Banyumas Targetkan "Goes To Zero Thalassemia" Pada 2023

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengungkapkan salah satu diantara kegiatan untuk mencapai target "Banyumas Goes to Zero Thalassemia 2023" yakni digelarnya Grand Final Lomba Penyuluhan Kader PKK se Kabupaten Banyumas dengan tema "Pencegahan Thalassemia". Acara diadakan di Gedung A Fakultas Kedokteran Unsoed Purwokerto pada Sabtu (16/11/19) mulai pukul 09.00 sampai selesai. 

Saat perbincangannya dengan Konseptor Bulan Thalassemia Banyumas Dr.dr.Lantip Rujito,M.Si.Med. diungkapkan bahwa peserta Lomba Babak Final adalah kelompok kader PKK yang sudah menjalani seleksi tahap I pada tanggal 08 November 2019. 

"Dari 27 Tim Penggerak PKK Kecamatan se Kab.Banyumas terpilih 6 untuk maju dalam grand final yaitu Kec.Purwokerto Barat, Kec.Purwokerto Selatan, Kec.Purwojati, Kec.Lumbir, Kec.Kembaran, dan Kec.Banyumas, " jelasnya.

Dr.dr Lantip yang juga Ketua Litbang Yayasan Thalassemia Indonesia memaparkan bahwa masing-masing kader PKK kecamatan terdiri atas kader-kader PKK dari desa di wilayah kecamatan tersebut. Adapun lomba akan dibuka oleh Ibu Erna Setyawati Husein selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kab.Banyumas. Selain sebagai juri lomba Dr.dr.Lantip, juga akan dihadiri 4 Juri lainnya yaitu dari PKK, Sub Komunikasi Pemkab. Banyumas, dan Ketua YTI Pusat Jakarta.

"Lomba Penyuluhan akan menampilkan performa kader dengan fokus pencegahan thalassemia, dan dinilai atas kreatifitas penampilan, keutuhan konten/materi penyuluhan, perlengkapan penyuluhan, dan kekompakan tim PKK, " tambahnya.

Dr.dr.Lantip yang juga anggota Asian Federation of Biotechnology (AFOB) menjelaskan bahwa Thalassemia adalah kondisi atau penyakit anemia yang bersifat diturunkan atau berasal dari penyebab genetik. Anemia pada kasus thalassemia menurutnya, dibawa sejak lahir akibat tubuh si anak tidak mampu mensintesis zat warna merah atau hemoglobin (Hb) secara normal. 

"Pada keadaaan sehat dan normal tubuh seseorang dapat mensintesis hemoglobin dengan kadar di atas 12 mg/dL. Pada thalassemia, kadar Hb dapat turun di bawah 7 mg/dL, bahkan drop sampai di bawah 5 mg/dL. Sampai saat ini belum ada pengobatan definitif yang bersifat masal yang dapat diterapkan kepada penyandang thalassemia, " terangnya.

Dr.dr Lantip menambahkan transfusi darah dilakukan kepada penyandang sejak usia awal tahun sekitar umur 6 bulan sampai 1 tahun sesuai dengan berat penyakitnya. Transfusi ini berlangusng setiap bulan, bahkan ada yang setiap 2 mingggu selama hidupnya, atau seumur hidup. 

"Tidak heran jika terapi suportif ini menelan sangat banyak biaya. Untuk penanganan optimal, tak kurang 10-15 juta per bulan dikeluarkan oleh BPJS dan keluarga untuk penanganan pasien thalassemia, " jelas Dr.dr.Latip.

Dr.dr.Latip yang juga anggota Indonesia Society of Human Genetics menjelaskan bahwa secara jumlah, pasien thalasemia di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dan di Indonesia pada umumnya tidak begitu banyak, “hanya” 500-an orang di Kab.Banyumas, dan 10 ribuan orang yang teregister di Indonesia. Namun menurutnya, dengan terapi yang rutin perbulan dan berlangsung seumur hidup, beban keuangan yang ditanggung oleh seluruh sistem BPJS ada pada urutan ke 4 atau ke 5 secara nasional, dengan angka mencapai Trilyun sejak awal BPJS dicanangkan. Maka kata Dr.dr.Latip tidak heran, pernah ada “ISU” bahwa penyakit katastropik termasuk Thalassemia akan dihentikan pembiayaannya.

Menurut ahli Biologi Molekuler dan juga ahli Molecular Genetics dari FK Unsoed ini menjelaskan bahwa Indonesia secara "nature"nya, termasuk dalam wilayah yang disebut dengan sabuk thalassemia, sehingga tidak heran angka pembawa sifat atau individu yang membawa mutan gen thalassemia berada di angka 3 - 10 %. 

"Artinya adalah dari 100 orang yang nampak sehat, 10 orang di antaranya berpotensi memiliki gen penyebab penyakit thalassemia. Sepuluh orang ini disebut sebagai karier atau pembawa sifat. Individu ini disebut juga dapat dinamakan dengan thalassemia minor, "ungkapnya.

Pada Thalassemia minor menurutnya, kondisi tubuhnya nampak sehat saja dan terlihat sama dengan orang sehat pada umumnya. Namun masalah akan timbul jika individu thalassemia minor menikah dengan indiividu thalassema minor. Hal ini disebabkan, karena dari pernikahan inilah dapat timbul anak dengan thalassemia mayor atau anak dengan penyakit thalassemia yang membutuhkan perawatan dan transfusi sejak usia dini. 

Dia menjelaskan pada masa dulu, usia harapan hidup pasien thalassema ada pada rentang usia 5 - 12 tahun. Namun sekarang dengan tranfusi rutin dan obat "kelasi besi" rutin, pasien dapat bertahan hingga usia dewasa. 

"Namun ada sisi negatif lainnya dari optimalisasi perawatan pasien ini, yaitu bengkaknya beban finansial yang harus ditanggung oleh BPJS (artinya masayarakat umum) dan keluarga thalassemia itu sendiri, " imbuhnya.

Dengan mengetahui implikasi ini, maka Dr.dr.Lantip yang juga anggota Ikatan Dokter Indonesia menyatakan bahwa tidak ada "pengobatan" lain yang harus dilakukan selain PENCEGAHAN. 

"Pencegahan seharusnya sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk menggulirkan dalam bentuk program nasional. Namun, sampai saat ini dengan berbagai pertimbangan program pencegahan ini belum menjadi prioritas oleh pemerintah pusat, " tambahnya.

Menurut peneliti Genetics Modifier for Thalassemia ini menjelaskan bahwa Banyumas memiliki Yayasan Thalassemia Indonesia yang bersifat non profit dan bersifat Voluntary, tergerak untuk melaksanakan program pencegahan dalam lingkup lokal dengan menggandeng berbagai stakeholder. 

"Pemerintah Kab.Banyumas dalam hal ini berupaya agar program pencegahan ini menjadi "trademark" nya Banyumas dan menjadi Pilot Project dan percontohan secara nasional. Seperti diketahui saat ini program Bulan Thalassemia Banyumas menjadi satu-satunya program pencegahan thalassemia yang ada di Indonesia, " katanya bangga.

Menurutnya Program Bulan Thalassemia Banyumas 2019 memiliki target di antaranya adalah : 

1. Tersosialisasinya program penceghan thalassemia bagi warga Banyumas,

2. Setiap kader PKK di Banyumas memiliki penyuluh terkait dengan program pencegahan thalassemia,

3. Setiap Anak SMA/SMK di Banyumas terpapar dengan pengatahuan apa itu thalassemia dan cara menghindarinya,

4. Skrining 1.000 pelajar SMA/SMA se Banyumas bekerja sama dengan Prodia,

5. Sosialisasi thalassemia melaui Radio, TV, dan Media Sosial.

6. Lomba Penyuluhan kader PKK se Banyumas dengan tema "Pencegahan Thalassemia".

7.Charity of Thalassemia dngan konser TULUS dari Jakarta pada tgl 30 Nop 2019.

Seperti diketahui pencanangan gerakan sadar thalassemia melalui Bulan Thalassemia Banyumas  ini dilakukan oleh Bupati Banyumas Achmad Husein pada tgl 1 November 2019. 

"Unsoed sebagai bagian dari konseptor dan pelaksana kegiatan Banyumas Goes to Zero akan terus bergandengan tangan dengan stakehodler lainnya dalam rangka pencegahan thalassemia di wilayah Banyumas, "papar Dr.dr.Lantip.

Perihal spanduk yang terpasang di lingkungan Kantor Pusat Administrasi Unsoed, bertuliskan "Periksa Darah Anda Sebelum Menikah" Dr.dr.Lantip menjelaskan bahwa,

1. Thalassemia mayor atau orang yang menderita sakit thalassemia, lahir dari orang sehat pembawa gen thalassemia menikah dengan sesama pembawa sifat,

2. Dengan mengecek darahnya untuk diskrining, akan memberi petunjuk lebih lanjut apakah hubungan itu sebaiknya dilanjutkan atau di "cancel",

3. Jika dua-duanya normal, atau hanya satu yang membawa gen thalassemia, maka silahkan dilanjutkan menikah. Jika dua-duanya adalah pembawa gen, maka sebaiknya 'berteman' saja.

4. Skrining pembawa gen thalassemia bisa mulai dari yang murah. Cek darah lengkap lihat Hb, MCV, MCH : biayanya sekitar 50 - 60 ribu rupiah. Cek darah ini dapat dilakukan di Puskesmas atau lab-lab swasta lainnya. Jika kurang dari normal dapat melakukan cek lanjutan yaitu Hemoglobin Elektroforesis di Rumah Sakit Margono, Purwokerto - biayanya 370 ribu rupiah untuk memastikannya,

5. Jika darah lengkapnya normal maka tidak perlu tes lanjutan.

Mengenal Sosok Dr.dr.Lantip Rujito,MSi.Med. 

Dr.dr.Lantip lahir di Kebumen pada 04 November  1978. Organisasi Profesi Dr.dr.Lantip diantaranya Ikatan Dokter Indonesia sebagai anggota, Indonesia Society of Human Genetics  sebagai anggota, Asian Federation of Biotechnology (AFOB), anggota, dan Yayasan Thalassemia Indonesia sebagai Ketua Litbang.

Judul - judul penelitian Dr.dr.Lantip diantaranya Banyumas Goes to Zero Thalassemia 2030, Pencegahan Thalasemia Banyumas, Biomarker komplikasi Thalassemia, Genetics Modifier for Thalassemia. Adapun Bidang Keahlian Dr.dr.Lantip meliputi  Genetika,. Molecular Genetics, Biologi Molekuler. *(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response