Berakhir, KTT Pertama Taliban – Amerika Serikat di Doha

 

Matamatanews.com, DOHA—Hari Minggu (10/10/2021) kemarin, seperti dilansir Daily Sabah dari Al Jazeera, Pertemuan Tingkat Tinggi (KTT) antara  perwakilan Taliban dan delegasi Amerika Serikat di Doha, Qatar telah berakhir.

pertemuan itu kata Menteri Luar Negeri di kabinet sementara Taliban, Amir Khan Muttaqi membahas hubungan bilateral antara Kabul dan Washington, pelaksanaan perjanjian Doha, bantuan kemanusiaan, dan aset Afghanistan yang dibekukan oleh pemerintah Amerika Serikat.

“kami dengan jelas mengatakan kepada mereka bahwa mencoba mengacaukan pemerintah di Afghanistan tidak baik untuk siapa pun,” kata Muttaqi kepada kantor berita Afghanistan Bakhtar.

Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan bahwa pertemuan dengan  delegasi Taliban tidak mengangkat masalah pengakuan pemerintah Taliban.Sementara itu, pihak berwenang Qatar sejauh ini belum bisa mengomentari hasil pertemuan Taliban – Amerika Serikat.

Sementara itu, penjabat Menteri Informasi dan Kebudayaan dan juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan delegasi Afghanistan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dan membahas hubungan bilateral mereka dan proyek ekonomi di Afghanistan.

Taliban mendapatkan kembali kendali atas Kabul pada 15 Agustus setelah pemerintahan sebelumnya yang didukung Barat runtuh dan para pejabatnya melarikan diri dari negara yang dilanda perang itu.

Taliban sebelumnya memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001 ketika pasukan asing pimpinan Amerika Serikat menyerbu negara itu untuk mencari al-Qaida dan kelompok teroris lainnya.

Pendudukan Amerika Serikat selama dua dekade di Afghanistan memuncak dalam pengangkutan udara yang terorganisir secara tergesa- gesa pada Agustus yang menyebabkan lebih dari 124.000 warga sipil, termasuk Amerika, Afghanistan, dan lainnya, dievakuasi saat Taliban mengambil alih. Tetapi ribuan warga Afghanistan sekutu AS lainnya yang berisiko mengalami penganiayaan Taliban tertinggal.

Washington dan negara-negara Barat lainnya bergulat dengan pilihan sulit karena krisis kemanusiaan yang parah membayangi Afghanistan. Mereka mencoba merumuskan bagaimana terlibat dengan Taliban tanpa memberikan legitimasi yang dicarinya sambil memastikan bantuan kemanusiaan mengalir ke negara itu.

Banyak orang Afghanistan mulai menjual harta benda mereka untuk membayar makanan yang semakin langka.Menurut Bank Dunia, kepergian pasukan pimpinan Amerika Serikat dan pendonor internasional merampas negara dari hibah yang membiayai 75 persen dari pengeluaran publik.(esma)

redaksi

No comment

Leave a Response