Bagaimana Caranya Agar Indonesia Bisa Mandiri Tidak Selalu Bergantung Pada Asing?

Matamatanews.com, JAKARTA - Kristalina Georgieva Direktur Pelaksana IMF meramalkan ekonomi dunia masih tidak menentu di tahun 2021, hal yang sama juga dinyatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. 

"Jadi artinya tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada sektor ekonomi di tahun ini, artinya adalah  semua perkiraan-perkiraan yang ada tidak pasti terealisasi alias "gimana nanti saja"," kata Pengamat Ekonomi Islam Imbang Djaya.

Dikatakan Imbang, pemerintah benar - benar sangat kewalahan menghadapi dampak Pandemik Covid-19 ini, sehingga ‘terpaksa’ sering melakukan perubahan kebijakan untuk mengatasi berbagai masalah yang tidak habis - habisnya. 

"Para menteri juga pusing dan gagap, mereka harus bekerja sangat keras dengan anggaran yang sangat terbatas, sehingga banyak program yang harus dikorbankan agar kementerian tetap bisa membayar gaji karyawannya," ulas Imbang. 

Dalam acara Cek Ombaknya Susi Pujiastuti di Metro TV, Menteri Perdagangan  Muhammad Luthfi mengaku ambil posisi sebagai ‘hakim’ yang menengahi para pihak yang berkecimpung dalam urusan perdagangan. M. Luthfi berusaha menjadi hakim yang mampu membuat semua pihak merasa menang dan puas. 

Posisi tersebut sangat melelahkan, karena banyak sekali pihak yang harus ditengahi, termasuk mereka yang terkait dengan perdagangan daging, kedelai dan cabe rawit merah yang saat ini sedang bermasalah karena harganya naik secara drastis.

"Tiap komoditas punya masalah beda - beda, termasuk masalah beras, gula, minyak goreng dan lain sebagainya. Para pedagang kecil yang terdiri dari sekitar 12 jutaan pedagang pasar tradisional dan kaki lima mengaku mengalami penurunan omzet sampai 70 persen, hal ini akibat daya beli masyarakat anjlok sekali,  karena berbagai warung dan restauran banyak yang tutup," paparnya. 

Imbang menambahkan, masalah ini semua ditambah lagi dengan keadaan ekonomi global yang tidak menentu membuat kita semua harus sangat waspada. Dana IMF hanya $ 250 milyar per tahun, lembaga pemberi hutang yang dikontrol Amerika ini akan mengutamakan tuan - tuan besarnya, akibatnya negara miskin akan makin miskin dan yang kaya belum tentu membaik. 

"Memang ini kenyataan pahit yang harus dijalankan. Pemerintah yang harusnya memerintah dan menjadi regulator, terpaksa mengambil posisi sebagai HAKIM. Hal ini juga mengkonfirmasi betapa lemahnya kemampuan pemerintah, sehingga tidak bisa apa - apa selain jadi penengah antar pihak yang berhadapan," ujarnya.

APA SOLUSI YANG TERBAIK ??

Ia menjelaskan, dalam hal mengelola negara, pemerintah dan DPR kita anggap sudah bekerja semaksimum kemampuannya. Memang masih ada beberapa menteri yang tidak jelas apa kontribusinya, tapi menteri - menteri ekonomi kelihatannya sudah paham apa akar masalah dan bagaimana cara mengatasinya. Walaupun sudah tahu cara mengatasi masalahnya, pemerintah tetap tidak pernah bisa mengatasi masalah tersebut, kendalanya adalah alat untuk mengatasi masalahnya adalah uang yang besar jumlahnya, sementara pemerintah tidak punya dana yang besar.

Menurut Sri Mulyani ekonomi akan membaik (rebound) pada kwartal 2 tahun ini. Pertumbuhan PDB kita diramalkan sekitar 5 persen, tapi hal ini hanya bisa terjadi jika kita bisa punya dana investasi atau mendatangkan investor yang mau tanam 5900 triliun. Jika tidak ada investasi sebesar itu maka pertumbuhan ekonomi kita malah bisa tetap minus.

BAGAIMANA CARA MENDAPATKAN 5900 TRILYUN RUPIAH??

"Hanya Allah Subhanahu wa ta'ala  yang tahu cara mendapatkan dana sebesar itu. Dana 5.900 triliun rupiah atau dalam US dollar sekitar 400 miliar dolar, jauh lebih besar dari dana yang didapat IMF dari iuran anggotanya yang hanya 250 miliar dolar per tahun. Jadi pemerintah harus bisa menuntaskan mission impossible tersebut jika ingin mencapai targetnya. Sementara Pandemik Covid-19 diperkirakan baru mereda pada th 2022," kata Imbang. 

Imbang menginformasikan bahwa ia mungkin bisa memberi masukan, ia diberitahu oleh beberapa sahabat yang punya akses ke berbagai sumber dana bahwa mereka bisa membantu pemerintah untuk mendapatkan dana besar (bisa sampai 500 miliar dolar/sumber dana). Menurut mereka dananya pasti ada dan bisa diverifikasi oleh pemerintah. Persyaratannya bisa dirundingkan dan insya Allah pemerintah bisa memenuhinya. Ia secara pribadi tidak pernah membuktikan keberadaan dana tersebut, tapi berbagai negara dan pasar uang dunia bisa bersaksi bahwa dana - dana tersebut benar - benar ada dan disimpan di bank - bank prima dunia. 

Imbang menyarankan pada para sahabat yang masih aktif di pemerintah atau yang punya akses pada pejabat terkait di pemerintah, segeralah memverifikasi dana - dana tersebut, karena jika kita sampai terlambat mengantisipasi masalah dana besar ini, sehingga kas negara kosong, maka yang rugi adalah seluruh bangsa dan negara Indonesia karena negara akan lumpuh, semua orang akan pakai segala cara untuk bertahan hidup, termasuk dengan cara anarkis. Sementara TNI dan POLRI tidak bisa berbuat apa - apa karena tidak punya dana operasinya.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala menolong kita dan memberi solusi secepatnya. Aamiin Yaa Robbal Alamiin. (Javi)

 

redaksi

No comment

Leave a Response