Balita Tanpa Anus Butuh Perhatian Pemerintah

 

Matamatanews.com, Sampit—Muhammad Rizki, balita berumur 2 tahun 6 bulan ini kondisinya kian memprihatinkan dan butuh perhatian serius dari pemerintah. Anak bungsu dari pasangan Anjas (43) dan Rubiyatun (45) ini lahir dengan kondisi normal, tidak menunjukan kelainan pada umumnya. Namun keadaan tersebut tidak berlangsung lama, “ Sewaktu lahir, langsung kami bawa pulang ke rumah. Pada awalnya kami tidak begitu memperhatikan. Namun setelah beberapa hari berlalu perutnya membesar dan tidak juga BAB ( buang air besar). Akhirnya kami membawanya ke dokter untuk di periksa, baru ketahuan ternyata lubang anusnya tidak ada,” kata Rubiyatun.

Kondisi tersebut membuat pasangan ini merujuk sang buah hati ke RSUD Dr. Murjani di Sampit,Kalimantan Tengah. Karena keterbatasan alat, Rizky akhirnya dibawa ke Palangka Raya untuk operasi pertama. Usus besarnya dikeluarkan agar bisa buang air besar (BAB). Setelah sukses operasi pertamanya, Rizky harus menjalani operasi kedua, untuk membuat lubang anus.

Menurut sang bunda (Rubiyatun), Rizky akan menjalani operasi ketiganya, operasi ini untuk memasukkan kembali ususnya yang dikeluarkan, untuk disambungkan ke lubang anusnya. Operasi pertama yang dilakukan, Rubiyatun menggunakan biaya sendiri. Setelah operasi selesai, pihak rumah sakit menyarankan agar mendaftarkan Rizky ke BPJS. Setelah terdaftar, operasi saat ini gratis. Namun untuk biaya transportasi dan lainnya selama pengobatan masih menggunakan biaya sendiri.

Karena keterbatasan ekonomi, keluarga yang tinggal di Jalan Platan 3 nomor 24 ini tidak hanya mengandalkan BPJS. Namun sangat mengharapkan bantuan dan perhatian pemerintah setempat, untuk melakukan operasi yang ketiga. Saat ini sang ayah, Anjas  hanya bekerja sebagai buruh bangunan, ditambah keempat anaknya yang masih bersekolah dan membutuhkan biaya ekstra.

Selama berada dirumahnya, Rubiyatun merawat anaknya dengan obat seadanya. Dia menggunakan perban, lem, tisu, popok dan salep. Benda-benda tersebut digunakan untuk menutupi usus besar anaknya yang dikeluarkan, sekaligus menjadi wadah kotoran. Dan salep yang ia gunakan supaya dipinggir-pinggir usus tidak gatal-gatal.

Kini Anjas dan Rubiyatun menumpang di salah satu kamar dari bagian dapur milik keluarganya tanpa dikenakan sewa. Kondisi rumah tersebut tidak layak untuk merawat balita . Pada saat di kunjungi matamatanews.com, kedua orangtua Rizki, tabah dan ikhlas menerima keadaan anaknya. “Saat ini sejumlah komunitas yang ada di Kota Sampit bergerak untuk menggalang dana bagi Muhammad Rizky. Karena jika mengharapkan bantuan pemerintah, kapan balita ini bisa di operasi?” ujar Hj.Saudah salah satu warga yang turut bersimpati kepada keadaan Rizky. Akankah nasib Rizky berubah dan hanya tergolek menerima nasib tanpa perhatian dan bantuan pemerintah? Inilah saatnya pemerintah setempat membuktikan jargon sebagai pengabdi rakyat dengan kucuran dan perhatian yang serius,terutama terhadap masyarakat kecil yang tengah membutuhkan  bantuan. (Parlin.S/Yudi F)

sam

No comment

Leave a Response