutkan sebagai kasus yang dilakukan dengan "niat genosidal".

Wirathu menghadapi kemungkinan pasal tentang penyebaran "kebencian atau penghinaan" dengan ancaman hukuman penjara hingga tiga tahun. (cam/afp/ap/dw)

sam

No comment

Leave a Response